Category Archives: Environment

Mitos Orang Dayak

Setiap saya menjawab pertanyaan tentang Kalimantan Timur, tempat saya bekerja untuk enam tahun terakhir. Pasti ada saja yang mewanti-wanti saya untuk berhati-hati terhadap suku Dayak. “Suku dayak perempuannya cantik-cantik, tapi jangan sampai kamu mempermainkannya bisa kena teluh, burungmu bakal hilang dan dipaku di atas pintu rumahmu” begitu kata beberapa teman.

Bontang tempat saya bekerja selama 6 tahun terakhir ini adalah Kota kecil di pesisir Kalimantan Timur. Kota ini adalah kota Industri dan kota para pendatang. Menurut penelitian (Setyanto & Loisa) berdasarkan sensus penduduk Kalimantan Timur di Bontang, etnis dominan di Bontang adalah Jawa 30%, disusul Kutai 19% dan Bugis 18%. Sedangkan etnis dayak hanya 10% dari seluruh penduduk Bontang.

Selama enam tahun hidup di Bontang, jarang sekali saya berinteraksi dengan orang Dayak. Kebanyakan justru orang Jawa, Bugis, dan Kutai. Jadi sebetulnya teman saya tersebut tidak perlu kuatir dengan saya yang kena teluh orang dayak, jika apa yang ditakutkan itu benar.

Di Dunia ini banyak hal yang sulit untuk dijelaskan dengan akal sehat. Mantra dan sihir adalah salah satunya. Saya belum pernah dan tidak ingin mengalami hal-hal yang berkaitan dengan mantra-mantra dan sihir tersebut. Mungkin saja teluh itu benar-benar terjadi, namun saya memilih untuk tidak mempercayainya. Mempercayai teluh membuat kita pretensius dan tidak produktif. Bagaimana anda bisa bergaul dengan orang suku lain apabila anda takut kena teluh dan sihir. Sikap pretensius malah akan membuat anda curiga, dan akhirnya mengisolasi anda dari dunia luar. 

Saya adalah orang yang skeptis dan sulit mempercayai sesuatu jika tidak ada landasan ilmiahnya atau mengalaminya sendiri. Problem tentang mitos orang Dayak ini menurut saya terlalu lebay dan dibesar-besarkan. Kalau benar mitos tentang suku dayak ini, harusnya ketika penjajah eropa datang ke daratan Kalimantan tidak terlalu sulit untuk mengusirnya. Tinggal ambil “burung”nya dan tempel saja di geladak kapal, pasti mereka sudah kabur ke negara asalnya dan kapok datang ke Kalimantan. 

Buku Antalogi The Best of Borneo Travel yang disusun oleh Victor T King, seorang peneliti studi Asia Tenggara,   mengumpulkan berbagai catatan perjalanan penjelajah kalimantan dari Eropa dari tahun 1700 – 1900an. Dalam buku itu, saya tidak menemukan cerita tentang teluh  pada antalogi tersebut, mungkin yang paling seram adalah kebiasaan suku dayak untuk memenggal kepala lawan dan menyimpannya sebagai semacam memorabilia, itupun tidak dengan pedang yang tiba-tiba terbang, tapi dengan pertarungan.

Selain dayak sebetulnya ada lagi orang asli Kalimantan yaitu melayu. Melayu biasanya tinggal di Pesisir. Melayu pandai berdagang dan segera saja mampu mengorganisasi masyarakatnya menjadi Kerajaan-kerajaan besar seperti Kesultanan Banjarmasin & Kesultanan Brunei. Sedangkan Dayak yang hidup nomaden serta mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhannya, sulit untuk mengorganisasi diri menjadi kerajaan besar.

Karena hidup dari kemurahan alam, yaitu berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak amat menghargai alamnya. Agama yang berkembang di suku dayak adalah agama pagan, sebelum misionaris masuk untuk menyebarkan agama kristen. Agama Pagan adala agama “Bumi” yang menghormati alam. Karena kental dengan agama “bumi” yang penuh mantra-mantra dan sihir, saya menduga kita jadi membuat mitos-mitos sendiri tentang suku Dayak yang eksotis.

Orang Dayak sebetulnya lebih terancam keberadaannya daripada saya yang terancam kena teluh. Orang dayak lebih rentan terkena mantra dan teluh yang jauh lebih sakti bernama kapitalisme dan modernisme. Karena terbiasa hidup nomaden dan hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan, suku dayak terlambat untuk beradaptasi dengan kehidupan modern,  bertani dalam skala besar, mengorganisasi masyarakat, dan belajar dalam bentuk formal. Akibatnya mereka lebih terbelakang dari etnis lainnya dan sulit mengejar ketertinggalan.

Saya jadi berpikir, seharusnya tetua-tetua suku dayaklah yang harus mengingatkan anak cucu mereka untuk hati-hati kena teluh kapitalisme dan modernisme ketika mereka mencari uang atau menimba ilmu di Kota. Karena, itu jauh lebih berbahaya daripada “burung” yang dipaku di pintu rumah. 

Job Shadowing

Sebagai bagian dari program Climate Leadership +, program keren yang diprakarsai oleh CCROM IPB dan GIZ jerman, saya harus melakukan job shadowing terhadap peserta lainnya. Apa itu shadowing? shadowing adalah kegiatan mengikuti orang lain selama satu periode selama orang tersebut bekerja. Tujuannya adalah agar kita bisa merasakan bagaimana berada di posisi seseorang dan mendapatkan ide-ide segar dan pembelajaran yang berharga.

Tapi sebelumnya saya akan ceritakan bagaimana saya bisa ikut program keren ini. Beberapa bulan lalu, kenalan saya di training pencemaran udara bbm menawarkan training tentang perubahan iklim. Gratisan katanya. Mendengar kata gratis, saya bersemangat. Maklum, perusahaan pupuk yang katanya terbesar di Asia Tenggara tempat saya bekerja ini sedang giat-giatnya memotong anggaran, termasuk training. Singkat cerita, mendaftarlah saya dan tidak lama kemudian saya diundang untuk wawancara. Saya sebenarnya tidak menyangka prosesnya akan seserius ini. Apalagi topiknya tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Citarum dan Kapuas yang tidak saya kuasai dan saya juga bukan stakeholder di dua DAS tersebut. Entah kenapa pada akhirnya saya berhasil diterima mengikuti program training yang cukup panjang ini. Mungkin panitia kasihan terhadap saya yang jarang mendapat pengetahuan baru dan teman-teman baru. Training pertama dilaksanakan di Bogor, dan seperti yang saya duga, materinya top, fasilitatornya keren, dan pesertanya hebat-hebat.

Kembali lagi ke shadowing, Saya ngintil atau shadowing teman saya yang bekerja di Hivos, LSM internasional di Kemang. Sejak awal saya memang tertarik mengetahui pekerjaan sehari-hari LSM, selain itu, kawan ini punya latar belakang yang menarik. Jadilah saya menghubungi dia untuk shadowing ketika saya kebetulan dinas di Bogor. Saya sampai bela-belain nginap di seputaran Kemang supaya tidak repot mencari kantornya  keesokan hari.Saya cukup terkejut juga karena teman ini langsung bilang oke pas saya bilang mau shadowing dia keesokan harinya. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada yang mau shadowing saya di kantor tapi bilangnya sehari sebelum, pasti saya tolak.

Tiba di kantor Hivos, saya langsung dikenalkan kepada Direktur Regional Asia Tenggara. Ternyata kawan saya ini belum bilang ke bosnya kalau saya akan shadowing dia di Kantor. Dan yang lebih mengagetkan lagi, si Direktur sama sekali tidak keberatan dan malah mengajak saya untuk rapat bareng dia untuk melihat apa sebenarnya kerja Hivos. Menarik sebetulnya, namun saya terpaksa menolak dan bilang bahwa saya hanya akan shadowing kawan saya, bukan mengetahui dengan detail aktivitas organisasi.

Hivos Indonesia memiliki dua program utama yaitu open dan green. Open misinya untuk mempromosikan kebebasan, akses ke teknologi informasi dan kesetaraan gender. Sedangkan green adalah kegiatan untuk mempromosikan energi terbarukan dan proses agrikultur yang ramah lingkungan. Nah kawan saya ini sedang bekerja untuk mengembangkan penggunaan energi terbarukan dalam suatu proyek yang bernama Sumba Iconic Island. Targetnya cukup ambisius yaitu Sumba menjadi pulau yang menggunakan 100% energi terbarukan pada tahun 2025. Nah, pekerjaan sehari-hari kawan saya mengawal program tersebut agar bisa tercapai.

Saya melihat perbedaan utama antara LSM dan perusahaan adalah keterbukaannya. LSM sudah menjadi naturenya sangat terbuka. Karena reputasi mereka dibangun dari keterbukaan tersebut. Bagaimana mereka bisa memperoleh pendanaan bila tidak terbuka?  Makanya mereka sangat welcome terhadap saya, walaupun tidak mengetahui maksud kedatangan saya ke sana. Sangat berbeda dengan nature perusahaan yang menghormati confidentiality atau kerahasiaan.

Saya juga melihat teman-teman LSM sangat easy going, asik dan kreatif. Mereka terbiasa bersinggungan dengan masyarakat dan pemerintah sehingga membuat mereka mudah menempatkan diri dan tidak kaku. Mereka juga bekerja dengan anggaran terbatas sehingga membuat mereka kreatif untuk mengatasi anggaran cekak. Mereka juga memiliki akses ke metode-metode bekerja terbaru, sehingga saya merasa seperti seekor dinosaurus di tempat kerja mereka.

Selepas shadowing saya harus mewawancarai kawan ini untuk menggali lebih jauh tentang pengalaman dirinya, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan harapannya. Tidak elok rasanya saya kalau beberkan hasil wawancara saya. Namun bisa dibilang saya mendapat banyak inspirasi dan pembelajaran dari kawan saya ini. Saya bisa melihat potensi LSM  dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup. Saya juga semakin yakin, di masa ini bukanlah persaingan yang menjadi kunci mengatasi permasalahan, melainkan kolaborasi. Inilah yang membuat saya bersyukur bisa ikut training Climate Leadership + yang pesertanya berasal dari LSM, pemerintah, dan perusahaan.

Sekeren-kerennya program Hivos, saya masih percaya bahwa there is no free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Saya ingin mengetahui agenda di balik program Hivos. Makanya sebelum menuntaskan shadowing hari itu, saya ingin mewawancarai direktur regional Hivos untuk menanyakan apa sih sebetulnya motivasi Hivos berada di Indonesia? Apakah, 1. untuk memulihkan nama Belanda yang dicap sebagai penjajah serakah dan keji? 2. sebagai sarana lobi untuk memperoleh proyek yang lebih besar? 3. diplomasi pemerintah Belanda  untuk melindungi kepentingannya di Indonesia. Sayangnya saat saya ke kantornya untuk pamit, beliau tidak ada. Akhirnya pertanyaan itu masih saya simpan sampai sekarang.

 

PROPER Hijau dan Kritik yang Tidak Pada Tempatnya

Tahun ini adalah tahun yang menggembirakan bagi Departemen saya. Awal Desember lalu kami mendapat kado manis penutup akhir tahun dengan diraihnya penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Awalnya kami pesismis bisa dapat PROPER hijau karena masih banyak hal, terutama dari sisi manajemen yang sangat kurang di bidang pengelolaan lingkungan. Namun dengan visi manajer, kekompakan dan kerja keras tim, perlahan-lahan kekosongan-kekosongan itu bisa dipenuhi dan kami bisa meraih PROPER hijau.

Tidak hanya itu, kami juga berhasil mendapatkan penghargaan level V (tertinggi) Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian, dan peringkat ke II Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 untuk kategori manajemen energi di Industri. Untuk yang terakhir sebetulnya bukan hanya Departemen kami saja yang terlibat, tapi  karena saya dan satu rekan terlibat di dalamnya, jadi bisalah dikatakan kami juga berkontribusi.

Nah, awal Desember lalu Manajer saya yang baru kembali dari dinas ke Jepang mengumpulkan kami semua. Dia kelihatan happy sekali, mungkin karena puja puji dari direksi dan rekan-rekan dari industri pupuk lain kepadanya. Dia sampai membawa kue black forest (kata teman saya ini bukan black forest tapi lapis surabaya yang dilumuri cokelat) yang bertulisan “Kue Untuk Para Juara Departemen LH”. Kami semua happy, karena PROPER hijau ini bukan hanya target Departemen, namun target korporat, bahkan Menteri BUMN mentitahkan seluruh Industri Pupuk di Indonesia harus mendapat PROPER Hijau. Kami happy mungkin karena merasa bagian dari satu tim yang telah bekerja keras membanggakan perusahaan.

Namun, seperti semua hal, ada saja orang yang tidak senang dengan diraihnya PROPER hijau ini. Memang benar perkataan orang bijak, apapun yang kita lakukan , baik ataupun buruk, pasti ada saja orang yang nyinyir. Tepat sehabis doa bersama, satu orang bersuara memprotes cara kerja kami yang tidak “efektif” dan “efisien” karena kami harus lembur berhari-hari dan kadang harus pulang lewat tengah malam bahkan sampai jam 04.00 pagi. Kita sebut saja orang ini si nyinyir. Yang lucu, si nyinyir sama sekali tidak ikut lembur dan tidak ikut pulang pagi. Dia memprotes hal yang tidak dia lakukan. Dia bilang dia kuatir dengan kebiasaan kerja seperti ini, “bukan sistem manajemen yang baik” katanya seraya dia menunjukan bahwa dia telah mencoba membuat suatu sistem yang “efektif” dan “efisien”. Sistem kerja yang dia maksud adalah melempar pekerjaan-pekerjaan di area abu-abu ke Departemen lain. Menurut dia Departemen kami adalah regulator, akan menjadi aneh kalau ada pekerjaan-pekerjaan teknis yang kami kerjakan. Dia menganggap kami terlalu banyak mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab kami.

Atmosfir ruang rapat itu jadi berat oleh perkataan-perkataannya. Kami semua diam bukan karena yang dikatakannya benar, namun  karena heran, kok bisa-bisanya di acara sukuran seperti ini ada orang yang malah merusak suasana dengan mengkritisi hal yang sebetulnya kami tahu  dan kami, yang betul-betul bekerja, sangat mengerti keadaannya. Kalau boleh dianalogikan, hal itu sama seperti anda datang ke acara sukuran pembangunan rumah teman dan bilang kalau teman anda gak bisa mendesain rumah dengan baik. Terlepas dari benar dan tidaknya hal itu, anda harusnya bisa menutup mulut dan berbahagia untuk pencapaiannya. Kalau ada kritikan kan bisa disampaikan ketika anda berdua saja dengan si pemilik rumah.

Untungnya manajer saya cukup bijak dan tidak terpancing dengan ucapannya. Dia bilang untuk meraih sesuatu yang sulit, kita harus bekerja keras dan tidak hitung-hitungan. Going the extra miles, istilahnya.  Dia juga bilang sistem kerja kita memang tidak baik, dia mencontohkan beberapa dari kami harus pulang sampai pagi. Hal itu harus dilakukan,  jika tidak dilakukan kita tidak akan bisa bekerja karena data yang dibutuhkan sangat banyak. Dia bilang sudah membagi-bagi tugas sesuai scope kerja ke Departemen lain. Namun yang terjadi, karena tidak mengerti dan tidak merasa memiliki,  terpaksa personil-personil LH yang harus mengejar-ngejar dan pada akhirnya kami jualah yang mengerjakan. Di masa depan supaya cara kerja ini tak terulang, dia akan mensosialisakan dan membuat form yang tinggal diisi oleh unit-unit kerja terkait.

Yang cukup mengagetkan, saya kenal betul manajer saya. Seorang pekerja keras yang emosional dan kadang terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Namun pagi itu dia tenang dan jernih menyampaikan argumennya. Dia juga tidak terpancing walau dipojokkan. Saya yang pada awal pengangkatannya tidak terlalu yakin dengan kemampuannya memimpin Departemen yang masih baru ini terkesima. Perubahan itu ternyata bisa terjadi dengan sangat cepat. Tempaan-tempaan dari berbagai masalah lingkungan, tekanan lembaga pemerintah, rong-rongan LSM-LSM ternyata cepat sekali membentuk jadi seorang yang tenang dan tangguh.

Ternyata menghadapi hal-hal sulit  mempu membentuk seseorang menjadi lebih baik asalkan orang tersebut betul-betul mau untuk berubah dan tentu going the extra miles. Klise sih memang, tapi saya melihat sendiri hal tersebut, Manajer saya yang pekerja keras yang memiliki kelamahan bisa cepat berubah dan menutup kelemahannya dibandingkan dengan si nyinyir yang kalau ketemu masalah langsung mundur atau menghindar. Manajer saya bisa menjadi lebih baik sedangkan si nyinyir sampai sekarang begitu-begitu saja.

Tips Diving Raja Ampat

Trip ke Raja Ampat mahal banget, kalau anda tidak benar-benar suka diving, anda akan berpikir ratusan kali sebelum pergi ke Raja Ampat. Saya memang suka sekali diving, walaupun tidak segitunya. Segitunya artinya mau menyerahkan hidup saya untuk diving. Contohnya seperti instruktur saya di Manado, Reynaldo Coral, sebelumnya dia adalah engineer IBM yang bekerja di Singapore. Entah apa yang ada di pikirannya tiba-tiba saja dia resign, menjadi instruktur diving dan menjadi resort manager di Manado yang saya kira pendapatannya tidak ada setengah dari pendapatannya di IBM.

Tidak hanya biaya yang harus disiapkan, anda juga harus nyaman diving dengan arus, seperti kalimat terkenal di Raja Ampat “No current no life“.  Pertunjukan spektakuler di Raja Ampat justru ketika arus kencang. Schooling runners yang tiba-tiba bubar karena dikejar tuna, manta yang dengan anggun berenang seperti terbang, dan patroli hiu disekitar terumbu karang, itu semua bisa dilihat apabila ada arus. Jadi untuk anda yang belum nyaman diving dengan arus sering-seringlah diving di daerah berarus sebelum datang ke Raja Ampat, karena seperti semua hal, kemampuan diving anda tumbuh dengan  pengalaman, tidak hanya membaca buku dan baca review di internet.

Jika anda sudah memutuskan untuk ke Raja Ampat, maka habis-habisanlah. Tentu habis-habisan anda harus diimbangi dengan kemampuan finansial dan ketersediaan waktu.  Raja Ampat merupakan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar;  Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang mencakup area seluas 40,000 km2. Saran saya lebih baik anda pakai Liveaboard daripada land-based. Atau lebih baik lagi jika menggabungkan keduanya, karena cakupan area yang luas dan karakter di tiap lokasi yang berbeda-beda. Daerah selatan, tengah dan utara memiliki karakternya sendiri-sendiri. Selatan didominasi oleh wall yang warnanya mengingatkan saya pada toko permen walaupun ikan pelagisnya tidak terlalu banyak. Daerah tengah didominasi oleh sea mount dengan banyak ikan pelagis walaupun warna-warninya tidak semenggetarkan daerah selatan. Saya belum pernah ke daerah utara, namun katanya di utara juga tipenya wall.

Warna Warni Misool

Waktu terbaik ke Raja Ampat antara bulan Oktober – Desember. Bulan Januari – April masih relatif baik walaupun sudah mulai berangin dan choppy. Tapi yang jelas jangan ke sana bulan Juni – September karena angin kencang dan hujan deras. Mungkin anda masih bisa diving apabila land-based, namun pasti diving anda tergganggu dengan hujan deras dan laut yang tidak tenang.

Oh iya,  jangan lupa ajak geng diving anda atau paling tidak buddy yang paling cocok. Jangan seperti saya kemarin, solo trip dan gabung dengan grupnya couples. Ada satu orang yang solo juga tapi belagunya minta ampun. Diving dengan geng ataupun hanya dengan couple ada plus minusnya. Diving dengan geng pasti rame banget dan berkesan. Rusuh, berantakan, dan banyak ketawa-ketawa, itu yang setidaknya saya alami saat di Komodo dan informasi dari Weka, dive leader saya di Raja Ampat. Diving dengan pasangan-pasangan yang sudah mapan lebih tenang dan nyaman. Restoran selalu bersih, para tamu yang lain tidak akan mencampuri urusan anda. Mau bareng geng, pasangan itu tergantung preferensi anda, tapi saran saya jangan pergi sendiri,hehehe.

Kecuali anda punya kemampuan finansial dan waktu yang tak terbatas, yang memungkinkan anda bolak-balik ke Raja Ampat.  15 hari sangat ideal untuk menjelajahi seluruh kepulauan Raja Ampat, apabila tidak punya cukup waktu dan biaya, 8 hari sudah cukup, tapi saran saya fokuslah di salah satu area; utara, selatan, atau tengah. Saya sendiri lebih senang ke selatan karena lebih beragam tipe lansekap bawah airnya serta warna warninya yang mengingatkan saya pada toko permen.

Akhir November sampai awal Desember kemarin  saya ke Raja Ampat selama 8 hari. Saya memakai operator Liveaboard Grand Komodo dengan Kapal Raja Ampat Explorer yang berkapasitas 14 divers. Raja Ampat Explorer merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh Grand Komodo. Dibandingkan dengan operator lain,  Grand Komodo lebih murah. Perbedaan harga antara Grand Komodo dengan Kapal Liveaboard lain saya lihat lebih karena fasilitas yang ada di Kapal. Kalau kemampuan dive guide saya rasa Grand Komodo tidak kalah atau bahkan lebih baik, karena dive leader di Grand Komodo seperti Weka dan Johnny berpengalaman mengeksplorasi Raja Ampat sejak tahun 1990an. Mereka mengetahui selak beluk Raja Ampat seperti mereka mengetahui garis tangan mereka sendiri.

Oceanic Manta Ray

Delapan hari trip ke Raja Ampat bersama Grand Komodo kami menghabiskan 3 hari di Selatan (Misool) dan 3 di tengah (Penemu dan Kri),  satu hari pertama digunakan untuk perjalanan dari Sorong ke Misool dan satu hari terakhir no dive karena keesokan harinya kami harus terbang. Saya sendiri lebih suka daerah selatan yang warna-warni dan tipe seascapenya lebih beragam dibandingkan daerah tengah. Namun daerah tengah tidak kalah seru dengan banyaknya atraksi ikan-ikan besar. Favorit saya di selatan (Misool) adalah Four Kings yang merupakan bukit bawah air yang memiliki empat puncak. Seru sekali berpindah-pindah dari satu puncak ke puncak lain, apalagi melihat terumbu karangnya yang warna warni. Selain itu yang istimewa di Misool adalah Batu Tengah. Belum pernah seumur hidup saya melihat begitu banyak ikan di satu lokasi. Bila dianalogikan mungkin sama seperti stasiun Shibuya di Jepang. Lokasi favorit saya di Raja Ampat tengah yaitu Kri karena ikan besarnya banyak dan slopenya ditutupi karang yang cantik.

Saya kira Raja Ampat adalah Mekahnya para penyelam. Anda harus ke Raja Ampat paling tidak satu kali dalam hidup untuk melihat betapa Tuhan maha pemurah  menciptakan laut yang kaya dan cantik untuk kita nikmati keindahannya. Dan sambil menyelam dalam keheningan yang menelusupi diri, kita menyadari bahwa diri kita ternyata hanya secuil dan pengetahuan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta yang luas ini.

Ekonomi VS Lingkungan? Suatu Miskonsepsi

Beberapa hari lalu ketika saya sedang rapat kerja di Jakarta, seorang GM berkomentar kalau Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup terlalu ekosentris. Beliau menambahkan kalau syarat yang terlalu ketat untuk lingkungan hidup bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, beliau berkelakar kalau Pupuk Kaltim seharusnya jangan produksi pupuk tapi produksi PROPER saja.

Sepertinya, sudah umum  konsepsi yang membenturkan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup. Seolah-olah kita harus memilih. Tony Jupiter, seorang environmentalist dengan baik memaparkan bahwa hal ini merupakan miskonsepsi.  Fondasi dasar pertumbuhan ekonomi adalah jasa dan keuntungan yang kita dapatkan dari kerja alam. Kita memerlukan jasa ekosistem agar pertumbuhan ekonomi terjadi secara berkelanjutan.

Banyak dari kita yang belum memahami kalau tanah, udara, air, kayu, makanan, dan obat-obatan yang kita perlukan berasal dari jasa ekosistem. Tanah yang kita gunakan untuk agrikultur itu tidak turun dari langit, tapi dari aktivitas serangga dan mikroba tanah yang dengan tekun mengurai sampah dan kotoran kita menjadi tanah subur yang penuh nutrien. Buah-buahan yang kita nikmati ini berasal dari suatu sistem yang melibatkan hewan dan serangga sebagai penyerbuk dan pengontrol hama yang sekarang terancam keberadaannya akibat penggunaan pestisida yang tidak bertanggung jawab.  Dari segi kesehatan, kondisi lingkungan yang buruk diduga menimbulkan kanker dan berbagai penyakit lainnya. WHO memperkirakan pada tahun 2008, 12.7 juta orang di dunia menderita kanker dan diperkirakan angka ini akan melonjak menjadi 22 Juta orang pada tahun 2030, 80%nya diperkirakan berasal dari negara berkembang.

Dari sudut pandang pertumbuhan ekonomi, studi yang dilakukan oleh trucost memperkirakan bahwa biaya lingkungan yang timbul dari aktivitas manusia mencapai $ 6600 trilyun atau sekitar 11% dari global GDP tahun 2008 dan diperikirakan mencapai  $28,000 trilyun tahun 2050. Angka ini menunjukkan bahwa ongkos lingkungan hidup cukup besar. Dan angka fantastis ini nampaknya sudah mewujud secara nyata di China, negara yang pertumbuhan ekonominya fantastis namun tidak dibarengi dengan perlindungan lingkungan hidup.

Jing Zengmin seorang pengusaha kacamata dari Zhejiang di sebelah timur China menantang Kepala Departemen Lingkungan Hidup setempat untuk berenang di sungai  terpolusi selama 20 menit dan akan memberikan $32,000 apabila dia berani melakukannya. Tidak mengejutkan ketika yang ditantang kemudian tidak berani melakukannya. Latar belakang Jin menantang Kepala Dept LH karena adik Jin meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 35 tahun. Jin menuding polusi di sungai sebagai penyebab kanker yang sekarang menyasar usia lebih muda. Jin mempertanyakan makna pertumbuhan ekonomi apabila orang China meninggal karena kanker akibat polusi.

China sedang mengalami permasalahan lingkungan yang sulit, pertumbuhan ekonomi yang gemilang selama tiga dekade terakhir tanpa perlindungan lingkungan hidup yang serius menimbulkan konsekuensi lingkungan yang berat. Pada bulan Januari 2013, uji emisi udara yang dilakukan oleh kedutaan AS di Beijing menunjukkan kadar debu halus berukuran 2.5 mikrometer (PM2.5) yang berpotensi masuk ke dalam sistem pernapasan manusia mencapai 886 mikrogram/m3, jauh dari standar WHO yaitu 25 mikrogram/m3. Pemerintah Kota Beijing terpaksa membatasi anak-anak dan orang tua untuk keluar rumah karena kondisi ini.

Saya kira pertentangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup sudah tidak relevan lagi. Yang tepat, kita  tidak mampu tumbuh secara berkelanjutan apabila tidak melakukan perlindungan lingkungan. UU 32/2009 merupakan suatu instrumen untuk memastikan Indonesia memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sandy

Akhir Oktober lalu, angin berkekuatan 155 km / jam disertai ombak setinggi empat meter menyerang New York dan tetangganya New Jersey. Sandy namanya.  Tahun 2005, badai juga menyerang New Orleans dengan kekuatan angin mencapai 280 km/jam dengan tinggi ombak 8.2 m. Katrina namanya.  Ia merenggut 1322 nyawa dan menyebabkan kerugian mencapai US$ 81 milyar dolar.

Speaking of names. ternyata penamaan ini tidak begitu saja dibuat. Setiap tahunnya National Hurricane Center merilis nama-nama. Nama badai tropis yang muncul di awal tahun dimulai dari “A” kemudian yang kedua dimulai dengan “B” dan seterusnya alfabetis (Q, U, X, Y, Z tidak digunakan). Dan lagi, pada tahun genap, nama laki-laki diberikan pada badai ganjil dan pada tahun ganjil nama perempuan diberikan untuk badai ganjil.

Kawasan Amerika Serikat dan Karibia memang rentan badai karena diapit oleh Samudera Atlantik dan Pasifik yang hangat dan mensuplai uap air yang menjadi bahan bakar badai. Hurikan merupakan istilah yang diberikan untuk badai yang memiliki “mata” ditengahnya. Hurikan terbentuk akibat udara bertekanan rendah yang muncul karena suhu lautan yang lebih panas dari suhu udara. Kondensasi uap air di atmosfer akan melepaskan panas yang menjadi bahan bakar hurikan.

Hurikan Sandy lahir di sekitar kepulauan Karibia dan menyerang negara sekitarnya. Sempat melemah saat menuju ke Amerika namun menguat kembali ketika bertemu Badai awal musim dingin yang bertiup dari Kanada yang membuat ukurannya menjadi lebih besar dari badai tropis umumnya. Hal inilah yang membuat Sandy jadi menarik. Belum pernah terjadi ada perpaduan dua badai yang seperti Sandy. Badai dari utara juga yang menyebabkan Sandy tidak kehilangan kekuatannya di darat.

New York lumpuh, listik dimatikan oleh otoritas, subway New York yang merupakan salah satu sistem transportasi terbesar dan tercanggih di dunia terendam air. Puluhan ribu warga New York terpaksa mengungsi dan memerlukan tempat tinggal apalagi musim dingin akan segera tiba. Selama listrik belum menyala, diperkirakan banyak warga New York yang terancam kedinginan. Walikota New York, Michael Bloomberg meminta penduduk yang rumahnya belum teraliri listrik agar meninggalkan rumahnya dan menempati shelter yang telah disiapkan Pemerintah. Menurut lembaga penaksir risiko bencana, Eqecat Inc, badai Sandy mengakibatkan kerugian sekitar $50 miliar.

Hurikan Sandy memang muncul agak telat. “Peak season” hurikan di Amerika terjadi sekitar bulan Agustus dan September. Sementara Sandy muncul pada akhir Oktober. Belakangan ini memang banyak terjadi hal-hal di luar “normal” seperti banjir yang tidak disangka-sangka, musim panas yang tidak kunjungi dibasahi hujan, dan permukaan air laut yang terus naik. Al Gore menyebut hal ini sebagai the new normal.

Menurut Kevin Tranberth, peneliti dari Australia, suhu permukaan laut sepanjang samudera atlantik berada 3C diatas normal. Setiap kenaikan satu derajat C, kadar air di atmosfer naik 7% dan kadar air ini menjadi bahan bakar hurikan, meningkatkan intensitas dan meperbesar curah hujan.

Seperti yang kita tahu, pada konferensi perubahan Iklim di Copenhagen tahun 2009, Amerika dan Cina, penyumbang terbesar gas rumah kaca menolak berkomitmen mengurangi emisi gas buangnya. Sudah saatnya Amerika merubah pandangan politiknya terhadap perubahan Iklim global. Apalagi setelah Sandy menghajar New York yang merupakan Kota produktif dan mesin uang Amerika Serikat. Kerugian akibat perubahan iklim sudah sangat terasa dan di masa depan akan ada hurikan-hurikan lain yang menerjang Amerika.

Memang dengan kecanggihan peramalan hurikan saat ini dapat menciptakan early warning system sehingga mengurangi timbulnya korban. Lagian, bencana ini terjadi di New York yang cukup adaptif menghadapi bencana karena mesin uangnya yang bekerja kencang. Saya tidak bisa membayangkan apabila hal ini terjadi di negara lain yang tidak memiliki akses serta sumberdaya seperti New York. Pasti dampaknya akan jauh lebih dahsyat dan korban yang timbul juga semakin banyak.

Kearifan Lokal

Di suatu sore yang sejuk tadi ketika saya sedang survey bersama tim proyek Kaltim 5, iseng-iseng saya mengamati rerumputan yang tumbuh pada lahan bekas urugan pasir laut tersebut. Saya melihat ada rumput liar yang berbunga merah. Tanpa pikir panjang saya cabut rumput itu.

Salah satu tim proyek menegur saya dan menceritakan tentang kisah orang tuanya yang kecelakaan karena mencabut bunga sembarangan. Dia cerita kalau bunga satu-satunya jangan sekali-sekali dicabut karena bisa jadi bunga itu ada tulahnya.

Takhayul atau bahasa kerennya kearifan lokal.

Ada beberapa pandangan mengenai kearifan lokal ini.  Pertama adalah orang modern yang skeptis dan sinis karena di zaman edan sekarang ini rasanya aneh kalau ada orang yang masih percaya terhadap hal-hal macam itu. Apa hubungannya bunga dengan kecelakaan?

Kedua adalah orang-orang yang hobinya bermain di wilayah klenik. Orang-orang ini gemar menghubung-hubungkan suatu gejala dengan hal klenik. Contohnya ketika ada kesulitan menancapkan piling sebagai pondasi suatu struktur langsung dihubungkan dengan adanya kekuatan ghaib yang menghambat. Oleh karenanya solusinya adalah menemui “orang pintar” dan mencari tahu apa keinginan makhluk ghaib yang menghambat tadi.

Ketiga adalah orang yang menghormati takhayul namun tetap bersikap kritis. Kerangka berpikir moderinsme memang telah membebaskan kita dari takhayul dan ketakutan-ketakutan yang menghambat kemajuan. Namun, sehebat apapun modernisme telah membawa kita, itu tetaplah alat. Saya suka dengan pernyataan Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu. Modernisme memiliki jalan yang lurus tapi tidak tujuan yang lurus. Takhayul memiliki tujuan yang lurus tapi tidak jalan yang lurus.

Modernisme sesungguhnya telah membawa kita ke dunia yang seperti sekarang.  Sayangnya, karena hanya alat untuk mencapai tujuan, kesadaran modern sangat bergantung pada “man behind the gun”. Takhayul dan ketakutan di masa kegelapan yang telah disingkirkan dengan cepat digantikan oleh takhayul dan ketakutan model baru. Kalau dulu gereja ditakuti karena sangat berkuasa sampai bisa membakar orang hidup-hidup. Di masa kini, kita smua takut kalau berurusan dengan institusi hukum seperti kejaksaan, kepolisian dan kehakiman.

Nah kembali ke kisah bunga yang tercerabut tadi. Saya menganggap bangsa saya, bangsa Indonesia sangat charmingSepertinya kita punya sejuta kreativitas untuk melindungi kekayaan alam. Cerita tentang Jin yang tinggal di pohon-pohon besar, mata air yang dijaga siluman, atau roh-roh yang bersemayam di hutan keramat merupakan kisah yang menarik yang mengajari kita untuk melindungi alam dan mencegah kita bertindak sewenang-wenang.

Memang kalau kita melihatnya dari kacamata modern, apa hubungannya bunga yang tercabut dengan ancaman kecelakaan atau nasib sial. Tapi hey! bagaimana bisa kita memaksakan kerangka modern kepada sesuatu yang metaforis. Sama seperti bagaimana kita mencoba membuktikan adanya Tuhan dengan matematika. Bukankah pemaksaan kerangka berpikir akan menjadikan kita fasis modern?

Setelah mendengar cerita kecelakaan tersebut saya langsung berpaling kepada salah satu kontraktor proyek Kaltim 5 yang bertanggung jawab terhadap atas penyiapan lahan. Saya bilang kepadanya kalau mencabut satu bunga saja bisa bernasib buruk seperti itu saya tidak bisa membayangkan nasib dia yang akan mengurug seluruh lahan ini dan membunuh tumbuhan yang sudah ada.

Kami semuapun tertawa.