Category Archives: Insight

Amiya Arundaya Rauf

Nak,

Kamu lahir di waktu yang tepat di bulan Januari. Saat itu, ayah sedang dinas ke jakarta, berjibaku mengurus limbah pabrik di kementerian lingkungan hidup. Setelahnya, ayah dijadwalkan operasi post konstruksi jari kelingking yang cedera karena bermain basket. Ayah tak muda lagi nak, mudah sekali cedera, padahal pertandingan hanya setingkat Perusahaan. Sayangnya ayah terlambat sadar kalau things have change.

Semua bermula ketika mamah menyadari ada flek yang merupakan tanda masa kelahiran sudah dekat. Lewat tengah hari, ayah dan mamah bergegas ke rumah sakit pondok indah. Setelah diperiksa dokter, nampaknya hari itu kamu belum mau keluar. Namun, dokter menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ada saat-saat jantungmu berdetak sangat lemah. Dokter kuatir kamu terlilit tali pusar. Dokter menyarankan ayah dan mamah pulang dan mengecek kembali keesokan harinya. Mamah yang tak pernah kenyang menolak pulang, dia ngajak makan di PIM. Katanya biar kamu kuat. Ayah kira itu alasan saja supaya bisa makan di Monolog.

Minggu 17 Januari lepas tengah hari, ayah dan mamah kembali ke rumah sakit. Lagi-lagi dokter menemukan saat-saat di mana detak jantungmu sangat lemah, bahkan sampai diulang dua kalipun masih muncul. Dokter menyarankan agar kamu segera dilahirkan dengan ceasar atau kalau mau normal diinduksi. Mamahmu memilih induksi, sesuatu yang agaknya dia sesali kemudian.

Proses kelahiranmu hampir 24 jam. Ayah ikut menemani sepanjang proses kelahiranmu itu. Ayah melihat sendiri betapa mamahmu kesakitan saat kontraksi yang frekuensinya semakin lama semakin sering dengan durasi yang semakin panjang. Tengah malam mamahmu mencakar-cakar ayah meminta dokter datang untuk operasi caesar. Ayah mencoba menenangkan mamah dengan kuatir bercampur geli, karena baru beberapa jam lalu, mamah dengan gagahnya mengatakan ingin melahirkan normal.

Setelah sepanjang malam tak tidur, pagi harinya mamah kembali meminta dokter datang untuk segera operasi caesar. Saat itu mamah memang baru masuk ke bukaan tiga. Ayah lagi-lagi menenangkan mamah bahwa dokter sedang visit dan belum bisa datang. Padahal sejujurnya ayah tidak tau dokter ada di mana. Untungnya, hampir tengah hari mamah sudah masuk bukaan enam. Sehingga  mamah dipindahkan dari ruang perawatan ke ruang persalinan. Mamah yang tadinya lemas, mulai bersemangat karena kelahiranmu sudah dekat.

Tidak banyak drama di ruang persalinan itu, bahkan mayoritas drama ada di ruang perawatan ketika mamah dalam fase kontraksi. Dokter dan suster yang sudah berpengalaman mengikuti puluhan bahkan ratusan persalinan, sudah menjadi ritual rutin seperti apel pagi pegawai negeri. Kami sampat kuatir ketika suster memberitahukan bahwa air ketuban berwarna hijau pertanda kontaminasi. Hal ini menandakan kamu stress. Kami ketar ketir. Dokter juga sempat mempersiapkan segala sesuatunya kalau-kalau kamu kesulitan bernafas ketika lahir. Senin 18 Januari 2016 pukul 15.41 kamu menangis dengan kencang bahkan lebih kencang dari bayi lainnya. Momen itu adalah momen paling melegakan dan membahagiakan buat ayah, melihat kamu menangis, mendusel-dusel di dada mamah.

Kami menamakanmu Amiya Arundaya Rauf. Amiya berarti membawa kebahagiaan. Arundaya berarti matahari terbit yang melambangkan harapan untuk menghadapi masa depan. Sedangkan Rauf adalah nama Papi, kakekmu. Kami ingin membuat kebiasaan meneruskan nama keluarga nak. Jadi namamu itu berarti pembawa kebahagiaan dan harapan dari keluarga Rauf.

Sejak kamu lahir, ayah dan mamah masuk dalam fase hidup yang baru. Mengganti popok, bergadang , bertengkar, kesulitan menyusui, bertengkar, memandikan bayi, bertengkar, bahkan sampai kesulitan waktu mengatur waktu bertemu kamu dan mamah di Jakarta. dan pertengakaran-pertengkaran baru. Walaupun begitu, kami bahagia sekali Nak. Kamu menjadi pusat dunia ayah dan mamah. Kami selalu berusaha untuk menjadi orangtua yang baik untuk kamu. Dan kamu juga akan belajar dari Ayah dan mamah. Kita sama-sama belajar ya.

Iklan

Dan Bandung

Tak terasa hampir tujuh tahun sejak aku meninggalkan Bandung untuk mencoba peruntunganku di Kota lain. Sejak tujuh tahun itu, kunjunganku ke Bandung bisa dihitung dengan jari. Kunjunganku akhir 2014 lalu aku melihat ternyata Bandung berlari lebih kencang dari yang kuperkirakan.  Berbagai hotel, cafe dan restoran tumbuh bak cendawan di sepanjang jalan dago. Dan yang paling kusesalkan, kawasan dago atas yang dahulu hijau, sekarang jadi kawasan perumahan mewah dengan apartemen bertingkat-tingkat yang asing.

Asing karena bangunan bertingkat berwarna biru itu arsitekturnya sangat tak cocok dengan landscape sekitarnya. Aku tak habis pikir kenapa bangunan asing itu dibiarkan berdiri di kawasan dago atas yang cantik. Dago Atas adalah kawasan perbukitan di utara Bandung yang bisa tembus sampai ke daerah Lembang. Sejak awal ke Bandung, aku senang nongkrong lama-lama di Dago Atas. Di kawasan itu, waktu seakan lumer dan berjalan lebih lambat, dan kita akan terbawa oleh suasananya yang santai. Apalagi orang tua pacar (sekarang jadi istri) beli sepetak tanah di kawasan PPR ITB dan bangun rumah dengan pemandangan cantik ke Taman Hutan Raya. Dulu, aku sering leyeh-leyeh di rumah istri sambil pacaran, mengerjakan tugas atau belajar sebelum ujian. Saat kembali ke rumah itu, aku tergetar melihat pemandangan Tahura yang semakin cantik saja.

Kayaknya dulu saat ngapel ke rumah istri di Bandung dengan intensitas yang lumayan sering aku tidak pernah setergetar ini melihat pemandangan Tahura dari halaman rumah istri. Entah kenapa, di penghujung 2014 lalu, aku duduk tergetar melihat dahsyatnya pemandangan Tahura.

Kunjungan akhir 2014 ke Bandung,  menjadi nostalgia kami saat pacaran dulu. Kami melakukan aktivitas yang dulu kami lakukan ketika masih pacaran; nonton DVD bareng, jalan pagi ke Dago Pakar, sarapan di Simpang Dago, sarapan di Rumah Joglo, dan bercanda seharian.  Kami tidak hanya pergi berdua saja, ayah dan ibu mertua juga berangkat ke Bandung.

Berbeda dengan kami yang tidak punya rencana yang jelas  untuk malam tahun baru dan tidak janjian dengan siapa-siapa. Ayah & Ibu mertua ada acara reuni di Hotel Sheraton. Karena ayah & Ibu mertua gak bawa mobil, mereka kami antarkan ke Hotel dan janjian akan dijemput lagi lepas tengah malam. Lucu sekali, harusnya kami yang berpesta sambil merayakan malam tahun baru dan mertua yang bersantai di rumah, tapi kebalikannya, kami yang bersantai di rumah dan mertua yang berpesta.

Rekan yang sudah pernah ke Bandung pasti tau, atmosfer Bandung berbeda sekali dengan Jakarta. Ada suasana santai, ramah, dan tidak intimidatif ketika memasuki Kota Bandung. Hal ini juga aku rasakan tahun 2002 ketika aku pertama kali turun dari Kereta Parahyangan di Stasiun Hall. Pertama kali menginjakan kaki di Bandung, aku langsung merasa “diterima” tanpa merasa dinilai. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Kita yang baru tiba di Jakarta, pasti akan merasa berjarak dan merasa sedang di-“elu siapa”-in dan dinilai kepatutannya berada di Metropolitan ini.

Perasaan “diterima” itu mungkin yang membuat siapapun jatuh hati dengan Bandung. Mungkin karena itu pula anak-anak asli Bandung sulit sekali lepas dari Kota kembang. Beberapa kawanku saat kuliah dulu bahkan sudah memastikan dirinya tak akan pindah dari Bandung dan mencari kerja di Bandung. Aku bisa memahaminya, empat tahun saja di Bandung, sepotong hatiku sudah tertinggal di sana. Selalu ada rasa bahagia ketika aku mengunjungi Bandung.

Bahkan, ketika aku sudah di bekerja, dan cukup mapan rasanya indeks kebahagiaanku sekarang belum dapat menandingi saat aku mahasiswa rantau dan tak punya uang di Bandung. Waktu di Bandung, aku tak punya uang berlebih dan rasanya hidupku cukup menyenangkan. Ada saja kegiatan menyenangkan yang tak membutuhkan banyak uang untuk menjalaninya; main basket contohnya, atau birdwatching.

Walaupun aku lahir dan menghabiskan lebih dari setengah masa hidupku di Jakarta. Bandung, somehow, tak pernah lekang. Sudut-sudut jalannya, sejuk udaranya dan bau kotanya membuatku selalu kangen. Jika diminta menyebutkan kota-kota favoritku di dunia, Bandung berada di atas, lebih tinggi dari Jakarta dan Bontang.

2014

Masa lalu biarlah masa lalu
-Inul Daratista

Tempus fugit, time flies, 2014 telah berlalu dan sudah 10 hari sudah jejak kita terlewat di tahun 2015. Aslinya aku mau mengeluarkan tulisan ini tepat sebelum tahun baru. Namun apa boleh buat, aku yang saat malam tahun baru ada di Bandung rasanya berat sekali untuk membuka laptop dan mulai menulis. Apalagi udara dingin dan memang udara di dago atas mengajak siapapun untuk bermalas-malasan.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, mungkin yang paling seru adalah pemilu tahun 2014 yang benar-benar keras, penuh fitnah, dan yang terparah, menjadikan penduduk Indonesia terbelah, aku dan kamu, dia dan mereka. Bahkan sampai saat ini, Jokowers atau Prabowers masih saling meledek, saling bully dan saling mencari-cari kesalahan orang lain.

Tahun 2014 kita juga menyaksikan dengan pahit, Brazil negara dengan sejarah sepakbola yang panjang, yang terkenal dengan Jogo Bonito, remuk redam 1-7 oleh Der Panzer Jerman. Aku yang fans Brazil sampai harus mematikan televisi karena tidak tega melihat Brazil dibantai Jerman.

Pada tahun 2014 kita bisa menaruh harapan kepada demokrasi. Kita melihat kemunculan pemimpin-pemimpin lokal yang super keren dan mengagumkan. Orang-orang seperti Tri Risma, Ahok, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah seperti menyeruak seperti bunga ditengah padang pasir. Selama ini politik dekat dengan hal-hal jorok dan kotor. Namun, dengan munculnya kepemimpinan lokal yang menginspirasi, kita bisa menaruh harapan ke proses politik yang kita jauhi dan kita benci itu.

Seperti biasa tiap tahun aku akan membuat kilas balik apa yang terjadi tahun 2014 dan apa harapanku di tahun 2015 mendatang. Tahun 2014 adalah tahun yang menantang. Tahun  ini aku menikah, namun juga hidup berjauh-jauhan dengan istri. Tahun ini juga merupakan tahun aku memulai bisnis pendidikan yang masih berjalan tertatih-tatih.

Highlight utama tahun 2014 adalah pernikahan pada bulan Maret 2014. Akhirnya setelah sepuluh tahun pacaran aku menikah juga. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi dengan hidupku setelah pernikahan. Enam bulan setelah menikah, istri masih tinggal di Jepang dan aku di Bontang. Bahkan setelah kembali ke Indonesia istri masih tinggal di Jakarta karena sudah kerja. Pada tahun 2014, kami berdua belum berhasil mendapatkan solusi dari kehidupan kami yang berjauh-jauhan.

Tahun 2014, aku sama sekali tidak membuat dive trip. Sedih sih, tapi ya itu konsekuensi dari menikah. Aku harus kompromi sambil ngompor-ngompori istri untuk ambil sertifikasi selam. Namun sebagai gantinya, aku dan istri membuat dua traveling trip, yaitu Bali untuk Bulan madu, dan Jepang Cina untuk merayakan kepulangan istri ke Indonesia. Bali seperti biasa tidak pernah mengecewakan, apalagi kami berdua menginap di Ayana yang mewah dan keren itu. Menginap di Ayana mengubah cara pandang kami tentang hotel mewah dan hospitality. Kami jadi sadar kalau bisnis hospitality adalah bisnis yang rumit dan harga memang berkaitan langsung dengan service yang memuaskan. Aku juga pergi menjemput istri ke Jepang dan berkunjung ke beberapa kota di Cina untuk menyaksikan pertumbuhan ekonomi di Cina yang tinggi. Cina tidak seperti yang orang-orang katakan. Memang di beberapa daerah pipis sembarangan dan meludah sembarangan sudah merupakan hal yang lazim, namun di sisi lain, Cina nampaknya berupaya untuk menggantikan Amerika sebagai kekuatan ekonomi dunia. Pertumbuhan kelas menengah yang amat besar mendorong konsumsi domestik Cina yang besar. Selain itu pertumbuhan kelas menengah juga melahirkan pelancong-pelancong asal Cina yang menginvasi seluruh dunia. Di belahan dunia manapun kita bisa melihat turis-turis asal Cina dengan ciri khas yang mirip; bergerombol, jorok, royal, tidak disiplin, berisik dan lack of empathy.

Hasil check up kesehatanku yang dilakukan bulan bulan Oktober tahun 2014  hasilnya buruk karena tingkat asam uratku tinggi 9.2 mg/dl. Asam urat adalah sisa metabolisme dari purin. Normalnya ginjal bisa asam urat ini, namun bila berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan dan asam urat menumpuk dalam tubuh. Anehnya, aku tidak merasakan nyeri sendi atau apapun. Dokter kantor memberikan list makanan apa saja yang mengandung purin tinggi. Dari list tersebut, aku hanya boleh makan ikan. Sayurpun tidak boleh yang hijau, hanya boleh yang putih. Dan lucunya lagi, di internet aku menemukan rekomendasi bahwa pengidap asam urat harus banyak-banyak makan karbohidrat kompleks karena karbohidrat membantu mengeluarkan asam urat dari tubuh. Padahal aku sedang mengurangi konsumsi nasi karena kata seorang tabib Cina aku memiliki keturunan diabetes dan harus segera mengubah pola makanku.

Jumlah tulisan yang kupublish pada tahun 2014 ini juga tidak sesuai target, aku menargetkan 30 tulisan pada tahun 2014, namun yang berhasil publish hanya 22 tulisan, kurang dari dua tulisan setiap bulannya. Tidak ada alasan, aku hanya kurang fokus dan kebanyakan rencana.

Ekspektasi 2015

Fokus utamaku pada tahun 2015 adalah bagaimana mendapatkan solusi agar aku dan istri bisa hidup berdekatan. Mungkin aku yang pindah ke Jakarta, atau Istri yang pindah ke Bontang. Entahlah, tapi aku dan istri sedang sama-sama berusaha.

Selain itu, targetku tahun ini adalah mendorong istri untuk bisa sertifikasi selam sambil membuat dive trip bersama. Juga aku dan istri telah merencakan satu trip ke luar negeri pada tahun ini yang entah pada bulan berapa, tergantung rejeki yang kami terima.

Tahun 2015 aku juga harus lebih berani lagi masuk ke ranah bisnis. Tahun lalu Aku sudah memulai bisnis pendidikan, namun aku tidak terlibat langsung dan kontribusiku kecil. Tahun 2015 aku harus berani masuk dan memulai bisni & investasi entah di bidang properti, jasa, atau apapun yang bisa menghasilkan keuntungan.

Tahun 2015 aku menargetkan asam uratku turun dengan tidak menaikan kadar kolesterolku yang sudah bagus. aku akan meluangkan waktu untuk jogging dan berenang. Aku menargetkan setiap minggunya aku lari 10 km dan berenang 2 km.

Walaupun sejak tahun 2014 aku menargetkan bisa bahasa lain selain inggris dan indonesia, namun aku belum saja merealisasikannya. Aku memang sempat les bahasa perancis pada tahun lalu, namun aku tidak serius dan kurang motivasi. Aku malah lebih termotivasi belajar bahasa Cina ketika aku akan pergi ke Cina. Agaknya aku harus menseriusi bahasa Cina dan belajar bahasa Perancis lebih giat. Targetku tahun 2015 adalah meluangkan waktu satu jam setiap minggu untuk belajar bahasa.

Kelihatannya tahun 2015 tidak akan mudah. Aku memperkirakan akan ada keputusan besar yang dapat mengubah arah hidupku. Mudah-mudahan aku bisa menhadapi tahun 2015 dengan tidak kehilangan kemanusiaan dan kebahagiaan.

Tabique

Berenang di Jakarta? Mahal

Di akhir bulan November aku cuti beberapa hari di Jakarta untuk menemani istri operasi laparoskopi kista di Rumah Sakit Pondok Indah. Tinggal 3 hari di Jakarta, terutama di Rumah Sakit membuatku bosan dan minim gerak karena kerjanya hanya duduk, makan, nonton TV, sambil sesekali ngobrol sama keluarga yang datang menjenguk.

Ketika istri diizinkan keluar dari rumah sakit dan istirahat di rumah, aku langsung browsing-browsing dan tanya-tanya kolam renang di sekitaran Cilandak dan Cinere. Istri dan adik ipar menyarankan kolam renang Cilandak Sport Center di Citos namun dia bilang hati-hati karena di Citos banyak gay yang bikin males renang. Aku mikir, anjir, ketemu gay aja udah serem apalagi ketemunya di kolam renang. Saking sudah kepinginnya berenang akhirnya aku paksain aja berenang di Citos. Namun ada hal lain yang aku lupa, ternyata aku lupa bawa kacamata dan celana renang. Tanya-tanya sama orang rumah ternyata gak ada yang punya. Mau gak mau aku beli dulu kacamata dan celana renang itu. Paling dekat toko olahraga di rumah mertua ada di Cinere Mall. Jadi jadwalku hari itu, pergi ke Cinere Mall, beli celana dan kacamata renang kemudian baru ke Citos.

Aku yang biasa hidup di Bontang yang kalau mau ke kolam renang atau pergi ke manapun waktu perjalanan tidak sampai 10 menit, santai sekali. Aku keluar dari Villa Cinere Mas menuju Cinere Mall jam 4 sore. Aku lupa bahwa ada jalan laknat yang bernama Karang Tengah. Walaupun hari minggu sore, Karang Tengah arah Cinere Mall padat merayap. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Cinere Mall belum termasuk belanja. Aku baru bisa jalan menuju Citos lepas maghrib. Sekitar jam setengah tujuh, aku sudah sampai di Citos, untungnya Citos di hari minggu tidak penuh-penuh amat sehingga tidak sulit cari parkir.

Ada dua kolam di Citos, yaitu kolam besar (bukan kolam olimpik) dan kolam kecil. Dimensi Kolam besar sekitar 23 x 50 m, mirip dengan kolam olimpik hanya saja kedalamannya yang berbeda.  Sepintas aku senang karena kolam fasilitas di sini lengkap, tidak seperti di Bontang. Sebelum masuk kolam ada loker dan kamar mandi yang cukup banyak, ada shower untuk bilas dan kursi di pinggir kolam renang melimpah. Hal lain yang membuat aku senang, kolam ini buka sampai jam 10 malam. Dan ini pertama kalinya aku renang malam-malam.

Rasa senang itu rupanya hanya sementara. Persis ketika aku nyebur ke kolam kebahagiaanku sedikit demi sedikit tergerus. Hal yang pertama kurasakan adalah airnya yang engga enak, keset dan berasa asin. Jangan-jangan air kolam ini gak pernah diganti sehingga jadi kolam keringat, iyuuh!! Namun aku mencoba tidak memikirkannya dengan berenang lebih cepat. Hal lainnya yang membuat kebahagiaan berenang luntur adalah kolamnya yang dangkal dan banyak orang yang berenang tidak beraturan. Besarnya proporsi kolam dangkal membuat orang-orang seenaknya berhenti dan main-main di tengah kolam sehingga jalur yang sudah kutentukan kerap harus berubah-ubah bahkan kadang harus menunggu orang lewat supaya gak tabrakan. Setelah puas satu jam berenang (baru kali ini aku puas-puasin berenang lama karena gak mau rugi soalnya harganya mahal Rp 55K), kemudian aku mandi dan sebelum pulang mau cari buah dan camilan di Citos.

Di Bontang, walaupun tidak ada shower di kolam untuk bilas, tidak buka malam dan kursi nunggunya gak banyak, kondisi airnya jauh lebih baik dan bening. Kolamnya dalam sehingga tidak ada yang main-main dan berhenti seenaknya di tengah jalur walaupun jalur penuh. Selain itu yang paling penting, berenang di Bontang gratis! aku gak pernah itung-itungan waktu berenang dan tidak pernah mikirin bayar parkir dan sebagainya.

Sambil perjalanan pulang ke rumah, aku membayangkan betapa mahal dan repotnya kalau mau rutin berenang di Jakarta. Aku membayangkan apabila kebiasaanku di Bontang diterapkan di Jakarta yaitu berenang rutin seminggu  dua sampai tiga kali, pasti akan repot dan menyebalkan sekali. Berapa waktu yang harus ditempuh dari kantor/rumah ke kolam, dan berapa biaya untuk berenang, belum lagi parkir dan jajan. Mungkin kalaupun mau serius berenang bisa dilakukan pas wiken, itupun harus siap bangun pagi dan menyesuaikan dengan jadwal nongkrong.

Jakarta memang hampir memiliki segalanya, tapi aku rasa Jakarta kehilangan hal yang penting dan sederhana yaitu kemudahan mengatur jadwal. Untuk hal ini, aku bersyukur bisa tinggal di Bontang dan bisa merayakan hal-hal sederhana seperti mengatur jadwal untuk berenang.

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia
yang pintar dan lucu walau kadang rumit
dan membingungkan. Ia mengajari saya
cara mengarang ilmu sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih;
bahwa ingin berawal dari angan;
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;
bahwa segala yang baik akan berbiak;
bahwa orang ramah tidak mudah marah;
bahwa seorang bintang harus tahan banting;
bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa;
bahwa orang lebih takut kepada hantu
ketimbang kepada tuhan;
bahwa pemurung tidak pernah merasa
gembira, sedangkan pemulung
tidak pelnah melasa gembila;
bahwa manusia belajar cinta dari monyet;
bahwa orang putus asa suka memanggil asu.

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku
ke sebuah paragraf yang tersusun di atas
tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi
kalimat majemuk bertingkat yang panjang
di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat.
ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat
paham bahwa pulang adalah masuk
ke dalam palung. Ruang penuh raung.
segala kenang tertidur di dalam kening.
Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah
menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap
tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.

(Joko Pinurbo, 2014)

Si Muka Monyet

Beberapa hari lalu, teman kantor posting foto di depan Osakajo atau Osaka Castle lewat Path. Atapnya yang bertingkat-tingkat membawaku kembali ke tiga belas tahun lalu ketika pertama kalinya aku baca Taiko karya Eiji Yoshikawa yang menceritakan hidup Toyotomi Hideyoshi, “si muka monyet” yang memerintahan pembangunan Osaka Castle.Aku lupa apakah menamatkan buku setebal 1200 halaman ini atau tidak. Tapi yang kuingat, buku itu hanya dibaca di kelas saat pelajaran berlangsung 😀

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle menjadi tempat penting dalam unifikasi Jepang. Setelah pengkhianatan Akechi Matsuhide terhadap Oda Nobunaga pada peristiwa Honnoji, Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga berkat kemampuan negosiasi dan kecerdikannya berhasil menggantikan Nobunaga. Sejak menggantikan Nobunaga, Hideyoshi membangun Osaka Castle yang besar, indah dan kuat terhadap serangan lawan.  Ironisnya, di Osaka Castle pula  Hideyoshi meninggal karena sakit dan akhir dari klan Toyotomi yang habis dibantai oleh Tokugawa Ieyasu. Pada akhirnya, Ieyasulah yang memetik keuntungan dari upaya Nobunaga dan Hideyoshi dalam unifikasi Jepang dan mengukuhkan era Shogun Tokugawa.

Si Muka Monyet

Yang paling menarik dari Hideyoshi “si muka monyet” adalah bagaimana perjalanan karir Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga bisa menjadi menjadi Kampaku, tangan kanan kaisar Jepang. Kalau bahasa anak sekarang, “from zero to hero“. Di masa itu kekaisaran Jepang hanya simbol.  Sebetulnya yang berkuasa adalah Kampaku, sampai terjadi Restorasi Meiji yang menghilangkan era Shogun Tokugawa.

Hideyoshi pun dikenal sebagai negosiator ulung. Gaya kepemimpinannya rendah hati dan persuasif. Dia tidak pernah menyangkal asal muasalnya yang anak petani, dan selalu merendahkan dirinya di hadapan samurai-samurai besar.  Dalam menghadapi persoalan Hideyoshi lebih mengedepankan negosiasi daripada kekuatan militer. Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana kemampuan negosiasi Hideyoshi. Alkisah Nobunaga ingin membangun Benteng Kiyoshu sebagai sarana pertahanan menghadapi klan Imagawa, namun pekerjaan ini sangat lambat karena pekerja mengalami demotivasi. Hideyoshi yang saat itu hanya mengurus dapur menghadap Nobunaga, menjanjikan pekerjaan bisa selesai dalam waktu tiga hari. Nobunaga merestui Hideyoshi sambil memberi ancaman apabila janjinya tidak terpenuhi.  Hideyoshi memakai pendekatan yang tidak biasa. Hari pertama dia gunakan untuk berpesta, dengan tujuan mengembalikan moral pekerja sambil mendekati pekerja untuk meyakinkan pentingnya pekerjaan ini selesai tepat waktu dan mengiming-imingi hadiah dari Nobunaga.  Seperti dijanjikan Hideyoshi, Benteng Kiyoshupun selesai dalam tiga hari, dengan satu hari digunakan untuk berpesta.

Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu adalah tiga tokoh penting dalam unifikasi Jepang dengan karakter yang berbeda-beda. Bahkan perbedaan karakter ini dibuat pantun singkat yang diajarkan ke anak-anak sekolah di Jepang, tentang bagaimana membuat seekor burung bernyanyi.

Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (Jika burung tidak bernyanyi, bunuh)
Nakanunara, nakasetemiyou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, buat bernyanyi)
Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, tunggu)

Baris pertama menggambarkan karakter Nobunaga yang keras, baris kedua menggambarkan karakter Hideyoshi yang persuasif, baris ketiga menggambarkan karakter Ieyasu yang sabar.

Dari ketiga tokoh besar Jepang, Hideyoshilah yang paling menarik perhatianku. pendekatannya yang tidak biasa, gaya kepemimpiannya yang humanis membuatku terinspirasi. Apalagi melihat latar belakangnya yang hanya petani dan pendidikannya yang tidak tinggi. Oleh karenenya, ketika teman posting foto Osaka Castle di Jepang, tetiba saya masuk ke ruang nostalgia, tiga belas tahun lalu, di dalam ruang kelas ketika saya kagum pertama kali pada si muka monyet Toyotomi Hideyoshi.

Damn I’m old.

Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.