Category Archives: Traveling

Dan Bandung

Tak terasa hampir tujuh tahun sejak aku meninggalkan Bandung untuk mencoba peruntunganku di Kota lain. Sejak tujuh tahun itu, kunjunganku ke Bandung bisa dihitung dengan jari. Kunjunganku akhir 2014 lalu aku melihat ternyata Bandung berlari lebih kencang dari yang kuperkirakan.  Berbagai hotel, cafe dan restoran tumbuh bak cendawan di sepanjang jalan dago. Dan yang paling kusesalkan, kawasan dago atas yang dahulu hijau, sekarang jadi kawasan perumahan mewah dengan apartemen bertingkat-tingkat yang asing.

Asing karena bangunan bertingkat berwarna biru itu arsitekturnya sangat tak cocok dengan landscape sekitarnya. Aku tak habis pikir kenapa bangunan asing itu dibiarkan berdiri di kawasan dago atas yang cantik. Dago Atas adalah kawasan perbukitan di utara Bandung yang bisa tembus sampai ke daerah Lembang. Sejak awal ke Bandung, aku senang nongkrong lama-lama di Dago Atas. Di kawasan itu, waktu seakan lumer dan berjalan lebih lambat, dan kita akan terbawa oleh suasananya yang santai. Apalagi orang tua pacar (sekarang jadi istri) beli sepetak tanah di kawasan PPR ITB dan bangun rumah dengan pemandangan cantik ke Taman Hutan Raya. Dulu, aku sering leyeh-leyeh di rumah istri sambil pacaran, mengerjakan tugas atau belajar sebelum ujian. Saat kembali ke rumah itu, aku tergetar melihat pemandangan Tahura yang semakin cantik saja.

Kayaknya dulu saat ngapel ke rumah istri di Bandung dengan intensitas yang lumayan sering aku tidak pernah setergetar ini melihat pemandangan Tahura dari halaman rumah istri. Entah kenapa, di penghujung 2014 lalu, aku duduk tergetar melihat dahsyatnya pemandangan Tahura.

Kunjungan akhir 2014 ke Bandung,  menjadi nostalgia kami saat pacaran dulu. Kami melakukan aktivitas yang dulu kami lakukan ketika masih pacaran; nonton DVD bareng, jalan pagi ke Dago Pakar, sarapan di Simpang Dago, sarapan di Rumah Joglo, dan bercanda seharian.  Kami tidak hanya pergi berdua saja, ayah dan ibu mertua juga berangkat ke Bandung.

Berbeda dengan kami yang tidak punya rencana yang jelas  untuk malam tahun baru dan tidak janjian dengan siapa-siapa. Ayah & Ibu mertua ada acara reuni di Hotel Sheraton. Karena ayah & Ibu mertua gak bawa mobil, mereka kami antarkan ke Hotel dan janjian akan dijemput lagi lepas tengah malam. Lucu sekali, harusnya kami yang berpesta sambil merayakan malam tahun baru dan mertua yang bersantai di rumah, tapi kebalikannya, kami yang bersantai di rumah dan mertua yang berpesta.

Rekan yang sudah pernah ke Bandung pasti tau, atmosfer Bandung berbeda sekali dengan Jakarta. Ada suasana santai, ramah, dan tidak intimidatif ketika memasuki Kota Bandung. Hal ini juga aku rasakan tahun 2002 ketika aku pertama kali turun dari Kereta Parahyangan di Stasiun Hall. Pertama kali menginjakan kaki di Bandung, aku langsung merasa “diterima” tanpa merasa dinilai. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Kita yang baru tiba di Jakarta, pasti akan merasa berjarak dan merasa sedang di-“elu siapa”-in dan dinilai kepatutannya berada di Metropolitan ini.

Perasaan “diterima” itu mungkin yang membuat siapapun jatuh hati dengan Bandung. Mungkin karena itu pula anak-anak asli Bandung sulit sekali lepas dari Kota kembang. Beberapa kawanku saat kuliah dulu bahkan sudah memastikan dirinya tak akan pindah dari Bandung dan mencari kerja di Bandung. Aku bisa memahaminya, empat tahun saja di Bandung, sepotong hatiku sudah tertinggal di sana. Selalu ada rasa bahagia ketika aku mengunjungi Bandung.

Bahkan, ketika aku sudah di bekerja, dan cukup mapan rasanya indeks kebahagiaanku sekarang belum dapat menandingi saat aku mahasiswa rantau dan tak punya uang di Bandung. Waktu di Bandung, aku tak punya uang berlebih dan rasanya hidupku cukup menyenangkan. Ada saja kegiatan menyenangkan yang tak membutuhkan banyak uang untuk menjalaninya; main basket contohnya, atau birdwatching.

Walaupun aku lahir dan menghabiskan lebih dari setengah masa hidupku di Jakarta. Bandung, somehow, tak pernah lekang. Sudut-sudut jalannya, sejuk udaranya dan bau kotanya membuatku selalu kangen. Jika diminta menyebutkan kota-kota favoritku di dunia, Bandung berada di atas, lebih tinggi dari Jakarta dan Bontang.

Iklan

Jiuzhaigou

Pecahan surga itu terserak di sebelah barat daya Cina, di daerah pegunungan Min Shan, 330 km sebelah utara Chengdu. Konon, 114 danau yang tersebar di sekitar wilayah Jiuzhaigou adalah pecahan cermin pemberian dewa Dage kepada Dewi Wonuosemo. Terlalu bersemangat, Wonousemo menjatuhkan cermin tersebut dari genggamannya dan pecah menjadi danau di Jiuzhaigou. Oktober lalu, kami mengunjungi pecahan surga tersebut. Pecahan surga tersebut dikemas dengan manajemen Ekoturisme yang sangat baik. Kapitalisasi pecahan surga itu mampu mengambil keuntungan dari pertumbuhan warga kelas menengah Cina yang haus liburan dan eksis di dunia maya.

Seperti daerah wisata lain, apapun yang ada di sekitaran taman nasional amit-amit mahalnya. Transport contohnya, karena kami tiba hampir malam, taksi yang harusnya Y 220 jadi Y 360 satu kali perjalanan. Shuttle bus yang dijanjikan di website hanya pepesan kosong, tak ada bus beroperasi sore hari.  Hotel busuk yang tidak dibersihkan yang aku tempati sama harganya dengan hotel bintang 3 di Shanghai. Jikalau mau tinggal di hotel berbintang macam Holiday Inn atau Intercontinental siap-siap saja merogoh kantong lebih dalam. Dan dari penelusuranku tidak ada harga in-beetwen, kita harus menerima either cheap and filthy atau expensive and fancy.

Jiuzhaigou di akhir Golden Week masih ramai. Grup turis Cina dengan pemimpin rombongan yang memegang bendera berteriak-teriak mengatur grupnya jadi pemandangan dominan di Jiuzhai. Sementara turis asing yang merupakan minoritas (seperti kami) sering terbelalak melihat harga makanan/souvenir yang luar biasa mahal. Menjelang musim gugur, beberapa cemara sudah mulai kemerahan, wangi daun gugur pun merebak, dan udara mulai dingin. Sayang kami terlalu cepat pergi ke Jiuzhai karena musim belum sampai puncaknya, karenanya warna warni dedaunan musim gugur tidak terlalu terlihat.

Idealnya Jiuzhaigou dijelajah minimal dua hari karena wilayah luas, danaunya yang banyak dan boardwalknya yang cakep banget. Harga tiket masuk Taman Nasional Jiuzhagihou barangkali adalah tiket taman nasional yang termahal di dunia. Tiket masuk ke Jiuzhai Y 310/orang/per hari. Aku dan istri bela-belain bayar mahal demi menikmati pengalaman baru jalan-jalan di Taman Nasional yang ramah kepada turis.

Jiuzhaigou

Jiuzhaigou

Okelah, karena harganya yang mahal dan lokasinya yang jauh akan kuberikan skenario terbaik bagaimana mengatur waktu di Jiuzhaigou agar tiket masuk seharga Rp 620.000/orang/hari itu tidak sia-sia. Skenario ini kubuat untuk dua hari di Jiuzhaigou.

Coba tengok peta di bawah ini, Jiuzhaigou Natural Park berbentuk seperti huruf Y dengan pintu masuk di dasar huruf Y tersebut. Angka satu dan dua yang kutulis di peta merupakan jalur hari pertama dan hari kedua. Lokasi yang kulingkari merupakan lokasi titik pertemuan dan lokasi  terminal bus. Jarak antar danau ada yang jauh dan ada yang dekat. Apabila mengejar waktu, naik bus paling cepat, namun apabila mau menikmati pecahan surga itu sampai ke pori-porinya, kamu bisa jalan di Boardwalk yang disediakan.

Peta Jiuzhaigou

Hari 1

Usahakan  bangun pagi dan datang sedini mungkin ke pintu masuk taman nasional. Kalau bisa jam 7 sudah di pintu gerbang. Di peak season, pintu masuk Taman bisa rusuh banget. Dari pintu gerbang kita akan digiring seperti sapi bersama kawanan besar turis-turis Cina untuk naik shuttle bus menuju Tourist Center.

Park Entrance

Hordes of Chinese

Namun di Peak Season, tak ada bus yang menuju Tourist Center. Kamu akan diturunkan di Shuzeng Valley, perkampungan besar Tibet. Dari sini, kita diharuskan jalan ke tourist Center untuk menentukan apakah mau ke Primeval Forest atau ke Long Lake.

Shuzeng Valley in the morning

Shuzeng Valley in the morning

Untuk hari pertama sebaiknya santai saja di Shuzeng Valley dan nikmati dengan berjalan kaki di Reed Lake, Shuzang Lake, Rhinoceros Lake sampai air terjun Nuo Ri Lang di sepanjang jalan menuju Tourist Center. Pagi hari, apalagi pada peak season orang ramai sekali di jalur ini. Tak usah diambil pusing.  Saranku, santai saja nikmati pemandangan sambil foto-foto. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati pemandangan dan antri foto ditengah kumpulan besar orang Cina. Ada dua jalur untuk menuju tourist center, pertama menyusuri boardwalk di sisi jalan, atau menyusuri boardwalk di seberang jalan. Saranku, saat berangkat pergi menyusuri jalan, dan baliknya menyusuri seberangnya.

Shu Zeng Falls

Shu Zeng Falls

Sesampainya di Tourist Center. Langsung ambil bus menuju Long lake. Jarak dari tourist center ke Long Lake cukup lumayan, sekitar 20 menit naik shuttle bus. Long lake berada pada ketinggian 3,100 m. Bila kamu seperti aku yang belum sempat aklimatisasi, maka pasti akan merasa pening, terhuyung-huyung dan lemas. Karena lokasinya yang tinggi, oksigen di udara tipis sehingga metabolisme anak pesisir seperti aku kaget, makanya lemas. Namun jangan kuatir pengalamanku ini hanya berlangsung sebentar, hanya beberapa jam. Setelah itu, kamu akan baik-baik saja.

Long Lake adalah danau terbesar, dan terdalam di seluruh danau yang ada di Jiuzhaigou. Latar belakang Long Lake adalah dua buah gunung yang tepinya bertemu, persis seperti gambar saat kita masih kanak-kanak. Tidak perlu kujelaskan, pemandangannya sangat cantik.

Long Lake Jiuzhaigou

Long Lake Jiuzhaigou

Setelah Long Lake berjalan kakilah sedikit menuju Five Colour Pond. Tidak seperti namanya, aku cuma lihat satu warna di Five Colour Pond ini, yaitu biru yang jernih. Sumpah ini adalah danau terjernih yang pernah kulihat. Apalagi saat kami ke sana cuaca sedang cerah, makin kinclong aja itu warna danau. Konon danau ini tempat dewi Semo mencuci rambutnya, warna danau itu dari lunturan wajah Dewi Semo.

Five Colour Pond

Lepas dari Five Colour Pond hari biasanya matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar. Ada beberapa pilihan, untuk rekan yang gak mau mengeluarkan uang untuk makan makanan yang kelewat mahal dan tidak enak di Restoran Nuo Ri Lang, bisa membeli bento instan yang ajaib.  Kenapa ajaib? karena bento ini cuma perlu air biasa untuk memanaskan. Aku tak mengerti prosesnya namun aku lihat banyak orang makan ini. Aku sampai penasaran di mana mereka dapat air panas, tapi setelah kutelisik, ternyata cuma air biasa yang dicampur semacam gel yang sudah ada di bento tersebut. Tapi untuk muslim harap hati-hati, kecuali kamu bisa bahasa mandarin, kita tidak pernah tahu apa isi bento tersebut.

Restoran Nuo Ri Lang

Lepas makan, turunlah ke Nuo Ri Lang dan kali ini terlusuri board walk dari seberang jalan, niscaya kamu akan melihat sudut pandang yang berbeda. Dan biasanya setelah makan siang, turis-turis Cina sudah kehabisan tenaga jadi jalan ini agak sepi. Ideal. Kamu bisa berjalan pelan-pelan sambil ngobrol, bercanda dan foto-foto.  Percayalah 4-5 jam berjalan di sepanjang danau ini sama sekali tidak kerasa. Hiking paling nikmat di Jiuzhaigou pada kondisi ini, sepi, pemandangan indah, dan bersama orang terkasih.

Duduk Duduk

Duduk Duduk

Berjalan seharian akan membuat lelah. Jam 17.00  bersiap-siaplah untuk pulang, simpan tenaga dan bekal untuk besok. Kesalahan kami di hari pertama adalah bekal cemilan yang kelewat sedikit sehingga kami sering iri melihat turis-turis cina yang hobi makan itu sering sekali makan camilan.

Hari 2

Sama seperti hari pertama, datanglah lebih pagi dan jangan lupa bawa camilan lengkap kemudian langsung  menuju ke shuttle bus dan bergegas jalan menuju tourist station dari Shuzeng Valley.

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Primeval Forest berada pada ketinggian 2930 m dpl. Menurut penelitian, kandungan ion negatif di hutan ini lebih tinggi dari daerah lainnya. ion negatif membuat kita merasa lebih tenang, mengurangi stress dan meningkatkan energi. Buatku keberadaan negatif ion ini tidak mempengaruhi stressnya aku menghitung pengeluaran dan melihat isi dompet di hari-hari terakhir di Cina.

High Negative Ion Forest

High Negative Ion Forest

Dari Primeval forest kita harus naik bus menuju ke grass lake karena jauh. Grass lake, swan lake dan arrow bamboo lake adalah danau kesukaan istriku karena ada rerumputan yang tumbuh di tengah danau ini.

Arrow Bamboo Lake

Arrow Bamboo Lake

Grass lake

Grass lake

Jalan di jalur dua ini sama sekali tidak terasa karena jarak antar danau tidak terlalu jauh dan jalan setapak yang disediakan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik. Tanpa sadar, tau-tau matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar saja. Kami yang rencananya mau makan di restoran tidak jadi karena waktu tiba-tiba sudah jam 14.00, akhirnya kami makan camilan saja. Aku sarankan rekan melakukan hal yang sama dengan membawa mi instan, roti atau camilan.

Stunning View

Stunning View

Naracap

Naracap

Dari semua hal yang kami lihat di Jiuzhaigou, yang paling gila adalah Pearl Shoals yaitu boardwalk di area dangkal berarus deras sebelum masuk ke air terjun. Niat banget pengelola kawasan ini dalam membangun infrasturktur. Pantas saja harganya mahal. Aku dan istri benar-benar kagum dengan area Pearl Shoals ini. Ujungnya Pearl Shoals adalah air terjun terbesar yang menjadi icon Jiuzhaigou, yaitu Pearl Shoals Waterfall.

Pearl Shoals

Pearl Shoals

To The Waterfall

To The Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Jiuzhaigou telah membawa Taman Nasional ke level baru. Lokasinya yang mudah diakses, boardwalk sepanjang 70 km memudahkan turis dalam mengakses keindahan pecahan surga ini. Yang paling mengagumkan adalah cara manajemen taman nasional ini dalam membuat turis-turis lokal cina disiplin tidak merokok dan membuang sampah sembarangan. Aku sudah cukup melihat bagaimana perilaku turis Cina yang menyebalkan dan tidak tau aturan. Tapi di Jiuzhaigou manajemen mampu menerapkan disiplin yang ketat kepada turis-turis Cina.

Kalau kamu ke Cina, aku kira kamu tak boleh melewatkan Pecahan surga ini. Kamu bisa melihat contoh ekoturisme yang sempurna. Kamu bisa melihat bahwa upaya yang sungguh-sungguh dalam mengelola sumber daya alam bisa memberikan keuntungan kepada alam itu sendiri (terjaga) dan penduduk lokal yang tinggal di dalamnya.

Beijing

Beijing adalah Kota dengan sejarah panjang, perebutan kekuasaan, tipu-tipu dan bunuh membunuh terjadi di Kota ini selama ratusan tahun. Kekaisaran Cina terakhir pun jatuh di Beijing. Sebagai Kota bersejarah, kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan yang membentuk wajah Beijing. Hal ini bisa kita lihat di distrik Dongcheng. Sebagai first timer ke Cina, tentu saja kami ingin menyerap sisa-sisa kejayaan tersebut. Oleh karenanya kami tinggal di “old-town“, di salah satu hutong atau gang, yaitu fangjia Hutong.

Beijing di bulan Oktober sudah memasuki awal musim gugur. Udaranya sejuk dan cukup nyaman. Polusi udara yang konon tinggi di Beijing tidak kami rasakan, entah karena kami tidak cukup sensitif atau memang Pemerintah Beijing sudah mengetatkan ambang batas emisi dari industri di sekitar Beijing. Di sore dan malam hari Beijing cukup dingin, sekitar 15 derajat, namun di siang hari bisa 24 derajat. Kota Beijing sedikit lebih kotor dan rusuh. Orang-orangnya juga lebih lihai tipu-tipu.

Di Stasiun Dongzhimen kami pertama kali diperas oleh sopir taksi, untungnya kami mengetahui tipu-tipu sopir taksi dan balik kanan memilih naik subway. Tipu-tipu merupakan hal biasa di Beijing, untuk menjaga tetap sadar, gunakanlah akal sehat. Walaupun begitu, kami berdua bisa merasakan dinamika dan gemerlap Beijing. Di akhir Golden Week, Beijing padat pengunjung dan turis lokal mendominasi tempat-tempat wisata. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah menarik yang terserak di sekitar Beijing. Namun sebetulnya kami hanya menginginkan dua hal, ke tembok Cina dan bersepeda di Kota Tua Beijing.

IMG_0468

Wedding Venue

Kami menginap di Hotel Nostalgia di Fangjia Hutong, yang sepertinya merupakan bagian dari industri kreatif di Beijing. Hotel kami sangat unik, karena desain interiornya mengambil konsep “vintage“. Seluruh barang dan pernak pernik di Hotel itu bergaya 60an.  Hotel kami bersebelahan dengan kantor desain yang dipenuhi anak-anak muda Beijing yang trendi. Di depan hotel kami ada restoran yang memiliki sedikit lapangan rumput di depannya. Ternyata lapangan rumput itu dijadikan venue pernikahan modern ala barat. Kami dua kali melihat ada pernikahan di lapangan rumput itu.   Keistimewaan tinggal di Hutong adalah dekat dengan jajanan. Tidak sulit untuk menemukan tempat makan di dekat Fangjia Hutong, restoran halalpun persis di depan hutong. Hotel Nostalgia tidak terlalu mahal, semalam sekitar 600 – 700 ribu, belum termasuk sarapan.

Great Wall

Seperti saran teman kantorku, kalau mau ke Great Wall ikut saja tur dari Hotel. Aku percaya dan sarannya kuikuti. Sebetulnya, aku ingin ke Great Wall di bagian Jinshanling yang lumayan jauh dari Cina karena sepi, pemandangan bagus dan bisa melihat reruntuhan (ruin) dari Great Wall. Namun, ketika aku mau booking, ternyata tur ke Jinshanling sudah tutup. Aku yang tidak sempat memikirkan plan lain karena sudah malam, akhirnya milih Badailing, spot populer yang sebetulnya sudah tidak kelihatan bentuk aslinya karena restorasi.

IMG_0621

Badailing Great Wall

Tur ke Badailing per orang harganya 280 Yuan atau 560 ribu rupiah. Ini sudah termasuk antar-jemput dan makan siang namun belum termasuk tip. Tur guide di Cina sangat blak-blakan dan berani. Dia tidak sungkan untuk minta tip dengan nominal tertentu. Dia minta 90 yuan atau 180 ribu rupiah untuk tips. Kami yang sudah lelah dan malas berdebat akhirnya memberikan tip yang dia minta.

Ikut tur di Cina penuh tipu-tipu dan lucu. Acara utama tur adalah Great Wall, namun tur ke tempat belanjanya lebih lama daripada Great Wallnya. Justru menurutku, Badailing Great Wall biasa saja, tidak istimewa.  Pengalaman keliling toko belanja itu yang lucu dan berkesan. Sebelum ke Great Wall, kami di bawa ke tempat penjualan Giok yang harganya gila-gilaan mahalnya, si mbak yang jual kekeuh menjelaskan ke saya tentang manfaat dan nilai investasi Giok. Kemudian setelah selesai hiking di Great Wall, kami di bawa ke “Pusat Pengobatan Herbal” di mana kami dipijat refleksi sambil ditawarin obat yang harganya juga gila-gilaan. Namun harus diakui, diagnosa dokter herbal itu sangat akurat, walau hanya melihat telapak tangan dan lidah. Dia bisa menebak dengan tepat kelemahan aku dan istri di bidang kesehatan. Itu yang menjadi senjatanya untuk mendorong kami membeli obat yang mahal. Aku yang sudah membaca motifnya terus menerus mengelak dan beralasan. Yang terakhir sebelum pulang, kami diajak ke peternakan ulat sutera. Sutera tersebut dijadikan selimut dan seprai, di sini tidak ada pemaksaan, kami hanya duduk sambil menunggu waktu pulang saja.

Bersepeda di Old Town

Beijing sejak dulu terkenal dengan aktivitas pengendara sepedanya. Bahkan tahun 1960-1970 Kota Beijing terkenal dengan “Bicycle Kingdom“. Namun seiring peningkatan ekonomi Cina dan hadirnya sepeda listrik, perlahan-lahan sepeda semakin kurang populer. Namun begitu, terasa sekali privilese seorang pengendara sepeda. Di Beijing ada jalur khusus pesepeda yang dilindungi oleh semacam pagar, pesepeda juga bisa keluar masuk hutong (gang) dengan bebas. Ketika aku bercerita kepada seorang inggris yang kami temui saat tur Greatwall mengenai serunya bersepeda di Beijing, dia menanyakan apakah itu aman, mengingat perilaku pengendara Beijing yang ugal-ugalan. Aku bilang cukup aman karena pesepeda punya jalur sendiri. Yang riskan adalah ketika masuk perempatan, disitulah kita harus berhati-hati dan mengikuti perilaku pesepeda Beijing.

Sepedaan di Hutong

Sepedaan di Hutong

Downtown Beijing konturnya datar sehingga nyaman sekali untuk sepedaan. Tempat menyewakan sepeda juga banyak, kamu tinggal nanya saja sama resepsionis Hotel. Biaya sewa sepeda sekitar 15 – 30 Yuan per hari dengan deposit 300 yuan per sepeda. Kamu harus pintar-pintar nawar, aku gak pintar nawar jadi kena 30 Yuan per hari.

Drum & Bell Tower

Banyak hal yang bisa dilihat di Kota Tua Beijing karena taman-taman dan bangunan-bangunan tua terserak di sekitar Tianamen Square seperti drum tower, Beihai Park, Jingshan Park, dan Shicahai Lake. Yang paling istimewa adalah hutong atau gang-gangnya. Menarik sekali bersepeda masuk ke hutong, melihat kampung-kampung Cina yang mirip sekali dengan Indonesia (joroknya).

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Sepedaan di Beijing tidak terlalu sulit. Ketika sudah satu-dua kali melewati suatu area, kita bisa mengandalkan intuisi untuk mengetahui arah. Park-hopping ( ada gak sih istilah ini) paling enak naik sepeda. Contoh, kalau mau liat danau di Shicahai, tinggal parkir di pinggiran Shicahai, kunci sepeda, terus jalan-jalan plus jajan deh di sekitaran Danau Shicahai. Mau pergi agak jauh juga bisa, malam-malam kami sepedaan sampe Donghuamen Night Market untuk ngeliat gerai makanan aneh yang overrated plus mahal. Kami pergi tanpa peta, hanya pake naluri, nyasar beberapa kali tapi masih bisa nentuin jalan dengan nanya orang.

Cafe

Hal lain yang mengejutkan dari Cina adalah cafenya yang lucu dan unik. Tidak seperti Jepang yang cafenya standard, kaku dan di mana-mana sama. Cina lebih kreatif dalam bikin cafe. Dari tiga cafe yang kami tongkrongi, semuanya konsepnya berbeda-beda, kopi dan makanannya pun surprisingly good. Cafe paling unik ada di Nanluogoxiang, tempat paling hip dan juga (mungkin) paling mahal di beijing. Capek sepedaan, kami mampir di Peking Cafe. Atmosfer cafenya cewe banget, dengan bunga kering tergantung di langit-langit dan bunga-bunga segar tersebar di sekitaran cafe. Atmosfer yang unik sebanding juga dengan harganya yang mahal, satu cangkir kopi bisa seharga 50 yuan atau Rp 100,000.

Peking Cafe Nanluogoxiang

Peking Cafe Nanluogoxiang

Cafe lainnya yang kami coba ada persis di depan hotel kami. Karena tulisan Mandarin yang aku tidak ngerti, mari kita sebut saja Cafe Hutong. Cafe ini walaupun simple, namun unik dan cukup berkarakter. Aku lihat, cafe ini pernah jadi lokasi syuting artis Korea (istriku penggemar film Korea, jadi dia tau banget film Korea). Cafe ini temanya Cina klasik, jadi ornamen dan hiasannya dari barang-barang kuno. Di Fangjia Hutong juga ada cafe lainnya yaitu  Remo Cafe yang bergaya retro. Kami mengunjungi Cafe ini sebelum berangkat ke Airport menuju Jiuzhai. Karena saat itu masih jam 8 pagi, Cafe ini baru buka. Kami tidak berharap banyak dari Remo Cafe, namun ternyata kopi dan menu sarapannya enak banget. Istriku penggemar kopi dan makanan, jadi dia tau benar mana kopi yang enak dan yang tidak. Kalau aku, hampir tidak bisa membedakan, hehe.

Cafe vintage Fangjia Hutong

Cafe vintage Fangjia Hutong

 

Beijing adalah Kota tua yang masih punya pesona. Bagi rekan yang menyukai sejarah, Kota ini menyimpan kenangan-kenangan di setiap pori-porinya. Kota ini juga cukup hip, denyut seni modern berdegub cukup kencang di sini. Kita bisa melihat anak-anak muda Cina yang dengan sistem politik komunis masih bisa berkreasi dan berkarya, bahkan lebih menarik dari Jepang yang agak membosankan.

Si Muka Monyet

Beberapa hari lalu, teman kantor posting foto di depan Osakajo atau Osaka Castle lewat Path. Atapnya yang bertingkat-tingkat membawaku kembali ke tiga belas tahun lalu ketika pertama kalinya aku baca Taiko karya Eiji Yoshikawa yang menceritakan hidup Toyotomi Hideyoshi, “si muka monyet” yang memerintahan pembangunan Osaka Castle.Aku lupa apakah menamatkan buku setebal 1200 halaman ini atau tidak. Tapi yang kuingat, buku itu hanya dibaca di kelas saat pelajaran berlangsung 😀

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle menjadi tempat penting dalam unifikasi Jepang. Setelah pengkhianatan Akechi Matsuhide terhadap Oda Nobunaga pada peristiwa Honnoji, Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga berkat kemampuan negosiasi dan kecerdikannya berhasil menggantikan Nobunaga. Sejak menggantikan Nobunaga, Hideyoshi membangun Osaka Castle yang besar, indah dan kuat terhadap serangan lawan.  Ironisnya, di Osaka Castle pula  Hideyoshi meninggal karena sakit dan akhir dari klan Toyotomi yang habis dibantai oleh Tokugawa Ieyasu. Pada akhirnya, Ieyasulah yang memetik keuntungan dari upaya Nobunaga dan Hideyoshi dalam unifikasi Jepang dan mengukuhkan era Shogun Tokugawa.

Si Muka Monyet

Yang paling menarik dari Hideyoshi “si muka monyet” adalah bagaimana perjalanan karir Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga bisa menjadi menjadi Kampaku, tangan kanan kaisar Jepang. Kalau bahasa anak sekarang, “from zero to hero“. Di masa itu kekaisaran Jepang hanya simbol.  Sebetulnya yang berkuasa adalah Kampaku, sampai terjadi Restorasi Meiji yang menghilangkan era Shogun Tokugawa.

Hideyoshi pun dikenal sebagai negosiator ulung. Gaya kepemimpinannya rendah hati dan persuasif. Dia tidak pernah menyangkal asal muasalnya yang anak petani, dan selalu merendahkan dirinya di hadapan samurai-samurai besar.  Dalam menghadapi persoalan Hideyoshi lebih mengedepankan negosiasi daripada kekuatan militer. Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana kemampuan negosiasi Hideyoshi. Alkisah Nobunaga ingin membangun Benteng Kiyoshu sebagai sarana pertahanan menghadapi klan Imagawa, namun pekerjaan ini sangat lambat karena pekerja mengalami demotivasi. Hideyoshi yang saat itu hanya mengurus dapur menghadap Nobunaga, menjanjikan pekerjaan bisa selesai dalam waktu tiga hari. Nobunaga merestui Hideyoshi sambil memberi ancaman apabila janjinya tidak terpenuhi.  Hideyoshi memakai pendekatan yang tidak biasa. Hari pertama dia gunakan untuk berpesta, dengan tujuan mengembalikan moral pekerja sambil mendekati pekerja untuk meyakinkan pentingnya pekerjaan ini selesai tepat waktu dan mengiming-imingi hadiah dari Nobunaga.  Seperti dijanjikan Hideyoshi, Benteng Kiyoshupun selesai dalam tiga hari, dengan satu hari digunakan untuk berpesta.

Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu adalah tiga tokoh penting dalam unifikasi Jepang dengan karakter yang berbeda-beda. Bahkan perbedaan karakter ini dibuat pantun singkat yang diajarkan ke anak-anak sekolah di Jepang, tentang bagaimana membuat seekor burung bernyanyi.

Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (Jika burung tidak bernyanyi, bunuh)
Nakanunara, nakasetemiyou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, buat bernyanyi)
Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, tunggu)

Baris pertama menggambarkan karakter Nobunaga yang keras, baris kedua menggambarkan karakter Hideyoshi yang persuasif, baris ketiga menggambarkan karakter Ieyasu yang sabar.

Dari ketiga tokoh besar Jepang, Hideyoshilah yang paling menarik perhatianku. pendekatannya yang tidak biasa, gaya kepemimpiannya yang humanis membuatku terinspirasi. Apalagi melihat latar belakangnya yang hanya petani dan pendidikannya yang tidak tinggi. Oleh karenenya, ketika teman posting foto Osaka Castle di Jepang, tetiba saya masuk ke ruang nostalgia, tiga belas tahun lalu, di dalam ruang kelas ketika saya kagum pertama kali pada si muka monyet Toyotomi Hideyoshi.

Damn I’m old.

Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.

Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

Bepergian ke negara dengan bahasa dan tulisan yang tidak  dikuasai memang  menantang, apalagi bila pergi ke daerah pedalaman suatu negara yang bahasa inggris bukan hal yang umum diketahui. Hal ini pernah aku alami waktu pergi ke Kota Hakodate di Pulau Hokkaido, Jepang, lokasi perang antara kekuatan shogun terakhir dengan tentara kaisar saat Restorasi Meiji. Tapi itu Jepang, di mana warganya relatif jujur  dan baik. Di Jepang, mantan pacar yang sekarang sudah jadi Istri belum pernah mengalami hal yang menjurus kriminal. Paling jelek yang dialami adalah celana dalamnya dicuri orang saat dijemur di luar. Dia bilang, di Jepang banyak pencuri celana dalam, dia mengaku ceroboh karena lupa memasukkan jemurannya ke dalam. Tindak kriminal yang aneh.

Di Jepang aku juga tidak perlu susah-susah belajar bahasa, karena mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri saat itu sudah hampir lima tahun belajar di Jepang. Walaupun mengaku bahasa Jepangnya buruk, namun aku percaya kalau dia pasti bisa berkomunikasi, kalau tidak pakai bahasa Jepang, ya minimal bahasa tubuh. Karena hobinya makan, kami tidak pernah kesulitan berkomunikasi dalam memilih makanan, dia sudah tau bagaimana memesan makanan, memilih makanan yang bukan babi, dan menanyakan harga. Tapi pernah juga sih kami kesulitan memilih menu di Izakaya di Hakodate, karena tidak bisa menyampaikan apa yang kami ingin, akhirnya kami malah dikasih satu ekor ikan goreng, padahal maksudnya kami ingin nyemil saja.

Dia juga bilang, di setiap stasiun di Jepang ada tourist center yang punya staff dengan kemampuan bahasa Inggris jadi tidak perlu kuatir kesulitan cari informasi dan jadwal kereta. Benar saja, ketika kami kesulitan menentukan jalur dan jadwal di Sapporo karena kami akan mampir di beberapa kota sebelum sampai ke Hakodate, petugas di tourist center sampai mencarikan jadwal kereta terdekat dengan harga termurah!

Semua hal yang aku sebutkan di atas tidak bisa didapatkan di Cina. Di Cina, orang-orangnya masih sering tipu-tipu. Contohnya, ketika kami baru tiba di airport dan mau ke pusat kota Beijing. Dari Capital Airport kami naik kereta Airport Express sampai ke Stasiun Dongzhimen dan kemudian rencananya mau naik taksi karena kami berdua bawa dua koper besar. Namun ketika kami mau naik taksi, si sopir gak mau pakai argo dan meminta 180 Yuan atau sekitar 360 Ribu, padahal saya tau hotel saya tidak terlampau jauh dari Dongzhimen. Terlalu sebel, kami memilih jalan yang sulit yaitu naik subway dan kemudian lanjut jalan kaki ke Hotel, saya berbicara ke diri sendiri. “Brace yourself you are in China“.

Nyari orang yang bisa bahasa inggrispun sulit, di Kota besar seperti Shanghai dan Beijing saja sulit, apalagi di daerah pedalaman. Di Shanghai, saat jalan-jalan, kami berdua melihat ada restoran berlambang ayam yang cukup ramai. Kami menduga ini restoran spesialis ayam dan tidak ada menu babinya. Kami coba masuk ke dalam dan menghampiri pelayannya. Selanjutnya yang terjadi adalah dagelan. Tidak ada satupun pelayan yang bisa berbahasa inggris, bahkan antar pelayan saling dorong untuk melayani kami. Menu bahasa inggrispun sepertinya terselip entah ke mana. Saya yang sebelumnya sudah mempersiapkan situasi seperti ini dengan belajar bahasa mandarin tiga kali seminggu via youtube juga terbukti tidak berguna. Pengucapan bahasa mandarin saya tidak bisa dimengerti oleh pelayannya. Saya frustasi, diapun frustasi. Untungnya tidak lama menu bahasa inggris ketemu dan  kamipun bisa memesan makanan.

Restoran Ayam di Shanghai

Restoran Ayam di Shanghai

Pengalaman seru lainnya adalah ketika kami mau check-in di Ruimin Business Hotel di Jiuzhaigou. Walaupun namanya Business Hotel, hotel ini benar-benar payah, kotor dan selama tiga hari kami di sana, kamar tidak pernah dibereskan. Ketika kami check in, saya lupa kalau pesen kamar dengan Booking.com, bayarnya belakangan. Saya yang merasa sudah bayar sulit mengungkapkan maksud saya, dia juga yang merasa tidak merasa menerima pembayaran juga tidak bisa mengungkapkan maksudnya. Untung saja ada tamu lain yang bisa berbahasa inggris yang menerangkan dan mengingatkan saya bahwa Booking.com bayarnya belakangan.  Kamipun meminta maaf dan bermaksud membayar dengan kartu kredit karena uang cash sudah menipis. Kemudian ada masalah lagi, ternyata mereka hanya menerima kartu kredit yang diterbitkan bank Cina, kartu kredit Visa tidak laku. Akhirnya kami membayar cash dengan kuatir karena uang cash kami sudah mepet sekali.

Pemandangan Depan Hotel

Pemandangan Depan Hotel

Beranjak dari pengalaman itu, saya akan memberikan saran bagi rekan-rekan yang mau pergi ke negara dengan bahasa dan tulisan yang asing, terutama apabila rekan mau ke Cina.

  1. Apabila tidak mau ribet, saranku ikut saja travel dengan jadwal yang jelas. Selain harganya bisa lebih murah, rekan-rekan juga bisa terhindar dari hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, dengan ikut travel, interaksi dengan warga lokal akan sedikit sekali dan pengalaman travel yang lucu-lucu kemungkinan kecil dialami.
  2. Apabila memutuskan untuk pergi tanpa travel, belajarlah bahasa mandarin walaupun sedikit. Paling tidak rekan traveler tau bagaimana bertanya menu makanan (sangat berguna kalau anda muslim), bertanya harga, bertanya toilet di mana, dan bertanya lokasi suatu tempat. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik karena silabelnya yang banyak. Sedikit saja salah pengucapan, orang-orang cina tidak akan mengerti yang diucapkan.
  3. Cina tidaklah murah. Oleh karena itu persiapkanlah uang cash secukupnya, terutama apabila rekan mau pergi ke daerah pedalaman. Harga di daerah wisata bisa dua sampai tiga kali lipat harga normal.
  4. Bersikaplah hati-hati dan tegas. Orang Cina adalah orang-orang yang ngeyel. Apabila tidak tegas, terutama dalam antrian dan harga, bisa dikerjain. Bersikap polite tidak disarankan terutama dalam antrian, bersikaplah agresif.
  5. Siapkan tisu basah yang higienis. Orang Cina sama seperti orang Indonesia, senangnya ngeludah sembarangan, ngupil sembarangan dan tidak ada air di toiletnya. Brace yourself.

Orang Indonesia, seperti aku, kalau pergi ke luar negeri berharap melihat kondisi negara yang lebih baik dari Indonesia, seperti keteraturan dan kebersihan. Di Cina, keteraturan dan kebersihan seperti barang asing, hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Jadi kalau malas berurusan dengan hal-hal seperti saya sebutkan, jangan pergi ke Cina, pergi saja ke Korea atau Jepang yang lebih teratur dan bersih.

Tapi menurutku, pergi ke Cina seperti pulang kampung ke Indonesia. Apabila rekan sudah biasa sama keadaan di Indonesia, di mana toiletnya gak bersih-bersih amat dan orangnya sedikit nakal. Saya percaya rekan akan bisa survive di Cina. Dan ketika sudah terbiasa, rekan akan bisa menikmati Cina yang menurutku sangat-sangat indah dan memiliki sejarah panjang yang menarik.  Rekan akan menemukan bahwa Cina adalah negara yang unik, dan tentu saja menemukan bahwa pendapat orang-orang tidak sepenuhnya benar tentang Cina.

Cerita Di Bus Damri

Lepas dari terminal 2, Bus Damri yang saya tumpangi itu beranjak menuju terminal 1. Seperti biasanya, hanya sedikit penumpang yang naik bus Damri dari terminal 2. Ketika sampai di terminal 1 & 3 baru bus akan penuh. Damri adalah satu-satunya transportasi yang murah dan bisa menampung cukup banyak orang. Pilihan lainnya hanya taksi dan taksi gelap, atau ojek jika jarak tempuh dekat dan barang bawaan tidak banyak.

Jika pulang ke rumah di Cipulir, saya memilih naik taksi, karena lebih cepat dengan dibukanya tol Ciledug yang menghubungkan bandara dengan jalan raya ciledug, hanya 30 menit sampai di rumah dan relatif tidak macet. Namun, karena saya ada rapat dua hari berturut-turut di Kantor Perwakilan Jakarta dan ditambah lagi ada titipan rekan ke kantor (di Kantor saya, budaya titip mentitip dokumen penting kepada orang dinas menjadi trend karena cepat dan terpercaya), jadi saya akan tinggal di hotel di sekitaran Kebon Sirih. Sebelum ke hotel, saya akan mampir dulu ke Kantor Perwakilan menyampaikan titipan.

Bus Damri jurusan Bandara Soekaro Hatta – Terminal Gambir adalah pilihan yang rasional karena murah, dan dari Gambir  sampai ke Kantor Perwakilan  sudah sangat dekat. Jika malas jalan kaki, bisa naik taksi atau ojek. Karena barang bawaan saya sedikit, hanya satu ransel dan satu duffle bag, saya milih jalan kaki saja.

Sampai di Terminal Satu, Bus Damri jurusan Bogor sudah hampir dipenuhi penumpang, dan di sebelah saya duduk seorang pria paruh baya yang  membawa tas dan kardus kecil, sepertinya berisi oleh-oleh. Bapak itu bernama Samsudin, seorang Guru Agama di Tegal. Dia baru mendarat dari Palembang untuk melayat adiknya yang meninggal karena tabrakan motor. Dia menuju Gambir untuk pulang ke Tegal dengan naik kereta, walaupun sampai saat itu dia belum membeli tiket kereta dan tidak tau jadwal kereta ke Tegal. Dia berasumsi kereta ke Tegal berangkat sore dari Jakarta. Dia sudah berencana untuk makan siang, sholat dan jalan-jalan di Monas sebelum berangkat ke Tegal. Ringan sekali, sangat berbeda dengan saya. Jika saya jadi dia, saya tidak akan bikin rencana apapun sebelum tau persis tentang jadwal keberangkatan. Saya tidak akan sesantai itu dan setengah mati cari informasi keberangkatan kereta.

Saat tau saya datang ke Jakarta dengan naik Garuda dan dengan frekuensi penerbangan yang hampir satu kali setiap bulannya, Pak Samsudin berseloroh “Wah sampeyan beruntung sekali bisa kerja di Perusahaan yang membiayai naik pesawat setiap bulan, kalau guru Agama mana bisa”. Saya yang menangkap aura insecure menjadi tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini.

 Perasaan insecure bisa muncul ketika kita bicara dengan orang yang berbeda secara strata sosial. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu, walaupun tidak sama persis. Ketika saya diajak mertua datang ke Halal Bi Halal Keluarga Bakrie di Kemang, saya yang memakai baju koko dan sepatu sandal di tengah keluarga dan kerabat tuan rumah yang berbatik dan berkebaya, merasa insecure. Kuatir dikira pelayanan katering dan disuruh cuci piring oleh tuan rumah, saya hanya duduk di pojokan sambil makan tanpa punya nyali untuk ngobrol dengan siapapun. Beruntung saat itu adik ipar saya yang sebenarnya tidak ingin ikut acara halal bi halal itu, merasa kasihan dengan saya, ikut dan sama-sama memakai baju koko. Akhirnya kami setengah hari itu duduk di pojokan rumah mewah di Kemang dan mendiskusikan tentang game-game yang keren di PS4.

Alih-alih terus membicarakan tentang saya yang beruntung dan dia yang kurang beruntung, saya berusaha membelokan arah pembicaraan yang dia kuasai dan nyaman untuk berbicara, yaitu tentang pendidikan. Saya menyampaikan kritik, “kenapa dengan adanya muatan agama di sekolah-sekolah, akhlak murid tidak membaik, bahkan cenderung memburuk, sepertinya ada yang salah dengan pendidikan agama kita” dia menjawab “memang pendidikan agama di sekolah-sekolah hanya sebatas belajar ritual agama dan bacaan-bacaan yang sebetulnya tidak secara signifikan mengubah akhlak” Saya menangkap Pak Samsudin berharap ketika belajar fiqih islam, murid bisa terinspirasi untuk mendalami islam dan kemudian berpengaruh kepada akhlak.

Sambil berbicara tentang akhlak dalam Islam, Pak Samsudin menawari saya buah duku. saya ambil beberapa buah dan memakannya. Namun karena tidak ada plastik kresek untuk membuang kulit dan biji duku, saya tidak berani makan banyak-banyak. Pak Samsudin pun kebingungan, karena sudah terlanjur makan banyak, beliau sulit membuang biji dan kulit dukuh, kantung kresekpun tidak ada. Akhirnya beliau menyimpan kulit dan biji duku yang tidak termakan itu di kantong jaring di depan kursi. Karena ruang antar jaringnya lebar akhirnya kulit dan biji duku itu jatuh ke mana-mana. Dia akhirnya berhenti makan duku, dan memasukan duku itu ke tasnya.

Dia sepakat dengan saya tentang pendidikan agama yang harusnya memberikan porsi  yang lebih besar kepada pendidikan karakter dan akhlak. Saya tidak mengikuti pendidikan agama sekarang ini, namun saya merasa belajar agama di sekolah hanya membuat saya pintar untuk melakukan ritual agama, sama sekali tidak menyentuh karakter. Karakter, dominan terbentuk di lingkungan luar sekolah, yaitu keluarga dan pergaulan. Mungkin hal inilah yang ingin direngkuh oleh kurikulum 2013.

Namun kurikulum 2013 juga memiliki masalahnya sendiri. Pak Samsudin menyoroti tentang kurikulum 2013, yang terkesan dipaksakan dan membebani guru. Sampai saat ini dia melihat hanya sedikit sekali guru yang mengerti konsep tentang kurikulum 2013. Di kurikulum 2013, guru hanya menjadi fasilitator, muridlah yang harus aktif mengamati, mengeksplorasi, mencoba, sampai menyimpulkan hasil dari suatu pembelajaran.  Sistem penilaian kurikulum 2013pun  berdasarkan hal tersebut. Jadi guru harus menyiapkan berbagai tools untuk memfasilitasi penilaian tersebut. Bukan hal yang mudah, apalagi untuk guru tradisional yang mengajar di daerah terpencil.

Pak Samsudin memberikan contoh, di Tegal, sekarang dia mewajibkan muridnya mencari sendiri bahan ajaran di internet dan meminta muridnya mempresentasikannya di depan kelas. Pekerjaannya sekarang hanya membuat lesson plan dan membuat lembar penilaian yang banyak itu sesuai dengan kurikulum 2013. Namun hal ini sulit untuk diterapkan untuk guru di daerah terpencil. Murid di daerah terpencil terbiasa dicekoki pelajaran. Agak sulit untuk  meminta mereka mencari bahan pelajaran sendiri, apalagi akses informasi terbatas. Bahkan dia bilang, di daerah pedalaman Tegal. Ketika panen tiba, murid banyak yang izin untuk memanen padi. Bagaimana kurikulum 2013 mau diterapkan?

Saya percaya bahwa pendidikan tidak bisa diseragamkan. Ada gap yang cukup besar antara pulau jawa dan pulau lainnya.  Tidak adil jika kita menyamaratakan standard pendidikan antara Pulau Jawa dan Pulau lainnya. Menurut saya yang paling penting dari pendidikan formal adalah terpeliharanya hasrat untuk belajar, bukan standarisasi outputnya. Dengan terpeliharanya hasrat untuk belajar, kesempatan berkembang lebih besar daripada belajar hanya mengharapkan hasil. Kita bisa melihat, ada orang-orang yang tidak memiliki latar pendidikan formal yang cemerlang namun ternyata bisa sukses karena memiliki hasrat untuk belajar. Dahlan Iskan contohnya, beliau tidak lulus IAIN namun bisa membangun grup Jawa Pos dan menjadi Menteri BUMN, demikian pun Chairul Tanjung, lulusan kedokteran Gigi yang kerajaan bisnisnya menggurita dan menjadi Menko Perekonomian. Dahlan dan Chairul merupakan orang-orang yang memiliki hasrat belakar yang tinggi dan tidak terpaku pada standar pendidikan formal.

Ketika tiba di Stasiun Gambir, saya menunjukkan lokasi loket beli tiket dan menjelaskan arah apabila beliau ingin pergi ke Monas. Sayapun pamit. Sambil bersalaman beliau berkata “senang bertemu dan mendapat perspektif baru, semoga sukses” . Sayapun merasa begitu. Semoga sampai dengan selamat ke Tegal Pak!.