Category Archives: Uncategorized

Mamie

Tanggal 2 mei 2017,  tepat satu tahun kematian Ibu,  (kamu memanggilnya Mamie, Miya).  Usiamu belum lima bulan ketika Mamie dipanggil Yang Kuasa. Kamu tau, Ayah bukan tipikal orang yang suka mengenang sesuatu yang tidak enak dan mendramatisir keadaan. Tapi menurut ayah, kamu perlu tau kejadian saat Mamie meninggal.

Mamie sudah batuk-batuk sejak kamu dilahirkan. Papi cerita Mamie tidak mau terbuka mengenai penyakitnya sampai harus dibuat lubang permanen di paru-parunya untuk mengeluarkan cairan yang diduga disebabkan kanker. Dokter Indonesia sudah prediksi, kanker Mamie sudah menyebar ke tulang, paru-paru dan otak.

Kami langsung bergerak cepat, mamahmu kenal seseorang di National Cancer Center di Singapore dan kami langsung bikin janji untuk pengobatan di Singapore. Hal itu dilakukan karena Mamie tidak mau kemoterapi yang ditawarkan dokter di Indonesia.

Beberapai kali pengobatan di Singapore kondisi Mamie tidak kunjung membaik. Sampai tanggal 25 April, Mamie ambruk di tangan Bunda Sheika. Saat itu, Mamie sudah tidak ada. Tidak mau menyerah, Bunda Sheika dan Tonton Ivan langsung membawa ke Rumah Sakit Pertamina. Nafas Mamie sempat kembali, namun kondisinya sudah koma dan secara medis sudah sangat parah. Kami memutuskan untuk melanjutkan pengobatan sampai saat-saat terakhirnya.

Mamie meninggal tanggal 2 Mei. Kami semua sudah menerima. Hari itu juga, Mamie dimakamkan di Tanah Kusir. Ayah, Tonton Ivan, Bunda Sheika bahu membahu mengurus pemakaman Bunda.

Ayah sudah kehabisan air mata, yang Ayah pikirkan hanya bagaimana Mamie segera dikuburkan dan hidup harus segera berjalan kembali.

Sampai saat ini, Ayah belum pernah mengunjungi lagi makam Mamie. Tidak ada alasan khusus, Ayah hanya tidak ingin mengunjungi makam Mamie. Mungkin Ayah takut sedih dan breakdown di Makam Mamie. Mungkin Ayah tidak mau mengingat-ingat hal yang tidak mengenakkan. Entahlah.

Mungkin pada saat yang tepat, ketika kamu sudah bisa mengerti akan kematian, kita akan mengunjungi makam Mamie dan Ayah akan kenalkan kamu ke Mamie.

Iklan

Being Immortal

Seorang teman menyarankan saya untuk menulis tentang pengalaman saya dengan Amiya, putri kecil saya. Ide yang bagus. Selain sudah  setahun lebih saya tidak menulis, idenya sesuai dengan mengapa saya memulai menulis yaitu menjadi abadi. 

Pada akhirnya menulis adalah soal kebiasaan. Pelukis Chuck Close percaya Inspirasi untuk amatir sementara pelukis sesungguhnya datang dan bekerja.

Seperti kata Close, tak bisa hanya mengandalkan “inspirasi” untuk menghasilkan tulisan yang bagus, yang perlu dilakukan hanyalah memulai menulis dan tak perlu jadi tulisan yang bagus tulisan yang jujur lebih penting bagi saya. 

Terima kasih telah mengingatkan dan memberikan saran untuk saya, really appreciate it.

🙂

Semalam tanpa Susu

Sabtu 22 Maret 2017

Hari ini, mamahmu dinas ke semarang dan kamu harus tidur bersama ayah tanpa mamah. Kami kuatir karena tiap malam kamu pasti terbangun menangis keras dan baru tenang ketika menyusu. Makanya, Ayah kuatir nak, karena malam ini hanya kita berdua dan tak ada susu yang menemani.
Sebetulnya mamah sudah bilang ke ayah supaya suster saja yang tidur sama kamu dan ayah tidur di kamar lain. Tapi ayah gak mau, ayah percaya hal-hal seperti ini harus dihadapi. Lagian kamu kan anak ayah, waktu kamu baru lahir, saat kamu rewel-rewelnya dan belum ada suster, ayah bisa mengurusmu.

Malam ini, Suster sudah menakar susu, menyiapkan botol dan termos untuk membuat susu untuk persiapan ketika kamu rewel.  

Jam 21.30 kamu terbangun, awalnya hanya rengekan kecil tapi lama kelamaan jadi tangisan keras. Ayah tidak membuat susu karena masih terlalu sore. Ayah menggendongmu dan membiarkanmu tidur di dada ayah, seperti saat kamu baru lahir dulu. 

Jam 12.30 kamu kembali terbangun, ayah buru-buru meracik susu. Tapi, tangisanmu kencang sekali sampai terbatuk-batuk. Ayah segera menggendongmu sampai tangismu reda dan kamu tertidur. Ayah kembali membiarkanmu tidur di dada ayah. 

Jam 05.00 kamu kembali terbangun. Sudah tau apa yang harus dilakukan, ayah langsung menggendongmu lagi. Kamu pun tenang dan tertidur kembali. 

Saat kamu bangun lagi jam 06.30 Ayah baru sadar kamu telah tidur dari jam 19.30 berarti sudah 11 jam tidak minum baik itu susu maupun air putih

Sial.

Ayah langsung mengambil botol minummu. Kamu langsung meminum 3/4 botol air tanpa berhenti. Kamu terlihat agak lemas, mungkin karena tidak menyusu semalaman. 

Walaupun begitu,  berhasil melewati malam ini dengan sedikit drama. Dan ayah bangga sama kamu dan sama diri ayah sendiri. Sesuai janji ayah, jika kita bisa melewati malam ini tanpa harus ke rumah sakit, hari minggu ayah akan mengajak kamu main di Scientia Park BSD.

Sepertinya kita bisa jadi tim yang baik 😊

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Sapardi Djoko Damano, 1973

Hitting the Big 3

As per today, I’m entering the new phase of my life, the big 30! When I look at my self in the mirror this morning, i saw some signs of ageing process; wrinkle around my mouth, age spots on my face, and of course a-never-flat belly. Damn,  it is so hard keeping your belly fat at this age. I have been doing the best I could, but still it is simply resist to be flat, it is just, you know, the muscle couldn’t withstand the  pressure from my inner belly, just like a breach on a dam. It is like, there is an overflowing fat in my belly and you can see it clearly.
But anyway, speaking of thirty, statistically speaking, i probably still have like 35 years or less to live in this world, if i am lucky. So lets hope, in the next 1, 3, or 30 years to come, I will be better  person and nicer to people.
And, perhaps, if there are words that can describe my feeling right now, It would be Sapardi’s words, Dalam Diriku.
Hello 30!
Dalam Diriku

Because the sky is blue
It makes me cry
(The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

Sapardi Djoko Damono, 1980

Gus Dur, Tentang Tuhan & Ketuhanan

Tulisan yang merupakan pengantar terhadap buku Romo Mangunwijaya ini saya ambil dari website islami.co. Tulisan yang apik menembus batas-batas agama dalam hubungannya dengan Tuhan dan Ketuhanan. Saya suka sekali dengan pandangan Gus Dur yang menunjukkan kualitas tauhid tingkat tinggi.

Gus Dur Bicara Tuhan

Abdurrahman Wahid

SEORANG awam mendatangi Nabi Muhammad, dan bertanya di manakah Tuhan berada. Nabi menjawab dengan pertanyaan, di manakah Tuhan menurut orang itu? Penanya tersebut lalu menjawab bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Nabi lalu membenarkan ucapannya itu. Para sahabat Nabi lalu mempersoalkan hal itu, sepeninggal orang tersebut. Mengapakah Nabi mengatakan Tuhan berada di langit, nun jauh di atas, padahal bukankah Ia berada di mana saja, karena Ia tidak terikat ruang dan waktu, serta tak mengenal bentuk? Dijawab oleh Nabi, bahwa bagi orang tersebut, Tuhan berada di atas, dan itu sudah cukup baginya.  

Riwayat tersebut menggambarkan betapa sulitnya menerangkan hakikat agama kepada manusia. Keserbaagungan Tuhan dan kemaha-mahaan lainnya yang dimiliki-Nya, tak dapat dijelaskan secara tepat kepada manusia. Sebabnya mudah saja: keterbatasan kemampuan manusia untuk menangkap kebesaran Tuhan. Kebesaran-Nya yang demikian mutlak, meniadakan kemampuan untuk hanya menetapkan satu cara saja untuk memahami-Nya. Dengan kata lain, pemahaman akan hakikat Tuhan mau tidak mau lalu mengambil bentuk berbeda-beda, dan dengan sendirinya pemahaman itu sendiri lalu berderajat. Tidak sama tingkat pemahaman Tuhan dari manusia ke manusia lainnya. Ada yang memahami-Nya demikian sederhana, seolah-olah Tuhan adalah sesuatu yang tidak kompleks sama sekali. Tuhan yang demikian adalah Tuhan yang dipahami secara sesisi: Maha Pemarah, Maha Penghukum, Maha Pembalas, dan seterusnya. Kepada manusia Ia adalah wajah kekuasaan yang mengerikan dan menakutkan, selalu siap dengan hukuman dan siksaan-Nya. Ia langsung menghukum setiap kesalahan, kelalaian dan kealpaan, bahkan sering kali hukuman-Nya sudah dijatuhkan sebelum kematian manusia dan ketika dunia belum kiamat. Penyakit menular dari sampar sampai cacar, bencana alam dari gempa bumi sampai banjir dan gunung meletus dan penindasan oleh bangsa-bangsa lain dijadikan contoh dari hukuman Tuhan itu.   Tuhan yang sesisi itulah yang paling banyak mencengkam benak manusia, dari masa ke masa dan dari agama ke agama. Hubungan Tuhan dan manusia dalam pemahaman seperti itu sangat bersifat mekanistik. Kau berjasa kepada Tuhan, kau akan diganjar dengan pahala. Sesuai dengan bagianmu, akan kau peroleh salah satu dari deretan sekian banyak imbalan, mulai dari kolam susu sampai bidadari ayu. Sebaliknya, kalau kau bersalah, hukuman akan jatuh dengan sendirinya. Boleh pilih, menurut tingkat dosamu, dari potong lidah hingga masuk penggorengan raksasa atau dipanggang menjadi manusia guling (ekuivalen kambing guling dari kehidupan dunia). Hubungan Tuhan dan manusia adalah hubungan hitam-putih, dengan spektrum sangat sempit dan tidak ada kemungkinan derajat pilihan cukup besar untuk mewadahi begitu banyak keragaman antarmanusia. Kalau ini yang dijadikan pola kehidupan beragama, masing-masing lalu berada pada kesempitannya sendiri. Jangankan dengan pemeluk agama lain, dengan sesama pemeluk satu agama pun akan terjadi perbedaan tajam. Pemahamanku adalah satu-satunya pemahaman yang benar, dan kau kafir karena kau berbeda dari pandanganku, dus kau bersalah. Neraka adalah bagianmu, dan surga adalah bagianku.  

Tak dapat diingkari lagi, pendekatan seperti itu terhadap agama tentu akan dipenuhi oleh keruwetan hubungan antarmanusia, yang sebenarnya justru jauh dari hakikat agama. Salah satu ciri utama agama adalah universalitas ajarannya, sehingga melampaui batas-batas perbedaan antarmanusia. Jika ini tidak terjangkau oleh pemahaman agama yang disebutkan di atas, dengan sendirinya peranan agama lalu diciutkan, yaitu hanya untuk membebaskan sekelompok manusia saja, bukannya membebaskan keseluruhan umat manusia dari kungkungan kemanusiaan yang penuh keterbatasan. Manusia yang tidak mampu membebaskan diri dari kungkungan itu sudah tentu tidak dapat mengangkat diri menuju pengembangan sifat-sifat keilahian yang hakiki dalam dirinya, padahal itulah yang justru diminta oleh agama dari manusia. Jadilah bayangan Tuhanmu, agar kau mampu mencintai-Nya, adalah inti dari imbauan agama kepada manusia. Bagaimana mungkin kau mencapai derajat kecintaan kepada Tuhan dalam ukuran paling tepat, kalau kau tidak mencintai manusia secara umum, karena Tuhan justru mencintai mereka?  

Tidak heranlah jika kaum mistik lalu mendambakan keintiman langsung antara manusia dan Tuhannya. Dari para pertapa Hindu dan Buddha hingga pendiri ordo Katolik dan para Sufi Muslim, mereka semua mendambakan kecintaan timbal-balik yang tulus antara Tuhan dan makhluk-Nya. Tuhan dilihat sebagai totalitas kebaikan dan kasih-sayang, dan manusia dilihat sebagai penerima kebaikan dan kasih-sayang itu. Karenanya, ia menerima Tuhan dengan kecintaan mutlak dan penghargaan setulus-tulusnya. Terasa benar kedua hal itu dalam ungkapan Sufi wanita Rabi’ah Al-‘Adawiyah: Ya Allah, tiadalah kusembah Engkau karena takut neraka-Mu atau tamak surga-Mu, melainkan kusembah Engkau karena Kau-lah zat tunggal yang patut kusembah. Luluhlah semua perintang di hadapan kecintaan seperti itu, hancurlah semua penghalang di muka ketulusan begitu mutlak.  

Memang tidak semua manusia dapat sampai ke tingkat pemahaman Ketuhanan seperti itu, karena memang ia adalah tingkatan khusus untuk sejumlah orang suci saja. Namun, ia sepenuhnya benar sebagai tolok ukur ideal bagi pemahaman yang seharusnya dimiliki manusia akan Tuhan-Nya. Nabi Muhammad menggambarkan bahwa Tuhan adalah sebagaimana dibayangkan oleh kawula-Nya, dalam arti Ia mampu mengisi segala rongga yang ada di benak manusia, dan semua sudut yang ada dalam hatinya. Al-Quran mengajarkan bahwa “Tuhan lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri”, namun pada saat yang sama Ia “duduk tegak di tahta-Nya”. Ini berarti Ia lebih besar dari apa pun rumusan manusia akan hakikat-Nya yang Mahasempurna. Sia-sialah upaya menjaring Tuhan hanya ke dalam sebuah pengertian saja. Seperti dikatakan para ulama Muslimin, boleh kalian rumuskan apa saja tentang Tuhan, tetapi jangan tentukan mekanisme kerja-Nya dalam menciptakan alam dan mengaturnya sekali. Boleh kalian sifati Tuhan dengan seberapa pun sifat yang dapat kalian kumpulkan, namun jangan tanyakan bagaimana sifat-sifat Tuhan itu menyatu dengan Zat-Nya. Jangan sebutkan bagaimana, kata Imam Hambali, bila kaifa dalam bahasa Arabnya.  

Gambaran keluasan wawasan Ketuhanan yang seharusnya dimiliki manusia, seperti dicoba untuk digambarkan di atas, rasanya merupakan “pintu masuk” yang tepat bagi buku Romo Y. B. Mangunwijaya ini. Penulisnya melihat hubungan manusia dan Tuhan dalam ketakterhinggaan ufuk Ketuhanan itu, yang melampaui semua perbedaan antarmanusia dan menjembatani semua kesenjangan dalam kehidupan dunia. Manusia pertama-tama tidak dilihat sebagai obyek “garapan Tuhan” saja, melainkan sebagai pelaku aktif yang dituntut untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam kehidupan nyata. Kalau boleh dirumuskan secara global, penghayatan iman seperti itu adalah penghadapan dan pertanggungjawaban keimanan kepada kehidupan. Keimanan bukanlah sesuatu yang abstrak dan berdiri sendiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan bagian utama dari kehidupan, karena ia harus mengarahkan kehidupan itu kepada suatu keadaan yang dikehendaki Tuhan.  

Karena Tuhan adalah Tuhan yang Baik, Pemaaf, Pemurah, dan Pengasih, maka manusia tidak dapat lepas dari keharusan mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat tersebut. Upaya mewujudkan sifat-sifat Tuhan itu dalam diri manusia tidak dapat berarti lain dari keharusan berbuat baik kepada sesama manusia, bersikap murah hati kepada mereka, mudah memaafkan kesalahan mereka, dan senantiasa berusaha mengasihi mereka. Sudah tentu tuntutan itu berujung pada keharusan manusia untuk senantiasa memikirkan kesejahteraan bersama seluruh umat manusia, bahkan kesejahteraan seluruh isi alam dan jagad raya ini. Tuntutan keagamaan seperti itu mengharuskan tumbuhnya pandangan tersendiri dalam diri manusia, dan itu akan diperoleh manakala religiositas ditanamkan dalam dirinya sejak masa anak. Bahwa “pendidikan agama” yang konvensional selama ini hanya menekankan penguasaan rumusan-rumusan abstrak tentang Tuhan dan penumbuhan sikap formal yang menyempitkan wawasan anak tentang Tuhan, akhirnya mendorong penulis buku ini untuk mencoba memetakan secara sederhana bagaimana seharusnya religiositas anak dikembangkan dan dibina.  

Dalam kitab Al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangatmu kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah. Kesadaran dan pemahaman akan Tuhan terkait sepenuhnya dengan percontohan yang harus diberikan tentang bagaimana seharusnya bergaul dengan Tuhan.  

Keteladanan adalah kata kunci dari kerja mengembangkan religiositas dalam diri anak. Keimanan anak adalah sesuatu yang tumbuh dari pelaksanaan nyata, walaupun dalam bentuk dan cakupan sederhana, dari apa yang diajarkan. Karenanya, Tuhan yang abstrak tidak akan menciptakan religiositas, karena Ia tidak tergambar dalam keteladanan yang kongkret. Berikan kepada anak sosok Tuhan yang sangat abstrak, dan ia hanya akan menjadi beo peniru rumusan tanpa mampu memiliki religiositas sedikit pun. Letakkan pemahaman anak itu akan Tuhan dalam bentuk yang kongkret, yang dapat diwujudkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan ia akan mengembangkan dalam dirinya religiositas penuh. Religiositas yang merasa prihatin oleh gugahan keprihatinan orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Religiositas yang dalam lingkupnya sendiri mampu membuat anak itu di kemudian harinya mempertanggungjawabkan keimanannya sendiri kepada kehidupan.  

Sebuah kisah menarik dari khazanah kaum Sufi dapat dikemukakan di sini. Seorang wanita saleh tidak mau memberi minum kepada kucing yang dikurungnya, hingga kucing itu mati. Sedangkan seorang wanita pelacur suatu ketika menolong anjing yang tersesat di padang pasir dari kematian karena kehausan, dengan jalan memberikan kepada anjing itu persediaan terakhir air minumnya. Dilakukannya hal itu dengan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri. Di hari kiamat, sang wanita saleh dimasukkan neraka, karena kekejamannya jauh melampaui kesalehannya, sedangkan sang pelacur masuk surga karena kasih-sayangnya menyelamatkan makhluk lain, dan itu melebihi semua kesalahan dan kebobrokan moralnya. Mungkin dalam cerita inilah dapat ditemui gambaran kongkret akan religiositas, jika dimaksudkan dengan itu pertanggungjawaban keimanan kepada kehidupan. Religiositas dalam arti pemahaman bahwa ajaran formal agama belaka tidak akan mampu membentuk keimanan yang mampu meneropong kehidupan dalam segala keluasan dan kelapangannya. Ajaran formal itu masih harus dikongkretkan dalam sikap-sikap yang menghargai kehidupan dan memuliakan kedudukan manusia. Religiositas yang tidak terpaku pada pembenaran diri sendiri atau ajaran sendiri saja, melainkan yang sanggup membuat manusia menghargai sesamanya, betapa jauhnya sekalipun perbedaan antara mereka dalam keyakinan agama.  

Tuhan yang ditanamkan pada diri anak, kalau diikuti garis pemahaman tersebut, adalah Tuhan yang mewujudkan diri dalam bentuk kongkret bagi anak. Tuhan milik anak, bukan hanya Tuhan milik kaum agamawan, apalagi Tuhan yang dimonopoli para teolog. Kalau Romo Mangunwijaya dalam buku ini meminta pengembangan anak yang menjadi milik Tuhan, dengan segala keindahan yang ada pada diri anak seperti itu, maka di akhir kata pengantar ini patutlah disambut ajakan itu dengan mengimbau agar hal itu dicapai melalui pengembangan wawasan yang akan menampilkan Tuhan yang menjadi milik anak. Menjadikan Tuhan milik anak, agar anak menjadi milik Tuhan, kalau meminjam peristilahan masa kini (seperti menyadarkan masyarakat dan memasyarakatkan kesadaran).

Mampukah kita semua, dengan melupakan semua perbedaan agama dan keyakinan masing-masing, melakukan kerja itu? 

Iqra ! Bacalah !

Einstein pernah bilang, ada dua hal yang tidak terbatas di dunia ini; alam semesta dan kebodohan manusia, ia tidak yakin dengan yang pertama.

Tanggal 5 Desember lalu, setelah menyelesaikan diving terakhir dari rangkaian trip saya selama delapan hari di Raja Ampat, kami menuju ke Pulau Mansuar untuk istirahat sebelum kembali ke Sorong. Di Pulau Mansuar, sinyal telepon genggam cukup kuat, dan akhirnya setelah hampir satu minggu mati suri, telepon genggam saya menyalak kembali oleh sms, notifikasi media sosial dan email. Saya segera membuka-buka twitter untuk mengetahui perkembangan berita yang sudah seminggu saya tinggalkan. Banyak berita terlewat, namun yang paling menyedihkan adalah kematian Nelson Mandela setelah berbulan-bulan menderita infeksi paru. Tapi hal yang paling menyedihkan bukan kematian Mandela, tapi posting teman saya tentang beberapa remaja Indonesia yang tidak tahu siapa Nelson Mandela, padahal sebelumnya para remaja itu menyatakan duka cita atas kematian Paul Walker, bintang Fast & Furious.

Saya sedih, kenapa tokoh yang  berjuang melawan diskriminasi warna kulit, yang merupakan pencapaian besar di abad 20 ini bisa luput dari ingatan anak-anak muda Indonesia. Ah andaikata yang tidak tahu adalah anak-anak dari kepulauan Raja Ampat, mungkin saya bisa memakluminya karena keterbatasan akses informasi dan kurangnya mutu pendidikan. Tapi yang tidak tahu adalah anak-anak pengguna Twitter yang tinggal di Kota besar, yang belajar sejarah dan menonton televisi, yang dengan ketikan jarinya di tuts komputer atau layar telepon genggam saja bisa mencari tau siapa itu Nelson Mandela.

Ada apa dengan anak-anak muda ini? mengapa begitu tidak peduli dengan sejarah? Apa di sekolah tidak ada pelajaran sejarah? Mungkin remaja ini tidak paham bahwa siapa tidak tahu sejarah akan dikutuk mengulang sejarah, kata Edmund Burke, filosof Irlandia. Untuk belajar sejarah diperlukan minat baca yang tinggi, karena ketika mempelajari sejarah, kita akan masuk dalam ke runutan cerita yang menggambarkan latar belakang suatu kejadian. Mungkin itulah masalahnya, Kita tidak memiliki budaya membaca yang mengakar, terutama di institusi pendidikan. Institusi pendidikan di Indonesia terlalu berorientasi kepada hasil dan tidak kepada proses. Akibatnya, pelajar lebih suka belajar dari soal-soal tahun lalu dibandingkan mengerti suatu konsep, akhirnya minat baca rendah dan pengetahuan umum dan sejarah lemah.

Mungkin karena lemahnya budaya membaca, kita tidak mampu berpikir dengan kritis, dan akibatnya kita mudah direcoki oleh dogma-dogma. Kita bisa melihat lemahnya orang Indonesia berpikir kritis. Coba perhatikan keriuhan dunia perpolitikan kita yang irasional. Atau kehidupan beragama kita yang simbolis & dogmatis,  belum lagi sinetron yang betapa jelas dibuat-buatnya seolah meledek intelektualitas orang Indonesia. Pantas saja kita terus menerus tersungkur ke jurang kebodohan yang dalam dan tak terbatas. Hasil penilaian kualitas pendidikan anak-anak Indonesia  (PISA & TiMMS) menunjukkan anak-anak Indonesia secara konsisten berada di peringkat terbawah.

Tak lama kemudian, seorang teman saya sharing foto hasil capture di Facebook, gambar Morgan Freeman yang beri komen RIP Nelson Mandela. Ya Allah, kebodohan memang tidak terbatas…