Jiuzhaigou

Pecahan surga itu terserak di sebelah barat daya Cina, di daerah pegunungan Min Shan, 330 km sebelah utara Chengdu. Konon, 114 danau yang tersebar di sekitar wilayah Jiuzhaigou adalah pecahan cermin pemberian dewa Dage kepada Dewi Wonuosemo. Terlalu bersemangat, Wonousemo menjatuhkan cermin tersebut dari genggamannya dan pecah menjadi danau di Jiuzhaigou. Oktober lalu, kami mengunjungi pecahan surga tersebut. Pecahan surga tersebut dikemas dengan manajemen Ekoturisme yang sangat baik. Kapitalisasi pecahan surga itu mampu mengambil keuntungan dari pertumbuhan warga kelas menengah Cina yang haus liburan dan eksis di dunia maya.

Seperti daerah wisata lain, apapun yang ada di sekitaran taman nasional amit-amit mahalnya. Transport contohnya, karena kami tiba hampir malam, taksi yang harusnya Y 220 jadi Y 360 satu kali perjalanan. Shuttle bus yang dijanjikan di website hanya pepesan kosong, tak ada bus beroperasi sore hari.  Hotel busuk yang tidak dibersihkan yang aku tempati sama harganya dengan hotel bintang 3 di Shanghai. Jikalau mau tinggal di hotel berbintang macam Holiday Inn atau Intercontinental siap-siap saja merogoh kantong lebih dalam. Dan dari penelusuranku tidak ada harga in-beetwen, kita harus menerima either cheap and filthy atau expensive and fancy.

Jiuzhaigou di akhir Golden Week masih ramai. Grup turis Cina dengan pemimpin rombongan yang memegang bendera berteriak-teriak mengatur grupnya jadi pemandangan dominan di Jiuzhai. Sementara turis asing yang merupakan minoritas (seperti kami) sering terbelalak melihat harga makanan/souvenir yang luar biasa mahal. Menjelang musim gugur, beberapa cemara sudah mulai kemerahan, wangi daun gugur pun merebak, dan udara mulai dingin. Sayang kami terlalu cepat pergi ke Jiuzhai karena musim belum sampai puncaknya, karenanya warna warni dedaunan musim gugur tidak terlalu terlihat.

Idealnya Jiuzhaigou dijelajah minimal dua hari karena wilayah luas, danaunya yang banyak dan boardwalknya yang cakep banget. Harga tiket masuk Taman Nasional Jiuzhagihou barangkali adalah tiket taman nasional yang termahal di dunia. Tiket masuk ke Jiuzhai Y 310/orang/per hari. Aku dan istri bela-belain bayar mahal demi menikmati pengalaman baru jalan-jalan di Taman Nasional yang ramah kepada turis.

Jiuzhaigou

Jiuzhaigou

Okelah, karena harganya yang mahal dan lokasinya yang jauh akan kuberikan skenario terbaik bagaimana mengatur waktu di Jiuzhaigou agar tiket masuk seharga Rp 620.000/orang/hari itu tidak sia-sia. Skenario ini kubuat untuk dua hari di Jiuzhaigou.

Coba tengok peta di bawah ini, Jiuzhaigou Natural Park berbentuk seperti huruf Y dengan pintu masuk di dasar huruf Y tersebut. Angka satu dan dua yang kutulis di peta merupakan jalur hari pertama dan hari kedua. Lokasi yang kulingkari merupakan lokasi titik pertemuan dan lokasi  terminal bus. Jarak antar danau ada yang jauh dan ada yang dekat. Apabila mengejar waktu, naik bus paling cepat, namun apabila mau menikmati pecahan surga itu sampai ke pori-porinya, kamu bisa jalan di Boardwalk yang disediakan.

Peta Jiuzhaigou

Hari 1

Usahakan  bangun pagi dan datang sedini mungkin ke pintu masuk taman nasional. Kalau bisa jam 7 sudah di pintu gerbang. Di peak season, pintu masuk Taman bisa rusuh banget. Dari pintu gerbang kita akan digiring seperti sapi bersama kawanan besar turis-turis Cina untuk naik shuttle bus menuju Tourist Center.

Park Entrance

Hordes of Chinese

Namun di Peak Season, tak ada bus yang menuju Tourist Center. Kamu akan diturunkan di Shuzeng Valley, perkampungan besar Tibet. Dari sini, kita diharuskan jalan ke tourist Center untuk menentukan apakah mau ke Primeval Forest atau ke Long Lake.

Shuzeng Valley in the morning

Shuzeng Valley in the morning

Untuk hari pertama sebaiknya santai saja di Shuzeng Valley dan nikmati dengan berjalan kaki di Reed Lake, Shuzang Lake, Rhinoceros Lake sampai air terjun Nuo Ri Lang di sepanjang jalan menuju Tourist Center. Pagi hari, apalagi pada peak season orang ramai sekali di jalur ini. Tak usah diambil pusing.  Saranku, santai saja nikmati pemandangan sambil foto-foto. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati pemandangan dan antri foto ditengah kumpulan besar orang Cina. Ada dua jalur untuk menuju tourist center, pertama menyusuri boardwalk di sisi jalan, atau menyusuri boardwalk di seberang jalan. Saranku, saat berangkat pergi menyusuri jalan, dan baliknya menyusuri seberangnya.

Shu Zeng Falls

Shu Zeng Falls

Sesampainya di Tourist Center. Langsung ambil bus menuju Long lake. Jarak dari tourist center ke Long Lake cukup lumayan, sekitar 20 menit naik shuttle bus. Long lake berada pada ketinggian 3,100 m. Bila kamu seperti aku yang belum sempat aklimatisasi, maka pasti akan merasa pening, terhuyung-huyung dan lemas. Karena lokasinya yang tinggi, oksigen di udara tipis sehingga metabolisme anak pesisir seperti aku kaget, makanya lemas. Namun jangan kuatir pengalamanku ini hanya berlangsung sebentar, hanya beberapa jam. Setelah itu, kamu akan baik-baik saja.

Long Lake adalah danau terbesar, dan terdalam di seluruh danau yang ada di Jiuzhaigou. Latar belakang Long Lake adalah dua buah gunung yang tepinya bertemu, persis seperti gambar saat kita masih kanak-kanak. Tidak perlu kujelaskan, pemandangannya sangat cantik.

Long Lake Jiuzhaigou

Long Lake Jiuzhaigou

Setelah Long Lake berjalan kakilah sedikit menuju Five Colour Pond. Tidak seperti namanya, aku cuma lihat satu warna di Five Colour Pond ini, yaitu biru yang jernih. Sumpah ini adalah danau terjernih yang pernah kulihat. Apalagi saat kami ke sana cuaca sedang cerah, makin kinclong aja itu warna danau. Konon danau ini tempat dewi Semo mencuci rambutnya, warna danau itu dari lunturan wajah Dewi Semo.

Five Colour Pond

Lepas dari Five Colour Pond hari biasanya matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar. Ada beberapa pilihan, untuk rekan yang gak mau mengeluarkan uang untuk makan makanan yang kelewat mahal dan tidak enak di Restoran Nuo Ri Lang, bisa membeli bento instan yang ajaib.  Kenapa ajaib? karena bento ini cuma perlu air biasa untuk memanaskan. Aku tak mengerti prosesnya namun aku lihat banyak orang makan ini. Aku sampai penasaran di mana mereka dapat air panas, tapi setelah kutelisik, ternyata cuma air biasa yang dicampur semacam gel yang sudah ada di bento tersebut. Tapi untuk muslim harap hati-hati, kecuali kamu bisa bahasa mandarin, kita tidak pernah tahu apa isi bento tersebut.

Restoran Nuo Ri Lang

Lepas makan, turunlah ke Nuo Ri Lang dan kali ini terlusuri board walk dari seberang jalan, niscaya kamu akan melihat sudut pandang yang berbeda. Dan biasanya setelah makan siang, turis-turis Cina sudah kehabisan tenaga jadi jalan ini agak sepi. Ideal. Kamu bisa berjalan pelan-pelan sambil ngobrol, bercanda dan foto-foto.  Percayalah 4-5 jam berjalan di sepanjang danau ini sama sekali tidak kerasa. Hiking paling nikmat di Jiuzhaigou pada kondisi ini, sepi, pemandangan indah, dan bersama orang terkasih.

Duduk Duduk

Duduk Duduk

Berjalan seharian akan membuat lelah. Jam 17.00  bersiap-siaplah untuk pulang, simpan tenaga dan bekal untuk besok. Kesalahan kami di hari pertama adalah bekal cemilan yang kelewat sedikit sehingga kami sering iri melihat turis-turis cina yang hobi makan itu sering sekali makan camilan.

Hari 2

Sama seperti hari pertama, datanglah lebih pagi dan jangan lupa bawa camilan lengkap kemudian langsung  menuju ke shuttle bus dan bergegas jalan menuju tourist station dari Shuzeng Valley.

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Primeval Forest berada pada ketinggian 2930 m dpl. Menurut penelitian, kandungan ion negatif di hutan ini lebih tinggi dari daerah lainnya. ion negatif membuat kita merasa lebih tenang, mengurangi stress dan meningkatkan energi. Buatku keberadaan negatif ion ini tidak mempengaruhi stressnya aku menghitung pengeluaran dan melihat isi dompet di hari-hari terakhir di Cina.

High Negative Ion Forest

High Negative Ion Forest

Dari Primeval forest kita harus naik bus menuju ke grass lake karena jauh. Grass lake, swan lake dan arrow bamboo lake adalah danau kesukaan istriku karena ada rerumputan yang tumbuh di tengah danau ini.

Arrow Bamboo Lake

Arrow Bamboo Lake

Grass lake

Grass lake

Jalan di jalur dua ini sama sekali tidak terasa karena jarak antar danau tidak terlalu jauh dan jalan setapak yang disediakan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik. Tanpa sadar, tau-tau matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar saja. Kami yang rencananya mau makan di restoran tidak jadi karena waktu tiba-tiba sudah jam 14.00, akhirnya kami makan camilan saja. Aku sarankan rekan melakukan hal yang sama dengan membawa mi instan, roti atau camilan.

Stunning View

Stunning View

Naracap

Naracap

Dari semua hal yang kami lihat di Jiuzhaigou, yang paling gila adalah Pearl Shoals yaitu boardwalk di area dangkal berarus deras sebelum masuk ke air terjun. Niat banget pengelola kawasan ini dalam membangun infrasturktur. Pantas saja harganya mahal. Aku dan istri benar-benar kagum dengan area Pearl Shoals ini. Ujungnya Pearl Shoals adalah air terjun terbesar yang menjadi icon Jiuzhaigou, yaitu Pearl Shoals Waterfall.

Pearl Shoals

Pearl Shoals

To The Waterfall

To The Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Jiuzhaigou telah membawa Taman Nasional ke level baru. Lokasinya yang mudah diakses, boardwalk sepanjang 70 km memudahkan turis dalam mengakses keindahan pecahan surga ini. Yang paling mengagumkan adalah cara manajemen taman nasional ini dalam membuat turis-turis lokal cina disiplin tidak merokok dan membuang sampah sembarangan. Aku sudah cukup melihat bagaimana perilaku turis Cina yang menyebalkan dan tidak tau aturan. Tapi di Jiuzhaigou manajemen mampu menerapkan disiplin yang ketat kepada turis-turis Cina.

Kalau kamu ke Cina, aku kira kamu tak boleh melewatkan Pecahan surga ini. Kamu bisa melihat contoh ekoturisme yang sempurna. Kamu bisa melihat bahwa upaya yang sungguh-sungguh dalam mengelola sumber daya alam bisa memberikan keuntungan kepada alam itu sendiri (terjaga) dan penduduk lokal yang tinggal di dalamnya.

Iklan

Berenang di Jakarta? Mahal

Di akhir bulan November aku cuti beberapa hari di Jakarta untuk menemani istri operasi laparoskopi kista di Rumah Sakit Pondok Indah. Tinggal 3 hari di Jakarta, terutama di Rumah Sakit membuatku bosan dan minim gerak karena kerjanya hanya duduk, makan, nonton TV, sambil sesekali ngobrol sama keluarga yang datang menjenguk.

Ketika istri diizinkan keluar dari rumah sakit dan istirahat di rumah, aku langsung browsing-browsing dan tanya-tanya kolam renang di sekitaran Cilandak dan Cinere. Istri dan adik ipar menyarankan kolam renang Cilandak Sport Center di Citos namun dia bilang hati-hati karena di Citos banyak gay yang bikin males renang. Aku mikir, anjir, ketemu gay aja udah serem apalagi ketemunya di kolam renang. Saking sudah kepinginnya berenang akhirnya aku paksain aja berenang di Citos. Namun ada hal lain yang aku lupa, ternyata aku lupa bawa kacamata dan celana renang. Tanya-tanya sama orang rumah ternyata gak ada yang punya. Mau gak mau aku beli dulu kacamata dan celana renang itu. Paling dekat toko olahraga di rumah mertua ada di Cinere Mall. Jadi jadwalku hari itu, pergi ke Cinere Mall, beli celana dan kacamata renang kemudian baru ke Citos.

Aku yang biasa hidup di Bontang yang kalau mau ke kolam renang atau pergi ke manapun waktu perjalanan tidak sampai 10 menit, santai sekali. Aku keluar dari Villa Cinere Mas menuju Cinere Mall jam 4 sore. Aku lupa bahwa ada jalan laknat yang bernama Karang Tengah. Walaupun hari minggu sore, Karang Tengah arah Cinere Mall padat merayap. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Cinere Mall belum termasuk belanja. Aku baru bisa jalan menuju Citos lepas maghrib. Sekitar jam setengah tujuh, aku sudah sampai di Citos, untungnya Citos di hari minggu tidak penuh-penuh amat sehingga tidak sulit cari parkir.

Ada dua kolam di Citos, yaitu kolam besar (bukan kolam olimpik) dan kolam kecil. Dimensi Kolam besar sekitar 23 x 50 m, mirip dengan kolam olimpik hanya saja kedalamannya yang berbeda.  Sepintas aku senang karena kolam fasilitas di sini lengkap, tidak seperti di Bontang. Sebelum masuk kolam ada loker dan kamar mandi yang cukup banyak, ada shower untuk bilas dan kursi di pinggir kolam renang melimpah. Hal lain yang membuat aku senang, kolam ini buka sampai jam 10 malam. Dan ini pertama kalinya aku renang malam-malam.

Rasa senang itu rupanya hanya sementara. Persis ketika aku nyebur ke kolam kebahagiaanku sedikit demi sedikit tergerus. Hal yang pertama kurasakan adalah airnya yang engga enak, keset dan berasa asin. Jangan-jangan air kolam ini gak pernah diganti sehingga jadi kolam keringat, iyuuh!! Namun aku mencoba tidak memikirkannya dengan berenang lebih cepat. Hal lainnya yang membuat kebahagiaan berenang luntur adalah kolamnya yang dangkal dan banyak orang yang berenang tidak beraturan. Besarnya proporsi kolam dangkal membuat orang-orang seenaknya berhenti dan main-main di tengah kolam sehingga jalur yang sudah kutentukan kerap harus berubah-ubah bahkan kadang harus menunggu orang lewat supaya gak tabrakan. Setelah puas satu jam berenang (baru kali ini aku puas-puasin berenang lama karena gak mau rugi soalnya harganya mahal Rp 55K), kemudian aku mandi dan sebelum pulang mau cari buah dan camilan di Citos.

Di Bontang, walaupun tidak ada shower di kolam untuk bilas, tidak buka malam dan kursi nunggunya gak banyak, kondisi airnya jauh lebih baik dan bening. Kolamnya dalam sehingga tidak ada yang main-main dan berhenti seenaknya di tengah jalur walaupun jalur penuh. Selain itu yang paling penting, berenang di Bontang gratis! aku gak pernah itung-itungan waktu berenang dan tidak pernah mikirin bayar parkir dan sebagainya.

Sambil perjalanan pulang ke rumah, aku membayangkan betapa mahal dan repotnya kalau mau rutin berenang di Jakarta. Aku membayangkan apabila kebiasaanku di Bontang diterapkan di Jakarta yaitu berenang rutin seminggu  dua sampai tiga kali, pasti akan repot dan menyebalkan sekali. Berapa waktu yang harus ditempuh dari kantor/rumah ke kolam, dan berapa biaya untuk berenang, belum lagi parkir dan jajan. Mungkin kalaupun mau serius berenang bisa dilakukan pas wiken, itupun harus siap bangun pagi dan menyesuaikan dengan jadwal nongkrong.

Jakarta memang hampir memiliki segalanya, tapi aku rasa Jakarta kehilangan hal yang penting dan sederhana yaitu kemudahan mengatur jadwal. Untuk hal ini, aku bersyukur bisa tinggal di Bontang dan bisa merayakan hal-hal sederhana seperti mengatur jadwal untuk berenang.

Beijing

Beijing adalah Kota dengan sejarah panjang, perebutan kekuasaan, tipu-tipu dan bunuh membunuh terjadi di Kota ini selama ratusan tahun. Kekaisaran Cina terakhir pun jatuh di Beijing. Sebagai Kota bersejarah, kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan yang membentuk wajah Beijing. Hal ini bisa kita lihat di distrik Dongcheng. Sebagai first timer ke Cina, tentu saja kami ingin menyerap sisa-sisa kejayaan tersebut. Oleh karenanya kami tinggal di “old-town“, di salah satu hutong atau gang, yaitu fangjia Hutong.

Beijing di bulan Oktober sudah memasuki awal musim gugur. Udaranya sejuk dan cukup nyaman. Polusi udara yang konon tinggi di Beijing tidak kami rasakan, entah karena kami tidak cukup sensitif atau memang Pemerintah Beijing sudah mengetatkan ambang batas emisi dari industri di sekitar Beijing. Di sore dan malam hari Beijing cukup dingin, sekitar 15 derajat, namun di siang hari bisa 24 derajat. Kota Beijing sedikit lebih kotor dan rusuh. Orang-orangnya juga lebih lihai tipu-tipu.

Di Stasiun Dongzhimen kami pertama kali diperas oleh sopir taksi, untungnya kami mengetahui tipu-tipu sopir taksi dan balik kanan memilih naik subway. Tipu-tipu merupakan hal biasa di Beijing, untuk menjaga tetap sadar, gunakanlah akal sehat. Walaupun begitu, kami berdua bisa merasakan dinamika dan gemerlap Beijing. Di akhir Golden Week, Beijing padat pengunjung dan turis lokal mendominasi tempat-tempat wisata. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah menarik yang terserak di sekitar Beijing. Namun sebetulnya kami hanya menginginkan dua hal, ke tembok Cina dan bersepeda di Kota Tua Beijing.

IMG_0468

Wedding Venue

Kami menginap di Hotel Nostalgia di Fangjia Hutong, yang sepertinya merupakan bagian dari industri kreatif di Beijing. Hotel kami sangat unik, karena desain interiornya mengambil konsep “vintage“. Seluruh barang dan pernak pernik di Hotel itu bergaya 60an.  Hotel kami bersebelahan dengan kantor desain yang dipenuhi anak-anak muda Beijing yang trendi. Di depan hotel kami ada restoran yang memiliki sedikit lapangan rumput di depannya. Ternyata lapangan rumput itu dijadikan venue pernikahan modern ala barat. Kami dua kali melihat ada pernikahan di lapangan rumput itu.   Keistimewaan tinggal di Hutong adalah dekat dengan jajanan. Tidak sulit untuk menemukan tempat makan di dekat Fangjia Hutong, restoran halalpun persis di depan hutong. Hotel Nostalgia tidak terlalu mahal, semalam sekitar 600 – 700 ribu, belum termasuk sarapan.

Great Wall

Seperti saran teman kantorku, kalau mau ke Great Wall ikut saja tur dari Hotel. Aku percaya dan sarannya kuikuti. Sebetulnya, aku ingin ke Great Wall di bagian Jinshanling yang lumayan jauh dari Cina karena sepi, pemandangan bagus dan bisa melihat reruntuhan (ruin) dari Great Wall. Namun, ketika aku mau booking, ternyata tur ke Jinshanling sudah tutup. Aku yang tidak sempat memikirkan plan lain karena sudah malam, akhirnya milih Badailing, spot populer yang sebetulnya sudah tidak kelihatan bentuk aslinya karena restorasi.

IMG_0621

Badailing Great Wall

Tur ke Badailing per orang harganya 280 Yuan atau 560 ribu rupiah. Ini sudah termasuk antar-jemput dan makan siang namun belum termasuk tip. Tur guide di Cina sangat blak-blakan dan berani. Dia tidak sungkan untuk minta tip dengan nominal tertentu. Dia minta 90 yuan atau 180 ribu rupiah untuk tips. Kami yang sudah lelah dan malas berdebat akhirnya memberikan tip yang dia minta.

Ikut tur di Cina penuh tipu-tipu dan lucu. Acara utama tur adalah Great Wall, namun tur ke tempat belanjanya lebih lama daripada Great Wallnya. Justru menurutku, Badailing Great Wall biasa saja, tidak istimewa.  Pengalaman keliling toko belanja itu yang lucu dan berkesan. Sebelum ke Great Wall, kami di bawa ke tempat penjualan Giok yang harganya gila-gilaan mahalnya, si mbak yang jual kekeuh menjelaskan ke saya tentang manfaat dan nilai investasi Giok. Kemudian setelah selesai hiking di Great Wall, kami di bawa ke “Pusat Pengobatan Herbal” di mana kami dipijat refleksi sambil ditawarin obat yang harganya juga gila-gilaan. Namun harus diakui, diagnosa dokter herbal itu sangat akurat, walau hanya melihat telapak tangan dan lidah. Dia bisa menebak dengan tepat kelemahan aku dan istri di bidang kesehatan. Itu yang menjadi senjatanya untuk mendorong kami membeli obat yang mahal. Aku yang sudah membaca motifnya terus menerus mengelak dan beralasan. Yang terakhir sebelum pulang, kami diajak ke peternakan ulat sutera. Sutera tersebut dijadikan selimut dan seprai, di sini tidak ada pemaksaan, kami hanya duduk sambil menunggu waktu pulang saja.

Bersepeda di Old Town

Beijing sejak dulu terkenal dengan aktivitas pengendara sepedanya. Bahkan tahun 1960-1970 Kota Beijing terkenal dengan “Bicycle Kingdom“. Namun seiring peningkatan ekonomi Cina dan hadirnya sepeda listrik, perlahan-lahan sepeda semakin kurang populer. Namun begitu, terasa sekali privilese seorang pengendara sepeda. Di Beijing ada jalur khusus pesepeda yang dilindungi oleh semacam pagar, pesepeda juga bisa keluar masuk hutong (gang) dengan bebas. Ketika aku bercerita kepada seorang inggris yang kami temui saat tur Greatwall mengenai serunya bersepeda di Beijing, dia menanyakan apakah itu aman, mengingat perilaku pengendara Beijing yang ugal-ugalan. Aku bilang cukup aman karena pesepeda punya jalur sendiri. Yang riskan adalah ketika masuk perempatan, disitulah kita harus berhati-hati dan mengikuti perilaku pesepeda Beijing.

Sepedaan di Hutong

Sepedaan di Hutong

Downtown Beijing konturnya datar sehingga nyaman sekali untuk sepedaan. Tempat menyewakan sepeda juga banyak, kamu tinggal nanya saja sama resepsionis Hotel. Biaya sewa sepeda sekitar 15 – 30 Yuan per hari dengan deposit 300 yuan per sepeda. Kamu harus pintar-pintar nawar, aku gak pintar nawar jadi kena 30 Yuan per hari.

Drum & Bell Tower

Banyak hal yang bisa dilihat di Kota Tua Beijing karena taman-taman dan bangunan-bangunan tua terserak di sekitar Tianamen Square seperti drum tower, Beihai Park, Jingshan Park, dan Shicahai Lake. Yang paling istimewa adalah hutong atau gang-gangnya. Menarik sekali bersepeda masuk ke hutong, melihat kampung-kampung Cina yang mirip sekali dengan Indonesia (joroknya).

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Siputnya enak walaupun kebanyakan bumbu

Sepedaan di Beijing tidak terlalu sulit. Ketika sudah satu-dua kali melewati suatu area, kita bisa mengandalkan intuisi untuk mengetahui arah. Park-hopping ( ada gak sih istilah ini) paling enak naik sepeda. Contoh, kalau mau liat danau di Shicahai, tinggal parkir di pinggiran Shicahai, kunci sepeda, terus jalan-jalan plus jajan deh di sekitaran Danau Shicahai. Mau pergi agak jauh juga bisa, malam-malam kami sepedaan sampe Donghuamen Night Market untuk ngeliat gerai makanan aneh yang overrated plus mahal. Kami pergi tanpa peta, hanya pake naluri, nyasar beberapa kali tapi masih bisa nentuin jalan dengan nanya orang.

Cafe

Hal lain yang mengejutkan dari Cina adalah cafenya yang lucu dan unik. Tidak seperti Jepang yang cafenya standard, kaku dan di mana-mana sama. Cina lebih kreatif dalam bikin cafe. Dari tiga cafe yang kami tongkrongi, semuanya konsepnya berbeda-beda, kopi dan makanannya pun surprisingly good. Cafe paling unik ada di Nanluogoxiang, tempat paling hip dan juga (mungkin) paling mahal di beijing. Capek sepedaan, kami mampir di Peking Cafe. Atmosfer cafenya cewe banget, dengan bunga kering tergantung di langit-langit dan bunga-bunga segar tersebar di sekitaran cafe. Atmosfer yang unik sebanding juga dengan harganya yang mahal, satu cangkir kopi bisa seharga 50 yuan atau Rp 100,000.

Peking Cafe Nanluogoxiang

Peking Cafe Nanluogoxiang

Cafe lainnya yang kami coba ada persis di depan hotel kami. Karena tulisan Mandarin yang aku tidak ngerti, mari kita sebut saja Cafe Hutong. Cafe ini walaupun simple, namun unik dan cukup berkarakter. Aku lihat, cafe ini pernah jadi lokasi syuting artis Korea (istriku penggemar film Korea, jadi dia tau banget film Korea). Cafe ini temanya Cina klasik, jadi ornamen dan hiasannya dari barang-barang kuno. Di Fangjia Hutong juga ada cafe lainnya yaitu  Remo Cafe yang bergaya retro. Kami mengunjungi Cafe ini sebelum berangkat ke Airport menuju Jiuzhai. Karena saat itu masih jam 8 pagi, Cafe ini baru buka. Kami tidak berharap banyak dari Remo Cafe, namun ternyata kopi dan menu sarapannya enak banget. Istriku penggemar kopi dan makanan, jadi dia tau benar mana kopi yang enak dan yang tidak. Kalau aku, hampir tidak bisa membedakan, hehe.

Cafe vintage Fangjia Hutong

Cafe vintage Fangjia Hutong

 

Beijing adalah Kota tua yang masih punya pesona. Bagi rekan yang menyukai sejarah, Kota ini menyimpan kenangan-kenangan di setiap pori-porinya. Kota ini juga cukup hip, denyut seni modern berdegub cukup kencang di sini. Kita bisa melihat anak-anak muda Cina yang dengan sistem politik komunis masih bisa berkreasi dan berkarya, bahkan lebih menarik dari Jepang yang agak membosankan.

Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia
yang pintar dan lucu walau kadang rumit
dan membingungkan. Ia mengajari saya
cara mengarang ilmu sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih;
bahwa ingin berawal dari angan;
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;
bahwa segala yang baik akan berbiak;
bahwa orang ramah tidak mudah marah;
bahwa seorang bintang harus tahan banting;
bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa;
bahwa orang lebih takut kepada hantu
ketimbang kepada tuhan;
bahwa pemurung tidak pernah merasa
gembira, sedangkan pemulung
tidak pelnah melasa gembila;
bahwa manusia belajar cinta dari monyet;
bahwa orang putus asa suka memanggil asu.

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku
ke sebuah paragraf yang tersusun di atas
tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi
kalimat majemuk bertingkat yang panjang
di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat.
ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat
paham bahwa pulang adalah masuk
ke dalam palung. Ruang penuh raung.
segala kenang tertidur di dalam kening.
Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah
menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap
tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.

(Joko Pinurbo, 2014)

Si Muka Monyet

Beberapa hari lalu, teman kantor posting foto di depan Osakajo atau Osaka Castle lewat Path. Atapnya yang bertingkat-tingkat membawaku kembali ke tiga belas tahun lalu ketika pertama kalinya aku baca Taiko karya Eiji Yoshikawa yang menceritakan hidup Toyotomi Hideyoshi, “si muka monyet” yang memerintahan pembangunan Osaka Castle.Aku lupa apakah menamatkan buku setebal 1200 halaman ini atau tidak. Tapi yang kuingat, buku itu hanya dibaca di kelas saat pelajaran berlangsung 😀

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle, 2010

Osaka Castle menjadi tempat penting dalam unifikasi Jepang. Setelah pengkhianatan Akechi Matsuhide terhadap Oda Nobunaga pada peristiwa Honnoji, Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga berkat kemampuan negosiasi dan kecerdikannya berhasil menggantikan Nobunaga. Sejak menggantikan Nobunaga, Hideyoshi membangun Osaka Castle yang besar, indah dan kuat terhadap serangan lawan.  Ironisnya, di Osaka Castle pula  Hideyoshi meninggal karena sakit dan akhir dari klan Toyotomi yang habis dibantai oleh Tokugawa Ieyasu. Pada akhirnya, Ieyasulah yang memetik keuntungan dari upaya Nobunaga dan Hideyoshi dalam unifikasi Jepang dan mengukuhkan era Shogun Tokugawa.

Si Muka Monyet

Yang paling menarik dari Hideyoshi “si muka monyet” adalah bagaimana perjalanan karir Hideyoshi yang awalnya hanya seorang pembawa sandal Nobunaga bisa menjadi menjadi Kampaku, tangan kanan kaisar Jepang. Kalau bahasa anak sekarang, “from zero to hero“. Di masa itu kekaisaran Jepang hanya simbol.  Sebetulnya yang berkuasa adalah Kampaku, sampai terjadi Restorasi Meiji yang menghilangkan era Shogun Tokugawa.

Hideyoshi pun dikenal sebagai negosiator ulung. Gaya kepemimpinannya rendah hati dan persuasif. Dia tidak pernah menyangkal asal muasalnya yang anak petani, dan selalu merendahkan dirinya di hadapan samurai-samurai besar.  Dalam menghadapi persoalan Hideyoshi lebih mengedepankan negosiasi daripada kekuatan militer. Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana kemampuan negosiasi Hideyoshi. Alkisah Nobunaga ingin membangun Benteng Kiyoshu sebagai sarana pertahanan menghadapi klan Imagawa, namun pekerjaan ini sangat lambat karena pekerja mengalami demotivasi. Hideyoshi yang saat itu hanya mengurus dapur menghadap Nobunaga, menjanjikan pekerjaan bisa selesai dalam waktu tiga hari. Nobunaga merestui Hideyoshi sambil memberi ancaman apabila janjinya tidak terpenuhi.  Hideyoshi memakai pendekatan yang tidak biasa. Hari pertama dia gunakan untuk berpesta, dengan tujuan mengembalikan moral pekerja sambil mendekati pekerja untuk meyakinkan pentingnya pekerjaan ini selesai tepat waktu dan mengiming-imingi hadiah dari Nobunaga.  Seperti dijanjikan Hideyoshi, Benteng Kiyoshupun selesai dalam tiga hari, dengan satu hari digunakan untuk berpesta.

Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu adalah tiga tokoh penting dalam unifikasi Jepang dengan karakter yang berbeda-beda. Bahkan perbedaan karakter ini dibuat pantun singkat yang diajarkan ke anak-anak sekolah di Jepang, tentang bagaimana membuat seekor burung bernyanyi.

Nakanunara, koroshiteshimae, hototogisu (Jika burung tidak bernyanyi, bunuh)
Nakanunara, nakasetemiyou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, buat bernyanyi)
Nakanunara, nakumadematou, hototogisu (jika burung tidak bernyanyi, tunggu)

Baris pertama menggambarkan karakter Nobunaga yang keras, baris kedua menggambarkan karakter Hideyoshi yang persuasif, baris ketiga menggambarkan karakter Ieyasu yang sabar.

Dari ketiga tokoh besar Jepang, Hideyoshilah yang paling menarik perhatianku. pendekatannya yang tidak biasa, gaya kepemimpiannya yang humanis membuatku terinspirasi. Apalagi melihat latar belakangnya yang hanya petani dan pendidikannya yang tidak tinggi. Oleh karenenya, ketika teman posting foto Osaka Castle di Jepang, tetiba saya masuk ke ruang nostalgia, tiga belas tahun lalu, di dalam ruang kelas ketika saya kagum pertama kali pada si muka monyet Toyotomi Hideyoshi.

Damn I’m old.

Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.

Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

Bepergian ke negara dengan bahasa dan tulisan yang tidak  dikuasai memang  menantang, apalagi bila pergi ke daerah pedalaman suatu negara yang bahasa inggris bukan hal yang umum diketahui. Hal ini pernah aku alami waktu pergi ke Kota Hakodate di Pulau Hokkaido, Jepang, lokasi perang antara kekuatan shogun terakhir dengan tentara kaisar saat Restorasi Meiji. Tapi itu Jepang, di mana warganya relatif jujur  dan baik. Di Jepang, mantan pacar yang sekarang sudah jadi Istri belum pernah mengalami hal yang menjurus kriminal. Paling jelek yang dialami adalah celana dalamnya dicuri orang saat dijemur di luar. Dia bilang, di Jepang banyak pencuri celana dalam, dia mengaku ceroboh karena lupa memasukkan jemurannya ke dalam. Tindak kriminal yang aneh.

Di Jepang aku juga tidak perlu susah-susah belajar bahasa, karena mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri saat itu sudah hampir lima tahun belajar di Jepang. Walaupun mengaku bahasa Jepangnya buruk, namun aku percaya kalau dia pasti bisa berkomunikasi, kalau tidak pakai bahasa Jepang, ya minimal bahasa tubuh. Karena hobinya makan, kami tidak pernah kesulitan berkomunikasi dalam memilih makanan, dia sudah tau bagaimana memesan makanan, memilih makanan yang bukan babi, dan menanyakan harga. Tapi pernah juga sih kami kesulitan memilih menu di Izakaya di Hakodate, karena tidak bisa menyampaikan apa yang kami ingin, akhirnya kami malah dikasih satu ekor ikan goreng, padahal maksudnya kami ingin nyemil saja.

Dia juga bilang, di setiap stasiun di Jepang ada tourist center yang punya staff dengan kemampuan bahasa Inggris jadi tidak perlu kuatir kesulitan cari informasi dan jadwal kereta. Benar saja, ketika kami kesulitan menentukan jalur dan jadwal di Sapporo karena kami akan mampir di beberapa kota sebelum sampai ke Hakodate, petugas di tourist center sampai mencarikan jadwal kereta terdekat dengan harga termurah!

Semua hal yang aku sebutkan di atas tidak bisa didapatkan di Cina. Di Cina, orang-orangnya masih sering tipu-tipu. Contohnya, ketika kami baru tiba di airport dan mau ke pusat kota Beijing. Dari Capital Airport kami naik kereta Airport Express sampai ke Stasiun Dongzhimen dan kemudian rencananya mau naik taksi karena kami berdua bawa dua koper besar. Namun ketika kami mau naik taksi, si sopir gak mau pakai argo dan meminta 180 Yuan atau sekitar 360 Ribu, padahal saya tau hotel saya tidak terlampau jauh dari Dongzhimen. Terlalu sebel, kami memilih jalan yang sulit yaitu naik subway dan kemudian lanjut jalan kaki ke Hotel, saya berbicara ke diri sendiri. “Brace yourself you are in China“.

Nyari orang yang bisa bahasa inggrispun sulit, di Kota besar seperti Shanghai dan Beijing saja sulit, apalagi di daerah pedalaman. Di Shanghai, saat jalan-jalan, kami berdua melihat ada restoran berlambang ayam yang cukup ramai. Kami menduga ini restoran spesialis ayam dan tidak ada menu babinya. Kami coba masuk ke dalam dan menghampiri pelayannya. Selanjutnya yang terjadi adalah dagelan. Tidak ada satupun pelayan yang bisa berbahasa inggris, bahkan antar pelayan saling dorong untuk melayani kami. Menu bahasa inggrispun sepertinya terselip entah ke mana. Saya yang sebelumnya sudah mempersiapkan situasi seperti ini dengan belajar bahasa mandarin tiga kali seminggu via youtube juga terbukti tidak berguna. Pengucapan bahasa mandarin saya tidak bisa dimengerti oleh pelayannya. Saya frustasi, diapun frustasi. Untungnya tidak lama menu bahasa inggris ketemu dan  kamipun bisa memesan makanan.

Restoran Ayam di Shanghai

Restoran Ayam di Shanghai

Pengalaman seru lainnya adalah ketika kami mau check-in di Ruimin Business Hotel di Jiuzhaigou. Walaupun namanya Business Hotel, hotel ini benar-benar payah, kotor dan selama tiga hari kami di sana, kamar tidak pernah dibereskan. Ketika kami check in, saya lupa kalau pesen kamar dengan Booking.com, bayarnya belakangan. Saya yang merasa sudah bayar sulit mengungkapkan maksud saya, dia juga yang merasa tidak merasa menerima pembayaran juga tidak bisa mengungkapkan maksudnya. Untung saja ada tamu lain yang bisa berbahasa inggris yang menerangkan dan mengingatkan saya bahwa Booking.com bayarnya belakangan.  Kamipun meminta maaf dan bermaksud membayar dengan kartu kredit karena uang cash sudah menipis. Kemudian ada masalah lagi, ternyata mereka hanya menerima kartu kredit yang diterbitkan bank Cina, kartu kredit Visa tidak laku. Akhirnya kami membayar cash dengan kuatir karena uang cash kami sudah mepet sekali.

Pemandangan Depan Hotel

Pemandangan Depan Hotel

Beranjak dari pengalaman itu, saya akan memberikan saran bagi rekan-rekan yang mau pergi ke negara dengan bahasa dan tulisan yang asing, terutama apabila rekan mau ke Cina.

  1. Apabila tidak mau ribet, saranku ikut saja travel dengan jadwal yang jelas. Selain harganya bisa lebih murah, rekan-rekan juga bisa terhindar dari hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, dengan ikut travel, interaksi dengan warga lokal akan sedikit sekali dan pengalaman travel yang lucu-lucu kemungkinan kecil dialami.
  2. Apabila memutuskan untuk pergi tanpa travel, belajarlah bahasa mandarin walaupun sedikit. Paling tidak rekan traveler tau bagaimana bertanya menu makanan (sangat berguna kalau anda muslim), bertanya harga, bertanya toilet di mana, dan bertanya lokasi suatu tempat. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik karena silabelnya yang banyak. Sedikit saja salah pengucapan, orang-orang cina tidak akan mengerti yang diucapkan.
  3. Cina tidaklah murah. Oleh karena itu persiapkanlah uang cash secukupnya, terutama apabila rekan mau pergi ke daerah pedalaman. Harga di daerah wisata bisa dua sampai tiga kali lipat harga normal.
  4. Bersikaplah hati-hati dan tegas. Orang Cina adalah orang-orang yang ngeyel. Apabila tidak tegas, terutama dalam antrian dan harga, bisa dikerjain. Bersikap polite tidak disarankan terutama dalam antrian, bersikaplah agresif.
  5. Siapkan tisu basah yang higienis. Orang Cina sama seperti orang Indonesia, senangnya ngeludah sembarangan, ngupil sembarangan dan tidak ada air di toiletnya. Brace yourself.

Orang Indonesia, seperti aku, kalau pergi ke luar negeri berharap melihat kondisi negara yang lebih baik dari Indonesia, seperti keteraturan dan kebersihan. Di Cina, keteraturan dan kebersihan seperti barang asing, hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Jadi kalau malas berurusan dengan hal-hal seperti saya sebutkan, jangan pergi ke Cina, pergi saja ke Korea atau Jepang yang lebih teratur dan bersih.

Tapi menurutku, pergi ke Cina seperti pulang kampung ke Indonesia. Apabila rekan sudah biasa sama keadaan di Indonesia, di mana toiletnya gak bersih-bersih amat dan orangnya sedikit nakal. Saya percaya rekan akan bisa survive di Cina. Dan ketika sudah terbiasa, rekan akan bisa menikmati Cina yang menurutku sangat-sangat indah dan memiliki sejarah panjang yang menarik.  Rekan akan menemukan bahwa Cina adalah negara yang unik, dan tentu saja menemukan bahwa pendapat orang-orang tidak sepenuhnya benar tentang Cina.