Tag Archives: CIna

2014

Masa lalu biarlah masa lalu
-Inul Daratista

Tempus fugit, time flies, 2014 telah berlalu dan sudah 10 hari sudah jejak kita terlewat di tahun 2015. Aslinya aku mau mengeluarkan tulisan ini tepat sebelum tahun baru. Namun apa boleh buat, aku yang saat malam tahun baru ada di Bandung rasanya berat sekali untuk membuka laptop dan mulai menulis. Apalagi udara dingin dan memang udara di dago atas mengajak siapapun untuk bermalas-malasan.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2014, mungkin yang paling seru adalah pemilu tahun 2014 yang benar-benar keras, penuh fitnah, dan yang terparah, menjadikan penduduk Indonesia terbelah, aku dan kamu, dia dan mereka. Bahkan sampai saat ini, Jokowers atau Prabowers masih saling meledek, saling bully dan saling mencari-cari kesalahan orang lain.

Tahun 2014 kita juga menyaksikan dengan pahit, Brazil negara dengan sejarah sepakbola yang panjang, yang terkenal dengan Jogo Bonito, remuk redam 1-7 oleh Der Panzer Jerman. Aku yang fans Brazil sampai harus mematikan televisi karena tidak tega melihat Brazil dibantai Jerman.

Pada tahun 2014 kita bisa menaruh harapan kepada demokrasi. Kita melihat kemunculan pemimpin-pemimpin lokal yang super keren dan mengagumkan. Orang-orang seperti Tri Risma, Ahok, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah seperti menyeruak seperti bunga ditengah padang pasir. Selama ini politik dekat dengan hal-hal jorok dan kotor. Namun, dengan munculnya kepemimpinan lokal yang menginspirasi, kita bisa menaruh harapan ke proses politik yang kita jauhi dan kita benci itu.

Seperti biasa tiap tahun aku akan membuat kilas balik apa yang terjadi tahun 2014 dan apa harapanku di tahun 2015 mendatang. Tahun 2014 adalah tahun yang menantang. Tahun  ini aku menikah, namun juga hidup berjauh-jauhan dengan istri. Tahun ini juga merupakan tahun aku memulai bisnis pendidikan yang masih berjalan tertatih-tatih.

Highlight utama tahun 2014 adalah pernikahan pada bulan Maret 2014. Akhirnya setelah sepuluh tahun pacaran aku menikah juga. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi dengan hidupku setelah pernikahan. Enam bulan setelah menikah, istri masih tinggal di Jepang dan aku di Bontang. Bahkan setelah kembali ke Indonesia istri masih tinggal di Jakarta karena sudah kerja. Pada tahun 2014, kami berdua belum berhasil mendapatkan solusi dari kehidupan kami yang berjauh-jauhan.

Tahun 2014, aku sama sekali tidak membuat dive trip. Sedih sih, tapi ya itu konsekuensi dari menikah. Aku harus kompromi sambil ngompor-ngompori istri untuk ambil sertifikasi selam. Namun sebagai gantinya, aku dan istri membuat dua traveling trip, yaitu Bali untuk Bulan madu, dan Jepang Cina untuk merayakan kepulangan istri ke Indonesia. Bali seperti biasa tidak pernah mengecewakan, apalagi kami berdua menginap di Ayana yang mewah dan keren itu. Menginap di Ayana mengubah cara pandang kami tentang hotel mewah dan hospitality. Kami jadi sadar kalau bisnis hospitality adalah bisnis yang rumit dan harga memang berkaitan langsung dengan service yang memuaskan. Aku juga pergi menjemput istri ke Jepang dan berkunjung ke beberapa kota di Cina untuk menyaksikan pertumbuhan ekonomi di Cina yang tinggi. Cina tidak seperti yang orang-orang katakan. Memang di beberapa daerah pipis sembarangan dan meludah sembarangan sudah merupakan hal yang lazim, namun di sisi lain, Cina nampaknya berupaya untuk menggantikan Amerika sebagai kekuatan ekonomi dunia. Pertumbuhan kelas menengah yang amat besar mendorong konsumsi domestik Cina yang besar. Selain itu pertumbuhan kelas menengah juga melahirkan pelancong-pelancong asal Cina yang menginvasi seluruh dunia. Di belahan dunia manapun kita bisa melihat turis-turis asal Cina dengan ciri khas yang mirip; bergerombol, jorok, royal, tidak disiplin, berisik dan lack of empathy.

Hasil check up kesehatanku yang dilakukan bulan bulan Oktober tahun 2014  hasilnya buruk karena tingkat asam uratku tinggi 9.2 mg/dl. Asam urat adalah sisa metabolisme dari purin. Normalnya ginjal bisa asam urat ini, namun bila berlebih, ginjal tidak mampu mengeluarkan dan asam urat menumpuk dalam tubuh. Anehnya, aku tidak merasakan nyeri sendi atau apapun. Dokter kantor memberikan list makanan apa saja yang mengandung purin tinggi. Dari list tersebut, aku hanya boleh makan ikan. Sayurpun tidak boleh yang hijau, hanya boleh yang putih. Dan lucunya lagi, di internet aku menemukan rekomendasi bahwa pengidap asam urat harus banyak-banyak makan karbohidrat kompleks karena karbohidrat membantu mengeluarkan asam urat dari tubuh. Padahal aku sedang mengurangi konsumsi nasi karena kata seorang tabib Cina aku memiliki keturunan diabetes dan harus segera mengubah pola makanku.

Jumlah tulisan yang kupublish pada tahun 2014 ini juga tidak sesuai target, aku menargetkan 30 tulisan pada tahun 2014, namun yang berhasil publish hanya 22 tulisan, kurang dari dua tulisan setiap bulannya. Tidak ada alasan, aku hanya kurang fokus dan kebanyakan rencana.

Ekspektasi 2015

Fokus utamaku pada tahun 2015 adalah bagaimana mendapatkan solusi agar aku dan istri bisa hidup berdekatan. Mungkin aku yang pindah ke Jakarta, atau Istri yang pindah ke Bontang. Entahlah, tapi aku dan istri sedang sama-sama berusaha.

Selain itu, targetku tahun ini adalah mendorong istri untuk bisa sertifikasi selam sambil membuat dive trip bersama. Juga aku dan istri telah merencakan satu trip ke luar negeri pada tahun ini yang entah pada bulan berapa, tergantung rejeki yang kami terima.

Tahun 2015 aku juga harus lebih berani lagi masuk ke ranah bisnis. Tahun lalu Aku sudah memulai bisnis pendidikan, namun aku tidak terlibat langsung dan kontribusiku kecil. Tahun 2015 aku harus berani masuk dan memulai bisni & investasi entah di bidang properti, jasa, atau apapun yang bisa menghasilkan keuntungan.

Tahun 2015 aku menargetkan asam uratku turun dengan tidak menaikan kadar kolesterolku yang sudah bagus. aku akan meluangkan waktu untuk jogging dan berenang. Aku menargetkan setiap minggunya aku lari 10 km dan berenang 2 km.

Walaupun sejak tahun 2014 aku menargetkan bisa bahasa lain selain inggris dan indonesia, namun aku belum saja merealisasikannya. Aku memang sempat les bahasa perancis pada tahun lalu, namun aku tidak serius dan kurang motivasi. Aku malah lebih termotivasi belajar bahasa Cina ketika aku akan pergi ke Cina. Agaknya aku harus menseriusi bahasa Cina dan belajar bahasa Perancis lebih giat. Targetku tahun 2015 adalah meluangkan waktu satu jam setiap minggu untuk belajar bahasa.

Kelihatannya tahun 2015 tidak akan mudah. Aku memperkirakan akan ada keputusan besar yang dapat mengubah arah hidupku. Mudah-mudahan aku bisa menhadapi tahun 2015 dengan tidak kehilangan kemanusiaan dan kebahagiaan.

Tabique

Jiuzhaigou

Pecahan surga itu terserak di sebelah barat daya Cina, di daerah pegunungan Min Shan, 330 km sebelah utara Chengdu. Konon, 114 danau yang tersebar di sekitar wilayah Jiuzhaigou adalah pecahan cermin pemberian dewa Dage kepada Dewi Wonuosemo. Terlalu bersemangat, Wonousemo menjatuhkan cermin tersebut dari genggamannya dan pecah menjadi danau di Jiuzhaigou. Oktober lalu, kami mengunjungi pecahan surga tersebut. Pecahan surga tersebut dikemas dengan manajemen Ekoturisme yang sangat baik. Kapitalisasi pecahan surga itu mampu mengambil keuntungan dari pertumbuhan warga kelas menengah Cina yang haus liburan dan eksis di dunia maya.

Seperti daerah wisata lain, apapun yang ada di sekitaran taman nasional amit-amit mahalnya. Transport contohnya, karena kami tiba hampir malam, taksi yang harusnya Y 220 jadi Y 360 satu kali perjalanan. Shuttle bus yang dijanjikan di website hanya pepesan kosong, tak ada bus beroperasi sore hari.  Hotel busuk yang tidak dibersihkan yang aku tempati sama harganya dengan hotel bintang 3 di Shanghai. Jikalau mau tinggal di hotel berbintang macam Holiday Inn atau Intercontinental siap-siap saja merogoh kantong lebih dalam. Dan dari penelusuranku tidak ada harga in-beetwen, kita harus menerima either cheap and filthy atau expensive and fancy.

Jiuzhaigou di akhir Golden Week masih ramai. Grup turis Cina dengan pemimpin rombongan yang memegang bendera berteriak-teriak mengatur grupnya jadi pemandangan dominan di Jiuzhai. Sementara turis asing yang merupakan minoritas (seperti kami) sering terbelalak melihat harga makanan/souvenir yang luar biasa mahal. Menjelang musim gugur, beberapa cemara sudah mulai kemerahan, wangi daun gugur pun merebak, dan udara mulai dingin. Sayang kami terlalu cepat pergi ke Jiuzhai karena musim belum sampai puncaknya, karenanya warna warni dedaunan musim gugur tidak terlalu terlihat.

Idealnya Jiuzhaigou dijelajah minimal dua hari karena wilayah luas, danaunya yang banyak dan boardwalknya yang cakep banget. Harga tiket masuk Taman Nasional Jiuzhagihou barangkali adalah tiket taman nasional yang termahal di dunia. Tiket masuk ke Jiuzhai Y 310/orang/per hari. Aku dan istri bela-belain bayar mahal demi menikmati pengalaman baru jalan-jalan di Taman Nasional yang ramah kepada turis.

Jiuzhaigou

Jiuzhaigou

Okelah, karena harganya yang mahal dan lokasinya yang jauh akan kuberikan skenario terbaik bagaimana mengatur waktu di Jiuzhaigou agar tiket masuk seharga Rp 620.000/orang/hari itu tidak sia-sia. Skenario ini kubuat untuk dua hari di Jiuzhaigou.

Coba tengok peta di bawah ini, Jiuzhaigou Natural Park berbentuk seperti huruf Y dengan pintu masuk di dasar huruf Y tersebut. Angka satu dan dua yang kutulis di peta merupakan jalur hari pertama dan hari kedua. Lokasi yang kulingkari merupakan lokasi titik pertemuan dan lokasi  terminal bus. Jarak antar danau ada yang jauh dan ada yang dekat. Apabila mengejar waktu, naik bus paling cepat, namun apabila mau menikmati pecahan surga itu sampai ke pori-porinya, kamu bisa jalan di Boardwalk yang disediakan.

Peta Jiuzhaigou

Hari 1

Usahakan  bangun pagi dan datang sedini mungkin ke pintu masuk taman nasional. Kalau bisa jam 7 sudah di pintu gerbang. Di peak season, pintu masuk Taman bisa rusuh banget. Dari pintu gerbang kita akan digiring seperti sapi bersama kawanan besar turis-turis Cina untuk naik shuttle bus menuju Tourist Center.

Park Entrance

Hordes of Chinese

Namun di Peak Season, tak ada bus yang menuju Tourist Center. Kamu akan diturunkan di Shuzeng Valley, perkampungan besar Tibet. Dari sini, kita diharuskan jalan ke tourist Center untuk menentukan apakah mau ke Primeval Forest atau ke Long Lake.

Shuzeng Valley in the morning

Shuzeng Valley in the morning

Untuk hari pertama sebaiknya santai saja di Shuzeng Valley dan nikmati dengan berjalan kaki di Reed Lake, Shuzang Lake, Rhinoceros Lake sampai air terjun Nuo Ri Lang di sepanjang jalan menuju Tourist Center. Pagi hari, apalagi pada peak season orang ramai sekali di jalur ini. Tak usah diambil pusing.  Saranku, santai saja nikmati pemandangan sambil foto-foto. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati pemandangan dan antri foto ditengah kumpulan besar orang Cina. Ada dua jalur untuk menuju tourist center, pertama menyusuri boardwalk di sisi jalan, atau menyusuri boardwalk di seberang jalan. Saranku, saat berangkat pergi menyusuri jalan, dan baliknya menyusuri seberangnya.

Shu Zeng Falls

Shu Zeng Falls

Sesampainya di Tourist Center. Langsung ambil bus menuju Long lake. Jarak dari tourist center ke Long Lake cukup lumayan, sekitar 20 menit naik shuttle bus. Long lake berada pada ketinggian 3,100 m. Bila kamu seperti aku yang belum sempat aklimatisasi, maka pasti akan merasa pening, terhuyung-huyung dan lemas. Karena lokasinya yang tinggi, oksigen di udara tipis sehingga metabolisme anak pesisir seperti aku kaget, makanya lemas. Namun jangan kuatir pengalamanku ini hanya berlangsung sebentar, hanya beberapa jam. Setelah itu, kamu akan baik-baik saja.

Long Lake adalah danau terbesar, dan terdalam di seluruh danau yang ada di Jiuzhaigou. Latar belakang Long Lake adalah dua buah gunung yang tepinya bertemu, persis seperti gambar saat kita masih kanak-kanak. Tidak perlu kujelaskan, pemandangannya sangat cantik.

Long Lake Jiuzhaigou

Long Lake Jiuzhaigou

Setelah Long Lake berjalan kakilah sedikit menuju Five Colour Pond. Tidak seperti namanya, aku cuma lihat satu warna di Five Colour Pond ini, yaitu biru yang jernih. Sumpah ini adalah danau terjernih yang pernah kulihat. Apalagi saat kami ke sana cuaca sedang cerah, makin kinclong aja itu warna danau. Konon danau ini tempat dewi Semo mencuci rambutnya, warna danau itu dari lunturan wajah Dewi Semo.

Five Colour Pond

Lepas dari Five Colour Pond hari biasanya matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar. Ada beberapa pilihan, untuk rekan yang gak mau mengeluarkan uang untuk makan makanan yang kelewat mahal dan tidak enak di Restoran Nuo Ri Lang, bisa membeli bento instan yang ajaib.  Kenapa ajaib? karena bento ini cuma perlu air biasa untuk memanaskan. Aku tak mengerti prosesnya namun aku lihat banyak orang makan ini. Aku sampai penasaran di mana mereka dapat air panas, tapi setelah kutelisik, ternyata cuma air biasa yang dicampur semacam gel yang sudah ada di bento tersebut. Tapi untuk muslim harap hati-hati, kecuali kamu bisa bahasa mandarin, kita tidak pernah tahu apa isi bento tersebut.

Restoran Nuo Ri Lang

Lepas makan, turunlah ke Nuo Ri Lang dan kali ini terlusuri board walk dari seberang jalan, niscaya kamu akan melihat sudut pandang yang berbeda. Dan biasanya setelah makan siang, turis-turis Cina sudah kehabisan tenaga jadi jalan ini agak sepi. Ideal. Kamu bisa berjalan pelan-pelan sambil ngobrol, bercanda dan foto-foto.  Percayalah 4-5 jam berjalan di sepanjang danau ini sama sekali tidak kerasa. Hiking paling nikmat di Jiuzhaigou pada kondisi ini, sepi, pemandangan indah, dan bersama orang terkasih.

Duduk Duduk

Duduk Duduk

Berjalan seharian akan membuat lelah. Jam 17.00  bersiap-siaplah untuk pulang, simpan tenaga dan bekal untuk besok. Kesalahan kami di hari pertama adalah bekal cemilan yang kelewat sedikit sehingga kami sering iri melihat turis-turis cina yang hobi makan itu sering sekali makan camilan.

Hari 2

Sama seperti hari pertama, datanglah lebih pagi dan jangan lupa bawa camilan lengkap kemudian langsung  menuju ke shuttle bus dan bergegas jalan menuju tourist station dari Shuzeng Valley.

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Suasana di Terminal Shuttle Bus

Primeval Forest berada pada ketinggian 2930 m dpl. Menurut penelitian, kandungan ion negatif di hutan ini lebih tinggi dari daerah lainnya. ion negatif membuat kita merasa lebih tenang, mengurangi stress dan meningkatkan energi. Buatku keberadaan negatif ion ini tidak mempengaruhi stressnya aku menghitung pengeluaran dan melihat isi dompet di hari-hari terakhir di Cina.

High Negative Ion Forest

High Negative Ion Forest

Dari Primeval forest kita harus naik bus menuju ke grass lake karena jauh. Grass lake, swan lake dan arrow bamboo lake adalah danau kesukaan istriku karena ada rerumputan yang tumbuh di tengah danau ini.

Arrow Bamboo Lake

Arrow Bamboo Lake

Grass lake

Grass lake

Jalan di jalur dua ini sama sekali tidak terasa karena jarak antar danau tidak terlalu jauh dan jalan setapak yang disediakan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik. Tanpa sadar, tau-tau matahari sudah tinggi dan perut sudah lapar saja. Kami yang rencananya mau makan di restoran tidak jadi karena waktu tiba-tiba sudah jam 14.00, akhirnya kami makan camilan saja. Aku sarankan rekan melakukan hal yang sama dengan membawa mi instan, roti atau camilan.

Stunning View

Stunning View

Naracap

Naracap

Dari semua hal yang kami lihat di Jiuzhaigou, yang paling gila adalah Pearl Shoals yaitu boardwalk di area dangkal berarus deras sebelum masuk ke air terjun. Niat banget pengelola kawasan ini dalam membangun infrasturktur. Pantas saja harganya mahal. Aku dan istri benar-benar kagum dengan area Pearl Shoals ini. Ujungnya Pearl Shoals adalah air terjun terbesar yang menjadi icon Jiuzhaigou, yaitu Pearl Shoals Waterfall.

Pearl Shoals

Pearl Shoals

To The Waterfall

To The Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Pearl Shoals Waterfall

Jiuzhaigou telah membawa Taman Nasional ke level baru. Lokasinya yang mudah diakses, boardwalk sepanjang 70 km memudahkan turis dalam mengakses keindahan pecahan surga ini. Yang paling mengagumkan adalah cara manajemen taman nasional ini dalam membuat turis-turis lokal cina disiplin tidak merokok dan membuang sampah sembarangan. Aku sudah cukup melihat bagaimana perilaku turis Cina yang menyebalkan dan tidak tau aturan. Tapi di Jiuzhaigou manajemen mampu menerapkan disiplin yang ketat kepada turis-turis Cina.

Kalau kamu ke Cina, aku kira kamu tak boleh melewatkan Pecahan surga ini. Kamu bisa melihat contoh ekoturisme yang sempurna. Kamu bisa melihat bahwa upaya yang sungguh-sungguh dalam mengelola sumber daya alam bisa memberikan keuntungan kepada alam itu sendiri (terjaga) dan penduduk lokal yang tinggal di dalamnya.

Shanghai

Shanghai & Beijing secara berurutan adalah dua kota terbesar di Cina. Cina seperti kita tau adalah kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di Dunia setelah Amerika Serikat. GDP atau Pendapatan Domestik Bruto mencapai US$9.5 trilyun.  Indonesia berada di urutan 16 dengan GDP/PDB sekitar US$ 870 milyar. Pertumbuhan ekonomi Cina pada tahun 2013 sebesar 7.4 %, sementara Indonesia 5.3%. Pertumbuhan ekonomi yang pesat melahirkan jumlah warga kelas menengah yang cukup besar, diperkirakan warga kelas menengah Cina mencapai 300 juta orang, lebih banyak dari jumlah orang Indonesia.  Jumlah kelas menengah yang besar menimbulkan permintaan yang besar terhadap barang-barang mewah seperti butik-butik bermerek dan mobil mahal. Butik-butik mewah, bahkan yang menurut Istriku bukan butik populer seperti Valentino bisa sangat besar di Cina. Mobil-mobil seperti Range Rover, VW, BMW, Porsche sangat umum terlihat di jalan raya di Shanghai dan Beijing. Sepertinya warga kelas menengah Cina menjadikan Amerika sebagai kiblat,  mereka suka baju bermerk, rumah mewah dan mobil berCC besar.

430 km/h on Maglev

430 km/h on Maglev

Di Shanghai, kami menginap di Baron Business Hotel, dekat Bund yang merupakan etalase ekonomi Cina yang berjaya. Arsitektur dan tata kotanya  yang menyerupai Eropa merupakan warisan dari penguasaan Inggris atas Cina saat perang opium yang menjadikan Shanghai pusat perdagangan antara Asia dan Eropa. Menguatnya ekonomi di Shanghai, yang menjadi pusat finansial di Cina, disimbolkan dengan “Bund Bull“,  patung banteng  yang menandakan agresivitas kekuatan finansial Cina. Patung serupa  juga ada di Wall Street. Walaupun sistem politik Cina komunis, namun sistem perekonomiannya tetap kapitalis. Agaknya Cina harus berterima kasih kepada  Deng Xioping yang menerapkan reformasi ekonomi di akhir tahun 1970an. Cina yang diakhir kepemimpinan Mao Zedong sangat miskin, perlahan-lahan menjadi raksasa ekonomi dunia.

Hordes of Chinese

Hordes of Chinese

Salah satu ciri warga kelas menengah adalah hasratnya untuk traveling. Jumlah kelas menengah yang besar terlihat di Shanghai saat hari libur nasional Cina atau “Golden Week“. Golden Week dimulai dari tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari berdirinya Republik Rakyat Cina, berlangsung selama tujuh hari. Seluruh kawasan wisata seperti, Bund, Nanjing Road, Pudong, Xintiadi, Tianzifang penuh oleh lautan turis yang didominasi oleh turis lokal. Kami yang sudah kepalang membeli tiket sightseeing bus yang cukup mahal, 80 Yuan/orang, sering tidak kebagian tempat duduk bahkan kesulitan mencari bus. Alhasil kami lebih banyak naik taksi karena jalur subway pada National Day banyak yang tutup.

Pudong View from The Bund

Pudong View from The Bund

Kamu pernah melihat foto iconic Shanghai yang menampilan Gedung-gedung dengan arsitektur unik dan megah? Foto iconic Shanghai tersebut diambil dari Bund di sebelah barat Sungai Huangpu mengarah ke Pudong. Pudong adalah distrik di sebelah timur Sungai Huangpu tempat berdirinya gedung-gedung terkenal seperti Oriental Pearl Tower, Jin Mao, Shanghai World Financial Center, dan Shanghai Tower yang masih dalam pembangunan. Belum sah ke Shanghai  kalau kamu belum ambil foto Pudong dari Bund.

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar

Flair Rooftop Bar, yang menurut beberapa review merupakan Best Rooftop bar, berada di Puncak Hotel Ritz Carlton di daerah Pudong. Nongkrong di Flair ada minimum chargenya. Apabila duduk di luar, per orang minimal menghabiskan 450 Yuan, atau sekitar Rp 900.000. Duduk di dalam minimum chargenya 350 Yuan atau sekitar Rp 700.000. Pilihan termurah adalah duduk di bar, tanpa minimum charge. In my opinion, the food and drink here sucks! Even the cocktail was very bad. Namun hal itu bisa ditutup oleh pemandangan dari Flair yang super keren. Persis di depan Flair ada Oriental Pearl Tower kemudian kamu bisa melihat Sungai Huangpu dan Bund dari Rooftop. Saranku, pikir-pikir lagi kalau mau duduk di luar, apalagi saat musim gugur atau musim dingin. Duduk di luar bisa dingin banget walaupun sudah dikasih selimut gratis.

Salah satu kegiatan menarik di Shanghai yaitu nonton sirkus ERA di Shanghai Circus World. Cina terkenal dengan para akrobatnya yang lincah, luwes, tapi kuat. Kita bisa lihat kekuatan gymnastic Cina di Olimpiade. Di cabang olahraga senam, nyaris semua nomor dikuasai oleh Cina. Paling murah nonton sirkus era sekitar 140 Yuan atau Rp 240.000. Kursinya mirip dengan kursi di Teater Taman Ismail Marzuki, agak sempit untuk saya. Satu show dibagi menjadi beberapa segmen dengan berbagai tema. Yang paling seru waktu melihat ada 10 sepeda motor masuk ke dalam satu bola dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Timing menjadi sangat penting ketika ada 10 sepeda motor masuk dan melingkari bola dengan jalur yang saling bersinggungan. Satu saja sepeda motor salah timing, bisa dipastikan semua celaka. Aku membayangkan, latihan macam apa yang mereka lakukan sehingga bisa memperhitungkan waktu dan kecepatan dengan detail.

Huai Hai Park

Huai Hai Park

Menurutku yang menarik dari Shanghai adalah banyaknya Taman di tengah Kota. Taman-taman ini sudah seperti neighbourhood, tempat orang Shanghai berinteraksi. Kita bisa melihat warga Shanghai yang bermain judi, senam, fitness, bahkan ada yang menawarkan jasa pijat. Salah satu taman yang aku kunjungi di Shanghai adalah Taman Huahai. Tidak terlalu istimewa sebetulnya, tapi aku suka Taman yang homy, ramah, dan banyak aktivitas di dalamnya. Aku  ingin sekali ngobrol-ngobrol dengan orang yang sedang beraktivitas di sana, pingin tau dari mana asalnya, di mana tinggalnya, kenapa mayoritas adalah usia paruh baya, ke mana anak-anak mudanya nongkrong. Tapi mengingat bahasa mandarinku amat buruk, akhirnya aku cuma melihat-lihat saja.

Betapapun megah dan majunya ekonomi di Shanghai, perilaku berkendara anak-anak Shanghai, dan di Cina keseluruhan amat liar. Bus-bus besar seenaknya saja ngebut, tidak ingat bodinya yang besar. Taksi yang kami tumpangi ngebut dan nerabas lampu merah. Orang Cina amat gemar membunyikan klakson, mereka menggunakan klakson secara optimal, sedikit-sedikit klakson. Menyebrang jalan di Shanghai bisa sangat berbahaya, dan galakan sopir daripada pejalan kaki, kami beberapa kali melihat pejalan kaki dimaki oleh sopir, padahal jelas sopir yang salah. Situasi ini mirip dengan di Medan dan kayaknya lebih parah dari Medan.

Mengunjungi Shanghai kamu menjadi saksi betapa besar skala ekonomi Cina. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang kelewat tinggi, butik-butik mewah yang selalu ramai, mobil mewah yang berkeliaran, Mungkin hanya di Cina kita bisa melihat pertumbuhan warga kelas menengah yang luar biasa masif. Seorang pebisnis Taiwan, memiliki ungkapan yang bagus tentang bagaimana mengukur skala ekonomi Cina. Dia bilang: “Any number divided by 1.3 Billion is a small number. Any number multiplied by 1.3 billion is a big“.

He is damn right.

Tips Pergi Ke Cina Secara Mandiri

Bepergian ke negara dengan bahasa dan tulisan yang tidak  dikuasai memang  menantang, apalagi bila pergi ke daerah pedalaman suatu negara yang bahasa inggris bukan hal yang umum diketahui. Hal ini pernah aku alami waktu pergi ke Kota Hakodate di Pulau Hokkaido, Jepang, lokasi perang antara kekuatan shogun terakhir dengan tentara kaisar saat Restorasi Meiji. Tapi itu Jepang, di mana warganya relatif jujur  dan baik. Di Jepang, mantan pacar yang sekarang sudah jadi Istri belum pernah mengalami hal yang menjurus kriminal. Paling jelek yang dialami adalah celana dalamnya dicuri orang saat dijemur di luar. Dia bilang, di Jepang banyak pencuri celana dalam, dia mengaku ceroboh karena lupa memasukkan jemurannya ke dalam. Tindak kriminal yang aneh.

Di Jepang aku juga tidak perlu susah-susah belajar bahasa, karena mantan pacar yang sekarang sudah jadi istri saat itu sudah hampir lima tahun belajar di Jepang. Walaupun mengaku bahasa Jepangnya buruk, namun aku percaya kalau dia pasti bisa berkomunikasi, kalau tidak pakai bahasa Jepang, ya minimal bahasa tubuh. Karena hobinya makan, kami tidak pernah kesulitan berkomunikasi dalam memilih makanan, dia sudah tau bagaimana memesan makanan, memilih makanan yang bukan babi, dan menanyakan harga. Tapi pernah juga sih kami kesulitan memilih menu di Izakaya di Hakodate, karena tidak bisa menyampaikan apa yang kami ingin, akhirnya kami malah dikasih satu ekor ikan goreng, padahal maksudnya kami ingin nyemil saja.

Dia juga bilang, di setiap stasiun di Jepang ada tourist center yang punya staff dengan kemampuan bahasa Inggris jadi tidak perlu kuatir kesulitan cari informasi dan jadwal kereta. Benar saja, ketika kami kesulitan menentukan jalur dan jadwal di Sapporo karena kami akan mampir di beberapa kota sebelum sampai ke Hakodate, petugas di tourist center sampai mencarikan jadwal kereta terdekat dengan harga termurah!

Semua hal yang aku sebutkan di atas tidak bisa didapatkan di Cina. Di Cina, orang-orangnya masih sering tipu-tipu. Contohnya, ketika kami baru tiba di airport dan mau ke pusat kota Beijing. Dari Capital Airport kami naik kereta Airport Express sampai ke Stasiun Dongzhimen dan kemudian rencananya mau naik taksi karena kami berdua bawa dua koper besar. Namun ketika kami mau naik taksi, si sopir gak mau pakai argo dan meminta 180 Yuan atau sekitar 360 Ribu, padahal saya tau hotel saya tidak terlampau jauh dari Dongzhimen. Terlalu sebel, kami memilih jalan yang sulit yaitu naik subway dan kemudian lanjut jalan kaki ke Hotel, saya berbicara ke diri sendiri. “Brace yourself you are in China“.

Nyari orang yang bisa bahasa inggrispun sulit, di Kota besar seperti Shanghai dan Beijing saja sulit, apalagi di daerah pedalaman. Di Shanghai, saat jalan-jalan, kami berdua melihat ada restoran berlambang ayam yang cukup ramai. Kami menduga ini restoran spesialis ayam dan tidak ada menu babinya. Kami coba masuk ke dalam dan menghampiri pelayannya. Selanjutnya yang terjadi adalah dagelan. Tidak ada satupun pelayan yang bisa berbahasa inggris, bahkan antar pelayan saling dorong untuk melayani kami. Menu bahasa inggrispun sepertinya terselip entah ke mana. Saya yang sebelumnya sudah mempersiapkan situasi seperti ini dengan belajar bahasa mandarin tiga kali seminggu via youtube juga terbukti tidak berguna. Pengucapan bahasa mandarin saya tidak bisa dimengerti oleh pelayannya. Saya frustasi, diapun frustasi. Untungnya tidak lama menu bahasa inggris ketemu dan  kamipun bisa memesan makanan.

Restoran Ayam di Shanghai

Restoran Ayam di Shanghai

Pengalaman seru lainnya adalah ketika kami mau check-in di Ruimin Business Hotel di Jiuzhaigou. Walaupun namanya Business Hotel, hotel ini benar-benar payah, kotor dan selama tiga hari kami di sana, kamar tidak pernah dibereskan. Ketika kami check in, saya lupa kalau pesen kamar dengan Booking.com, bayarnya belakangan. Saya yang merasa sudah bayar sulit mengungkapkan maksud saya, dia juga yang merasa tidak merasa menerima pembayaran juga tidak bisa mengungkapkan maksudnya. Untung saja ada tamu lain yang bisa berbahasa inggris yang menerangkan dan mengingatkan saya bahwa Booking.com bayarnya belakangan.  Kamipun meminta maaf dan bermaksud membayar dengan kartu kredit karena uang cash sudah menipis. Kemudian ada masalah lagi, ternyata mereka hanya menerima kartu kredit yang diterbitkan bank Cina, kartu kredit Visa tidak laku. Akhirnya kami membayar cash dengan kuatir karena uang cash kami sudah mepet sekali.

Pemandangan Depan Hotel

Pemandangan Depan Hotel

Beranjak dari pengalaman itu, saya akan memberikan saran bagi rekan-rekan yang mau pergi ke negara dengan bahasa dan tulisan yang asing, terutama apabila rekan mau ke Cina.

  1. Apabila tidak mau ribet, saranku ikut saja travel dengan jadwal yang jelas. Selain harganya bisa lebih murah, rekan-rekan juga bisa terhindar dari hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, dengan ikut travel, interaksi dengan warga lokal akan sedikit sekali dan pengalaman travel yang lucu-lucu kemungkinan kecil dialami.
  2. Apabila memutuskan untuk pergi tanpa travel, belajarlah bahasa mandarin walaupun sedikit. Paling tidak rekan traveler tau bagaimana bertanya menu makanan (sangat berguna kalau anda muslim), bertanya harga, bertanya toilet di mana, dan bertanya lokasi suatu tempat. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik karena silabelnya yang banyak. Sedikit saja salah pengucapan, orang-orang cina tidak akan mengerti yang diucapkan.
  3. Cina tidaklah murah. Oleh karena itu persiapkanlah uang cash secukupnya, terutama apabila rekan mau pergi ke daerah pedalaman. Harga di daerah wisata bisa dua sampai tiga kali lipat harga normal.
  4. Bersikaplah hati-hati dan tegas. Orang Cina adalah orang-orang yang ngeyel. Apabila tidak tegas, terutama dalam antrian dan harga, bisa dikerjain. Bersikap polite tidak disarankan terutama dalam antrian, bersikaplah agresif.
  5. Siapkan tisu basah yang higienis. Orang Cina sama seperti orang Indonesia, senangnya ngeludah sembarangan, ngupil sembarangan dan tidak ada air di toiletnya. Brace yourself.

Orang Indonesia, seperti aku, kalau pergi ke luar negeri berharap melihat kondisi negara yang lebih baik dari Indonesia, seperti keteraturan dan kebersihan. Di Cina, keteraturan dan kebersihan seperti barang asing, hanya sedikit lebih baik dari Indonesia. Jadi kalau malas berurusan dengan hal-hal seperti saya sebutkan, jangan pergi ke Cina, pergi saja ke Korea atau Jepang yang lebih teratur dan bersih.

Tapi menurutku, pergi ke Cina seperti pulang kampung ke Indonesia. Apabila rekan sudah biasa sama keadaan di Indonesia, di mana toiletnya gak bersih-bersih amat dan orangnya sedikit nakal. Saya percaya rekan akan bisa survive di Cina. Dan ketika sudah terbiasa, rekan akan bisa menikmati Cina yang menurutku sangat-sangat indah dan memiliki sejarah panjang yang menarik.  Rekan akan menemukan bahwa Cina adalah negara yang unik, dan tentu saja menemukan bahwa pendapat orang-orang tidak sepenuhnya benar tentang Cina.