Tag Archives: dago atas

Dan Bandung

Tak terasa hampir tujuh tahun sejak aku meninggalkan Bandung untuk mencoba peruntunganku di Kota lain. Sejak tujuh tahun itu, kunjunganku ke Bandung bisa dihitung dengan jari. Kunjunganku akhir 2014 lalu aku melihat ternyata Bandung berlari lebih kencang dari yang kuperkirakan.  Berbagai hotel, cafe dan restoran tumbuh bak cendawan di sepanjang jalan dago. Dan yang paling kusesalkan, kawasan dago atas yang dahulu hijau, sekarang jadi kawasan perumahan mewah dengan apartemen bertingkat-tingkat yang asing.

Asing karena bangunan bertingkat berwarna biru itu arsitekturnya sangat tak cocok dengan landscape sekitarnya. Aku tak habis pikir kenapa bangunan asing itu dibiarkan berdiri di kawasan dago atas yang cantik. Dago Atas adalah kawasan perbukitan di utara Bandung yang bisa tembus sampai ke daerah Lembang. Sejak awal ke Bandung, aku senang nongkrong lama-lama di Dago Atas. Di kawasan itu, waktu seakan lumer dan berjalan lebih lambat, dan kita akan terbawa oleh suasananya yang santai. Apalagi orang tua pacar (sekarang jadi istri) beli sepetak tanah di kawasan PPR ITB dan bangun rumah dengan pemandangan cantik ke Taman Hutan Raya. Dulu, aku sering leyeh-leyeh di rumah istri sambil pacaran, mengerjakan tugas atau belajar sebelum ujian. Saat kembali ke rumah itu, aku tergetar melihat pemandangan Tahura yang semakin cantik saja.

Kayaknya dulu saat ngapel ke rumah istri di Bandung dengan intensitas yang lumayan sering aku tidak pernah setergetar ini melihat pemandangan Tahura dari halaman rumah istri. Entah kenapa, di penghujung 2014 lalu, aku duduk tergetar melihat dahsyatnya pemandangan Tahura.

Kunjungan akhir 2014 ke Bandung,  menjadi nostalgia kami saat pacaran dulu. Kami melakukan aktivitas yang dulu kami lakukan ketika masih pacaran; nonton DVD bareng, jalan pagi ke Dago Pakar, sarapan di Simpang Dago, sarapan di Rumah Joglo, dan bercanda seharian.  Kami tidak hanya pergi berdua saja, ayah dan ibu mertua juga berangkat ke Bandung.

Berbeda dengan kami yang tidak punya rencana yang jelas  untuk malam tahun baru dan tidak janjian dengan siapa-siapa. Ayah & Ibu mertua ada acara reuni di Hotel Sheraton. Karena ayah & Ibu mertua gak bawa mobil, mereka kami antarkan ke Hotel dan janjian akan dijemput lagi lepas tengah malam. Lucu sekali, harusnya kami yang berpesta sambil merayakan malam tahun baru dan mertua yang bersantai di rumah, tapi kebalikannya, kami yang bersantai di rumah dan mertua yang berpesta.

Rekan yang sudah pernah ke Bandung pasti tau, atmosfer Bandung berbeda sekali dengan Jakarta. Ada suasana santai, ramah, dan tidak intimidatif ketika memasuki Kota Bandung. Hal ini juga aku rasakan tahun 2002 ketika aku pertama kali turun dari Kereta Parahyangan di Stasiun Hall. Pertama kali menginjakan kaki di Bandung, aku langsung merasa “diterima” tanpa merasa dinilai. Sangat berbeda dengan di Jakarta. Kita yang baru tiba di Jakarta, pasti akan merasa berjarak dan merasa sedang di-“elu siapa”-in dan dinilai kepatutannya berada di Metropolitan ini.

Perasaan “diterima” itu mungkin yang membuat siapapun jatuh hati dengan Bandung. Mungkin karena itu pula anak-anak asli Bandung sulit sekali lepas dari Kota kembang. Beberapa kawanku saat kuliah dulu bahkan sudah memastikan dirinya tak akan pindah dari Bandung dan mencari kerja di Bandung. Aku bisa memahaminya, empat tahun saja di Bandung, sepotong hatiku sudah tertinggal di sana. Selalu ada rasa bahagia ketika aku mengunjungi Bandung.

Bahkan, ketika aku sudah di bekerja, dan cukup mapan rasanya indeks kebahagiaanku sekarang belum dapat menandingi saat aku mahasiswa rantau dan tak punya uang di Bandung. Waktu di Bandung, aku tak punya uang berlebih dan rasanya hidupku cukup menyenangkan. Ada saja kegiatan menyenangkan yang tak membutuhkan banyak uang untuk menjalaninya; main basket contohnya, atau birdwatching.

Walaupun aku lahir dan menghabiskan lebih dari setengah masa hidupku di Jakarta. Bandung, somehow, tak pernah lekang. Sudut-sudut jalannya, sejuk udaranya dan bau kotanya membuatku selalu kangen. Jika diminta menyebutkan kota-kota favoritku di dunia, Bandung berada di atas, lebih tinggi dari Jakarta dan Bontang.

Iklan