Tag Archives: gen Y

Don’t Follow Your Passion

Masih ingat commencement speech Steve Jobs di Stanford yang fenomenal itu? Kalau anda masih ingat, frasa stay hungry and stay foolish yang dilontarkan Jobs pada penutup speechnya adalah inspirasi utama Gen Y, termasuk saya.

Dalam speech itu, Jobs berpesan untuk bekerja sesuai dengan passion,  Katanya, potensi kita dapat keluar dengan maksimal kalau kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Alhasil, audiens Jobs, yang mayoritas Gen Y adalah generasi yang dibuai mimpi menemukan pekerjaan yang mereka cintai dan tentu karir yang spektakuler

Tidak ada yang salah dengan mimpi mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion dan karir yang spektakuler. Asik banget bila kita dibayar mengerjakan sesuatu yang kita suka, lihat saja Steve Jobs, sudah passion dapet, karirnya juga luar biasa. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa hidup Jobs tidak sesederhana itu dan Jobs juga bukan sosok yang simpatik.

Disitulah letak permasalahannya. Tidak banyak orang yang bakat dan passion dalam satu rel, dan saya rasa tidak banyak juga orang yang tau apa passionnya, contohnya saya. Sampai saat ini saya masih saja bertanya-tanya, apa passion saya

Saya jadi ingat film Megamind. Film animasi bikinan Dreamworks ini cukup menohok generasi Y. Dikisahkan Metro Man, pahlawan super dan Megamind, penjahat super terus menerus berseteru. Metro Man selalu berhasil membekuk Megamind, si penjahat super sehingga Metro Man dilanda kebosanan dan merasa tidak bahagia. Akhirnya pada satu pertarungan dengan Megamind yang melibatkan penculikan Roxanne, si wartawati cantik, Metro Man membuat skenario seolah-olah Megamind berhasil membunuhnya. Megamind, akhirnya berhasil menguasai  Metro City dan kejahatan merajalela.

Ternyata Metro Man tidak mati, dia bersembunyi di Istananya sambil mengejar passionnya, yaitu bermain musik. Metro Man, menurut saya adalah orang yang egois dan delusional. Dia memilih mengejar passionnya di saat  Metro City membutuhkannya hanya karena dia bosan dan tidak bahagia. Padahal, seperti kita tahu, dia sama sekali tidak berbakat bermusik.

Bila saya boleh menganalogikan, Gen Y adalah Metro Man, egois dan delusional. Bila bosan dan menemui masalah dalam pekerjaan, dia berdalih bahwa itu bukan passionnya dan segera berhenti bekerja. Padahal, ada pihak lain yang membutuhkan jasanya.

Gen Y dibesarkan dengan jargon-jargon seperti “you are special” dan “Follow your passion” Alhasil generasi ini egois dan lagi-lagi delusional, termasuk saya. Gen Y memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaannya. Karena merasa diri spesial, ia merasa dunia harus memperlakukannya dengan istimewa, sehingga ia amat manja dan menyebalkan. Gen Y juga mudah terintimidasi oleh rekan-rekannya yang lebih sukses, terima kasih kepada media sosial.

Saya akan angkat topi bagi rekan-rekan yang punya passion  sejalan dengan bakat. Namun untuk rekan yang belum menemukan passion, atau jika bakat dan passion tidak sejalan, saran saya tetaplah melakukan yang terbaik di tempat kerja, just believe that it will work out in time.  Dan rekans, ternyata ada yang lebih membahagiakan dari mengejar passion, yaitu ketika anda berguna bagi orang lain.

Iklan

Generasi X vs Y

Sehari sebelum long weekend, saya pulang agak terlambat dari kantor. Sebelum pulang, senior saya mengajak melihat kondisi kolam limbah untuk menampung limbah pada saat keadaan emergency. Sesampainya di sana, ternyata Pabrik Kaltim 2 yang sedang mengejar target mengirim limbah dengan debit sekitar 50 m3/jam. Atasan saya itu menelpon salah satu anak buahnya meminta lembur untuk mengontrol limbah cair agar tidak luber. Di luar dugaan, anak buahnya menolak lembur selama long weekend ini karena memiliki agenda lain.

Senior sayapun curhat tentang betapa susah menyuruh anak muda sekarang untuk lembur. “Padahal kerjanya santai, cuma tinggal pencet-pencet tombol saja, bayarannya besar lagi”, sambungnya. Beliau lantas bercerita lagi kalau di zaman Pabrik ini masih amburadul, lembur itu berarti kerja rodi yang kejam, ditambah lagi bayarannya yang tidak seberapa. Menurutnya, lembur di masa kini malah menguntungkan karena tidak perlu berkeringat sudah dapat uang yang banyak.

Senior saya itu merupakan bagian dari Generasi yang lahir pada tahun 1960an. Kita tahu, Indonesia tahun 1960an sangat sulit; pertarungan ideologi, pergantian tampuk kekuasaan yang tidak mulus, pembantaian PKI, dan keadaan ekonomi yang hancur-hancuran. Senior saya merupakan bagian dari generasi X. Berangkat dari segala situasi tersebut, gen X merupakan generasi yang menghargai loyalitas dan kerja keras untuk meniti tangga karir. Gen X merupakan generasi tahan banting yang terbukti bisa bertahan dalam situasi yang  buruk sekalipun.

Sementara itu anak buahnya, lahir di akhir tahun 1980an. Generasi yang lahir ketika perekonomian Indonesia tumbuh dengan mengesankan, harga minyak yang murah dan kondisi politik yang relatif stabil. Anak buahnya ini merupakan bagian dari generasi Y atau generasi milenial. Gen Y menganggap generasi sebelumnya (gen X) yang bekerja terlalu keras untuk sekedar mendapat kenaikan gaji dan menggapai posisi adalah sia-sia. Gen Y menginginkan hidup yang lebih bermakna daripada sekedar bekerja keras dan mencari nafkah. Gen Y memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaannya. Gen Y juga butuh pengakuan, mereka ingin dianggap “penting” bagi suatu organisasi, bukan hanya kerja “ecek-ecek”.

Perbedaan sudut pandang inilah yang sering terjadi. Gen X menganggap generasi Y pemalas, arogan, dan tidak loyal. Sedangkan gen Y menganggap seniornya itu membosankan, kaku, lebay loyalitasnya, dan kurang wawasan. Perbedaan ini berpotensi semakin meruncing karena Gen X sekarang berada pada pucuk-pucuk penting dalam suatu organisasi dan memimpin generasi yang memiliki pandangan yang amat berbeda. Terlebih lagi di PKT.

Pada tahun 2012, 66 % dari populasi karyawan PKT berusia >41 tahun, populasi terbesar kedua berusia 17 – 30 tahun yaitu 25%, sedangkan sisanya, 9% berusia 30 – 41 tahun. Gen X di PKT merupakan generasi dominan. Dominansi populasi juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan perusahaan. Ketika kebijakan perusahaan kurang bisa mengakomodir keinginan karyawan, turn-over menjadi meningkat. Rekan-rekan saya di angkatan 2009 sudah tiga orang yang mengundurkan diri. Tidak seperti tempat kerja lain, di PKT karyawan yang resign merupakan hal yang tidak lazim dan menghebohkan. Dengan fasilitas jor-joran dan remunerasi yang tinggi,  harusnya karyawan tidak akan berpaling ke tempat lain. Tapi, lagi-lagi, itu adalah sudut pandang gen X. Gen Y, seperti yang sudah saya sebutkan, menganggap masalah fasilitas dan remunerasi bukan hal yang utama, mereka ingin menjalani hidup lebih bermakna. Kalau gen X mendefinisikan sukses dengan posisi yang diraih, gen Y memaknai sukses ketika bisa meraih hal-hal yang penting secara personal.

Saya berpendapat, sudah saatnya perusahaan mengarahkan titik fokusnya ke gen Y.  Karena, generasi inilah yang nantinya akan menjadi tulang punggung perusahaan. Ketidakmampuan memahami dan mengakomodir kebutuhan gen Y ini, apalagi di Perusahaan yang dalam 10 tahun lebih dari 50% populasinya masuk ke usia pensiun bisa menjadi ancaman.